MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Senin, 30 Juli 2018

Beragam Rasa Menemani Ortu Berangkat Haji

Hasil gambar untuk ibadah haji
Foto : Google

Pergi ke tanah suci. Ada rasa tak biasa muncul ketika orang tua akan pergi ke tanah suci beberapa hari yang lalu. Alhamdulillah jadwal keberangkatan Ibu Bapak dan Mamah hanya berselang 2 hari. Banyak rasa yang hadir silih berganti sampai rasa rasa yang bersamaan hadir tanpa permisi. Rasa cemas, takut, tegang, bahagia dan sejuta pikiran negatif setelahnya. Ada beberapa pertanyaan yang sulit aku kelola didalam diri, seperti pertanyaan "Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengan mereka kembali?" dan "Bagaimana jika mereka sakit?" atau "Bagaimana jika mereka tidak diperlakukan dengan baik disana? secara fasilitas dan lingkungan?" lalu "Siapa yang akan membela?" Dan bagaimana jika....yang lainnya. Kekhawatiran yang berlebih yang belum tentu terjadi. Apakah wajar seorang anak memiliki kekhawatiran yang demikian terhadap orangtuanya yang akan berangkat haji?

Selama aku hidup, aku jarang sekali membiarkan orangtua ku pergi jauh seorang diri atau tanpa diantar. Ya, kecuali Mamah yang memang sering pergi dinas dari kantornya ke luar kota. Waktu kemarin nge-trip bareng orangtua ke Bali aja, aku heboh banget prepare sebelum perjalanan. Dimana semua hal harus tersusun dan terencana dengan rapih serta detail. Dari jam pesawat landing dan take off, destinasi yang cocok untuk orang tua, itinerary yang engga mepet, pilihan hotel bahkan makanan yang akan dimakan. Rasanya kaya jadi orang pertama yang akan bertanggung jawab gitu atas puas/tidaknya mereka selama ngetrip. Mau tau ke-riweuhan campur aduk dengan keseruan selama nge-trip di Bali? Coba baca tulisannya disini.

Tapi dari semua perasaan yang muncul, terlintas pikiran bahwa aku tidak boleh egois. Mereka (orangtua ku) datang ke tanah suci atas undangan Allah. Untuk beribadah, untuk menetapkan rukun islam yang terakhir dan untuk makin mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Tidak semua atau bahkan sembarangan orang bisa kesana. Rasanya aku egois sekali dan tidak percaya sama kebesaran-Nya kalo terus menerus memiliki rasa khawatir yang berlebih. Belum lagi, semua yang aku miliki bahkan orang yang aku sayang sekalipun (baca:  orangtua) itu kepunyaan Allah. Diri ini,  raga ini, segala pencapaian di dunia ini, perasaan ini dan semuanya punya Allah. Allah  yang atur sedemikian rupa. Dan semua terjadi atas kehendak-Nya. Dalam situasi ini aku belajar untuk ikhlas. Ikhlas apapun yang akan terjadi disana. Sudah pasti calon jemaah haji memiliki tingkat ikhlas yang harusnya lebih tinggi dibandingkan keluarga yang ditinggalakan. Bagaimana calon jemaah haji bisa fokus beribadah di tanah suci. Tanpa memikirkan keluarga dan harta yang ditinggalkan, status sosial, kedudukan di pekerjaan dan urusan urusan duniawai lainnya. Ibadah haji bisa dikatakan sebagai perjalanan spiritual seseorang terhadap Tuhan Nya.

Rasa khawatir itu lama kelamaan pergi tanpa permisi. Aku pun bisa memandang lebih positif dalam kejadian ini. Seperti buku yang pernah aku baca, ternyata rasa itu hadir didalam hati bisa untuk menetap lama atau bahkan pergi sesuka hati. Dan itu semua tergantung otak atau diri kita sendiri bagaimana mengelolanya. Semoga semua dari diri ini bisa terus belajar peka terhadap rasa dan juga bisa ikhlas dalam setiap kondisi. Doakan juga orangtua ku disana diberi kesehatan lahir batin dalam melaksakan ibadah serta pulang ke Indonesia dalam keadaan sehat dan menjadi Haji Mabrur. Aamiin Allahumma Aamiin. Tidak lupa, semoga siapa yang memebaca blog ini serta aku secara pribadai, suatu hari bisa mengunjungi rumah Allah di tanah suci sana. Mengupgarde imam didalam diri yang sudah makin mengendor.

Semoga menginspirasi!

Jakarta, 30 Juli 2018
(tepat satu minggu setelah keberangkatan orangtua ke Haji)



Read More

Senin, 09 Juli 2018

Belajar di Jalanan Jakarta (Part 1)


joe le taxi II by Xax, via Flickr
foto : pinterest

Jadi, awalnya gini. Saat itu aku baru saja pulang dari kantor, didalam perjalanan menuju kosan kadang otak aku melayang kesana kemari sambil mengamati apa yang sedang terjadi. Jalanan di Jakarta cukup ramai, maklum jam pulang kerja. Lampu merah seolah tidak ada fungsinya, karena meski sudah lampu hijau toh kendaraan tidak bergerak sama sekali saking macetnya didepan. Semerawut! 

Biasanya setiap mau ambil kiri ada tulisan "belok kiri langsung" (meskipun ga semua ya). Nah bagi pengendara yang terjebak macet lalu memang akan belok kiri, rasanya seperti ada sedikit angin surga karena tidak perlu masuk dalam 'kepelikan' kemacetan didepannya, toh emang tujuannya ada di sebelah kiri. Alih alih sedikit angin surga, tapi tidak lama setelah belok kiri (sekitar 10 meter) kendaraan kembali diam. Suara klakson berbunyi bergantian. Saat lihat kedepan, jalanan kosong. Jadi apakah yang buat macet? 

Ternyata jalanan yang tidak begitu besar ini (hanya bisa dilewati 2 mobil secara bersamaan) macet gara gara ada beberapa mobil yang sedang antri akan belok ke kanan. Lalu yang sebelah kirinya? Tepat di sebelahnya (percis di sebelahnya) ada angkot yang sedang ngetem menunggu penumpang. Yang aku lihat baik di sebrang atau dimana (di sekitar angkot) tidak ada calon penumpang yang mau nyebrang untuk naik angkot atau sedang jalan menghampiri angkot. Lalu sedang apa angkot itu berdiam diri di jalanan? Pastinya bukan hanya menunggu penumpang yang sudah ada, tapi menunggu penumpang yang entah ada atau tidak. Antara jalan dan trotoar ada batas agak tinggi, sehingga angkot tersebut ngetem menggunakan bahu jalan, iya bahu jalan yang dipakai pengendara.

Rasa heran pun menghampiriku. Apakah sang supir tidak mendengar suara klakson yang terus bergantian berbunyi? Apakah sang supir tidak sadar bahwa klakson tersebut berbunyi ditujukan padanya? Apakah sang supir tidak merasa bahwa akibat 'keegoisan' nya menggunakan bahu jalan untuk menunggu penumpang (yang tidak pasti) itu merugikan banyak orang. Iya, merugikan banyak pengendara di belakangnya. Yang masing masing punya alasan untuk segera tiba dirumah, berkumpul bersama keluarga. Atau sekedar memenuhi janji datang tepat waktu bertemu teman atau kolega. Yang lebih parahnya lagi, jika ada ambulance yang memang membawa seseorang menuju UGD untuk mendapatkan pengobatan. Seseorang yang sedang berjuang diantara hidup dan matinya didalam ambulance di kemacetan Jakarta. 

Timbul pertanyaan didalam diri. Apakah kebanyakan orang di Ibukota ini mati rasa terhadap keadaan sekitar? Mati rasa ikut peduli terhadap keadaan/prioritas orang lain? Apakah semua sibuk dengan pencapaian masing masing sampai lupa atau bahkan tidak peduli, usaha yang sedang dilakukan itu merugikan orang lain? Apa yang dibanggakan bila berhasil naik keatas tapi selama proses itu menyakiti, mendzalimi, melukai hati bahkan merugikan orang lain?

Aku tau, mungkin sang supir angkot tersebut lebih bersusah payah untuk mencari nafkah di Ibukota. Lebih banyak pengorbanannya dibanding aku si anak kantoran. Lebih banyak tanggungan hidupnya. Lebih banyak capenya dengan hasil yang entah cukup atau tidak. 

Bukan hanya tentang cerita supir angkot ini. Tapi bagaimana kita atau orang orang memandang hidup. Bisakah semua itu terjadi dalam keadaan peka rasa. Peka rasa pada sekitar. Peka rasa pada perasaan orang lain. Peka rasa apa yang sedang dilakukan sedikit banyak berpengaruh pada hidup orang lain. Peka rasa bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian diri, yang suatu hari bisa hancur berkeping keping seketika atas kuasa-Nya. Memang ingin hidup untuk bermanfaat adalah impian jutaan orang. Tapi jangan sampai lupa, setidaknya hari ini kita hidup tidak merugikan orang lain.



Selamat menyelami!

Jakarta, 09 Juli 2018

Read More

Sabtu, 16 Juni 2018

Macet (Mudik) yang Ber-Meaning #Alhamdulillah

Image result for macet mudik kartun
foto : google
Macet. 

Apa yang kamu bayangin kalo denger kata itu? Bete, kesel, marah ngabisin waktu, panas, telat, rencana gagal dan lain-lain. Kali ini aku mau cerita pengalaman 'kena macet' saat mudik. Hari Lebaran pertama, seperti biasa aku dan keluarga (Ibu, Bapak Bogor) mudik ke Bandung. Nah sebelum berangkat, kita memilih akan lewat jalan mana menuju Bandung. Sukabumi apa Puncak? Lalu kita decide untuk lewat Puncak. Ternyata oh ternyata dalam perjalanan itu, jalanan dari Gadog-Puncak macetnya luar biasa. Aku pun menghabiskan waktu dengan bengong di jendela mobil dengan pikiran yang melayang kesana kemari sampe bertemu pemikiran ini "Eh macet tuh udah kaya hidup ya? Kaya menjalani hidup gitu, ketika lo udah decide lewat mana, terus ada hambatan (macet) sebelum mencapai tujuan. Reaksi lo mau gimana?" 

Hayooo respon kalian mau gimana? Marah atau kesel atau malah enjoy aja menikmati si macet karena ga mungkin itu mobil balik lagi, depan, belakang, samping sama macetnya. Hmm kesel udah pasti sih, marah juga iya. Tapi pas lagi didalem mobil terus tau jalanan didepan mata macet panjang ya mau gimana? mau marah marah ke pak polisi yang sedang bertugas sambil teriak-teriak juga ga menyelesaikan masalah. Atau mau memaki segala hal dengan tanpa objek alias marah marah sendiri? selain menghabiskan energi ya nantinya bakal cape sendiri. Mau gimana juga itu jalanan macet mesti dilewati. Dan ga ada yang berubah, mau kita marah marah sambil memaki bahkan teriak teriak di jalanan.

Nah sama kan kaya hidup? Ketika udah punya tujuan, lalu memutuskan lewat jalan mana ternyata ditengah jalan ada hambatan. Responnya ya gausah marah, toh tetep ga ada yang berubah karena Tuhan sedang berkuasa saat itu. Apalagi merespon sambil menyalahkan diri sendiri karena merasa salah ambil keputusan. Mau balik lagi? Inget buang buang waktu ga harus mulai lagi dari awal. Atau terus maju kedepan pelan pelan. Aktifkan panca indera lebih peka untuk lihat sekitar. Cari peluang/kesempatan jalan lain yang (mungkin) minim hambatan? semua bisa dipilih dan tidak ada jalan yang paling benar. Semua jalan atau keputusan yang diambil bisa jadi keputusan terbaik untuk diri masing masing. Tidak ada yang paling benar atau yang paling salah. Yang ada hanya kesempatan untuk belajar dan koreksi diri.

Ternyata hidup ini penuh dengan surprise tak terduga. Semua rencana manis yang ditulis dengan sangat detail selama bertahun tahun bisa saja tidak terwujud karena hal se-sederhana itu. Terus mau bagaimana? Hidup ini tidak bisa kita kontrol mesti berjalan seperti apa. Respon orang lain melihat kita pun tidak kuasa bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol, hanya diri ini. Iya, diri ini. Bahwa pikiran dan perasaan negatif yang ada bisa sangat mudah menghancurkan diri ini secara perlahan sebelum mencapai tujuan.

Hari itu aku belajar dari kemacetan di jalanan Gadog-Puncak. Diri ini tidak berhenti untuk berkotemplasi, menanyakan banyak hal, berargumen ini itu sambil tertulis lah postingan ini. Katanya hidup itu jalani, nikmati, syukuri. Tapi aku lebih suka ada kata berusaha diawalnya menjadi usaha, jalani (apapun hambatan yang ada), nikmati dan syukuri (apa yang sudah dan sedang terjadi). Well noted for my self. Terimakasih ya Allah, di Hari Raya Idul Fitri 1439 H ini aku belajar banyak. Bismillah memulai lembaran baru dengan semangat positif dan beryukur lebih banyak :)


Bandung, 16 Juni 2018


Read More

Senin, 04 Juni 2018

Ber-JEDA dari Instagram


Image result for Instagram
foto : google

"Eh kamu sekarang udah jarang posting di Instagram ya?" - Henny

"Nung kemana aja? Kok sekarang jarang muncul di Instagram? 
Biasanya kalo gue buka home Instagram ada lo entah di Instagram story atau postingan foto" - Tami

"Apa kabar Nunga? Kemana aja?" - Ka Bangkit

"Nunga ga ada kabarnya deh, biasanya nongol di Instagram. Sekarang ga ada :(" - Kiki

"Nunga lagi sibuk travelling kali dia" - Teh Retno

Dan masih banyak lagi temen temen yang komen gitu disaat bertemu langsung atau japri chat atau bahkan di group. One thing sih, gila ada juga ya yang merhatiin ilang di social media hampir 3 bulan belakangan ini? Jadi ada 2 pemikiran, aku yang terlalu aktif di instagram sampe sampe sekalinya ilang ketauan banget atau mereka adalah tipe teman yang sangat 'peka'? Jawabannya : entah, hanya mereka dan Tuhan yang tau.

Di postingan ini aku mau bercerita awal mula aku decide untuk menghilang dari social media (instagram) selama hampir 3 bulan (iya baru 3 bulan doang sih, ah elah lebay si Nunga hehe). Bermula dari kejadian ekstrim yang menimpa saat itu, aku merasa terganggu melihat postingan beberapa orang yang menghadirkan rasa marah dan kecewa didalam diri muncul lagi. Padahal ada fitur hide ya tapi aku malah menghapus aplikasi instagram di handphone. 2 bulan setelahnya aku dowload aplikasinya kembali tapi sama sekali ga posting, hanya liat seperlunya dan dipastikan 'tidak kalap' alias menghabiskan waktu ber jam jam untuk itu (biasanya dulu gitu dan sangat unfaedah things). 

Nah apa sih yang buat aku ampe decide itu? Intinya dari semua alasan yang ada, aku belum bisa control my mind setelah liat postingan orang-orang atas achievement nya masing masing. Ada rasa membandingkan diri ini sama orang lain sehingga jadi orang yang sulit bersyukur atas apa yang sedang dan sudah terjadi. Misal : 

"kok enak ya dia udah sampe di posisi itu kariernya? Lah aku masih gini gini aja" 

"kok dia orangnya vision banget ya? aku aja masih gatau mau kemana" 

"Ih enak ya dia kerjaannya makan di resto mahal dan travelling ke luar negeri mulu, enak ya hidup jadi dia" 

"Duh cowoknya romantis gilaaaaa, bahagia kali ya jadi ceweknya"

Dan stupid think yang sama sekali ga bisa bikin pikiran aku jadi sehat dan positif. Yang sebenarnya setiap orang itu punya prosesnya masing masing dan belum tentu apa yang kita lihat (keberhasilan) diluar itu gak ada rasa pahit dan prosesnya. Every person has own process to be someone. Terus jadi buat diri ini merasa tersudut. Ditambah perasaan sedih yang sampe umur 25 tahun aja gatau mau kemana dan punya cita cita apa. Yang sedang merasakan itu siapa? Tenang, kamu ga sendirian. Dulu merasa malu mengakui bahwa diri ini gatau mau kemana. Sekarang dengan mengakui perasaan itu dan jujur pada diri sendiri, ya jadi gak merasa terbebani banget.

Balik lagi ke Instagram dan kegalauan didalam diri. Bisa menjadi orang yang selalu happy untuk coba hal baru tapi pasti ga konsisten ujungnya. Yang makin merasa deg deg an belum menentukan passion dikala orang orang sudah siap dan yakin masuk ke tahap hidup selanjutnya. Ah sedih deh kalo semua rasa khawatir, takut dan gelisah bertemu jadi satu :( Come on Nunga, it's just posting photo. Don't compare. Be grateful and appreciation what you have done even just a little things. Itu kalimat yang selalu jadi penyemangat disaat rasa dan energi negatif muncul setelah liat postingan temen di Ig.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghilang beberapa saat dari Instagram, mengambil JEDA lebih tepatnya. Sambil menyiapkan pikiran dan mental yang lebih positif nanti kedepannya. Tidak ada yang salah di Instagram, pikiran aku saja yang belum bisa positif :) 

Sekarang juga mulai 'bersih bersih' feed instagram sih, ingin hapus foto foto aku yang belum berkerudung. Dimulai dari hide, nanti nya akan delete permanen. Kenapa ga langsung delete? Duh belum siap, soalnya apa yang aku posting di instagram itu kaya hal hal bersejarah yang punya kesan tersendiri. Misal saat selesai yudisium dan dinyatakan lulus, wisudaan, firt time naik gunung, nekad ke kampung inggris Pare dan so many things. Kaya nya saat saat itu, masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan deh. Tanpa beban, tanpa bisikan dari kanan kiri atau rasa sempurna dalam melakukan sesuatu. Dan juga segala eskpetasi yang dibuat sendiri yang tanpa disadari lama kelamaan bisa membunuh secara perlahan.

Balik lagi tentang menghilang dari instagram. Modelnya kaya Path sih yang berhasil buat aku konsiten untuk tidak mendowload aplikasi Path kembali di handphone dari tahun 2015. Karena apa ya? Menurut ku Path adalah social media yang sangat menfasilitasi ajang untuk pamer sedang ada dimana, makan di tempat hits mana sambil ambil foto dengan angel terbaik. Yang malah ketika lagi travel ke satu tempat, hal pertama yang dilakukan ialah jadi kaum nunduk demi add new location di Path haha. Lucu ya? Kadang social media benar benar berhasil menjauhkan yang deket dan mendekatkan yang jauh. Esensi tempat dan pergi-sama-siapa menjadi gak ada artinya. Dan aku pernah menulis tentang kaum nunduk tahun 2014 dengan judul Mahasiswa Kaum Nunduk. 

Dari hasil obeservasiku, banyak orang melakukan sesuatu even mengunjungi tempat hanya untuk posting di instagram. Akhirnya kata 'instagramable' tanpa sadar menjadi patokan caffe atau tempat hits lainnya dibuat. Entah siapa yang buat hal tersebut terkesan lumrah. Dateng ke suatu tempat hanya untuk foto agar bisa posting di instagram. Bukan lagi untuk seharusnya tempat itu dikunjungi untuk apa. Jadi kaya kebalik ya? Contoh deh pas kemarin ada acara buka bersama, semua nya mengeluarkan hp dan live di instagram masing masing. Yang dimana moment untuk ngobrol bareng dan bonding nya jadi-agak-sedikit terganggu dengan komen dari followers di live instagram itu. Sudah sampe sebegitunya ya the power of instagram? hehe. 

Menurutku, jika hal ini terus berulang dilakukan maka tanpa sadar aku seperti memberi makan nafsu didalam diri untuk terlihat lebih dan lebih dari orang lain. Untuk terlihat hebat daripada orang lain. Untuk terlihat mengesankan didepan orang lain. Untuk mendapat pengakuan dan identitas dari lingkungan (mungkin). Akhirnya aku memilih untuk menguranginya sedikit demi sedikit. Walau sulit ya. Dan fokus pada esensi dasarnya. 

Tapi jangan salah, aku pecinta instagram dari awal mula doi masuk Indonesia loh. Nih buktinya aku pernah nulis  instagram di postingan blog tahun 2012 lalu. Menurutku instagram lebih ada meaning dan sisi art nya sih dalam sebuah postingan photo/video. Sampai saat ini aku tetap penggemar instagram!!

Nah itu sih alasan kenapa aku menghilang dari instagram akhir akhir ini. Bukan karena apa apa, tapi diri ini yang belum siap. Insyallah nanti muncul lagi dengan postingan yang lebih informatif dan meaningful ya, aamiin. Tapi meski menghilang di social media aku tetep aktif nulis blog kok, ada 4 postingan blog terbaru dan aku masih hidup normal. Gak ada yang berubah. Yang paling penting, alhamdulillah aku masih dalam keadaan sehat dan baik baik saja. Kali aja ada yang khawatir, kali aja yaaaaa. Selamat puasa Ramadhan yang tinggal 1 minggu lagi :)

Semoga menginspirasi.


Jakarta, 4 Juni 2018.

Read More

Rabu, 16 Mei 2018

Time to Challenge Yourself!

Hasil gambar untuk challenge your self
foto : google

Siang ini, di depan laptop dengan green tea latte sambil memandang langit di Depok. Besok sudah mulai puasa, ah waktu tidak terasa. Aku memilih duduk di dekat jendela, bukan hanya karena bisa lihat pemandangannya tapi hanya disana yang ada colokan listrik untuk charge laptop. Tapi siapa sangka bengong sambil memandang jalanan di Depok, seru juga.

Jam menunjukkan pukul 14.30 WIB, menunggu seorang teman  untuk minta diajari hardware/jaringan dan hal lainnya yang mempermudahku dalam bekerja nantinya. Temanku ini memang hari ini ada visit di Bogor, jadi lah Depok ku anggap sebagai tempat bertemu di antara kami.

Ada yang tidak biasa mengenai aktivitasku harianku akhir akhir ini. Jam kerja ku tidak lagi seperti orang kantoran. Buktinya jam segini aku bisa ngopi di daerah Depok, dekat dengan kampus UI. Hal yang tidak bisa aku lakukan saat kemarin bekerja office hours. Aku baru bisa keluar kantor saat langit sudah gelap, aku selalu kehilangan momen senja saat itu. Sekarang aku bisa lebih leluasa melihat langit dan kawan kawannya. Rasanya aku seperti sedang menantang diriku keluar dari zona nyaman. Benar benar dunia baru dan penuh tantangan yang tidak bisa diprediksi setiap harinya.

Bersahabat dengan beragam transportasi umum di Jakarta, seperti busway, KRL, ojek online bahkan angkot. Lebih sering melihat google maps untuk melihat rute terbaik lewat mana. Yap, aku saat ini benar benar menjadi 99% orang lapangan!!!

Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan SaaS Point Of Sales (mesin kasir online yang digunakan untuk para pelaku bisnis) di Jakarta sebagai product trainer on site. Mengunjungi customer dan menjelaskan how to use this POS to help their bussiness. Target pasar nya yaitu pengusaha UMKM di Jabodetabek. Bertemu orang baru dari beragam jenis bisnis yang berbeda. Mendengarkan cerita tentang ide/konsep membangun usaha bagaimana. Bahkan ikut turut riweuh saat toko buka dimana banyak customer yang datang. Dunia baru, lingkungan baru dan tentunya ritme kerja baru. Bukan hanya itu, aku bisa lebih sering melihat aktivitas orang yang berbeda setiap harinya. Di kantoran, di jalanan bahkan didalam transportasi umum. Semua yang dilakukan orang orang diluar ini menunjukkan bahwa mereka sedang berusaha mengais rejeki dengan carayang beragam. Pemilik bisnis, kasir, supir busway, tukang pulung, tukang parkir, penjaga tiket kereta KRL dan siapapun yang aku temui di jalan. Ada yang sedang berusaha keras, ada juga yang santai santai saja. Ada yang kelelahan bekerja sampai tertidur lelap di busway sampai ada yang sedang berjuang mendpatkan pekerjaan di Ibukota. Beragam, sangat beranekaragam.

Aku sempat ingin menyerah awalnya, bagaimana mungkin aku satu satunya wanita di posisi ini. Baru sampai kosan malam, paginya harus sudah visit ke tempat baru lagi. Enaknya bekerja dengan waktu yang fleksible ini bisa aku pakai untuk menyalurkan hobi, seperti nulis blog ini misal :) Apa aku bisa bertahan atau tidak? Aku belum tau. Tapi yang saat ini aku tau ialah, I want challenge my self to next level. Enjoy in every moment dan happy inside. Belajar dari kesalahan di masa lalu, intinya aku tidak akan menyerah sebelum berjuang. Rasa rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk kasih tantangan ke diri sendiri. Welcome to new Nunga's journey! Ini cara aku challenge diri sendiri, bagaimana dengan mu? :)


Semoga menginspirasi!

Depok,
16 Mei 2018 di Yellow Truck Coffee, Margonda

Read More

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.