MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Selasa, 17 Februari 2026

Eh, udah 33 Tahun.

Hari ini usia tepat 33 tahun. Sebagai wanita yang katanya udah dewasa, dengan anak perempuan usia 4 tahun. Hari ulang tahun terasa "ah biasa aja" meski ada momen ingin sedikit merayakan untuk diri sendiri, ah udah sejauh ini...ah badai kemarin bisa dilewati...ah rasanya kemarin sakit sekarang udah sembuh..ah yang dulu sangat ditakuti, berjalan lancar juga.

Segala ketakutan & kegelisahan ternyata hanya ada di pikiran saja. Bergelut dengan pikiran dan perasaan sendiri. Well, aku sudah melakukan yang terbaik, sebisa aku, semampu aku.

Usia 33 tahun, aku sudah tidak se-ambisi dulu saat usia 20an. Lebih legowo dan mudah menerima banyak hal yang datang dalam hidup. Makin sadar, bahwa dunia bukan lagi ada di genggaman tanganku mau bagaimanapun aku berusaha. Ada yang bisa di ubah dan tidak. Ada yang masih dalam kendali dan juga di luar kendali. Mana yang memang tanggung jawab aku dan bukan sama sekali tanggung jawab aku.

Memaafkan banyak orang yang menyakiti hati, meski orang tersebut tak sekalipun meminta maaf. Hanya untuk kesehatan mental diri sendiri.

Meski masih belajar jadi ibu yang baik untuk anakku. Menjadi istri solehah untuk suamiku. Menjadi anak yang berbakti pada orangtua di usia senja. Dan jangan sampai hilang akan peran menjadi diri sendiri. Menjadi Nunga Nungseu dengan segala semangat, ambisi dan sosialisasinya.

Terimakasih sudah menjadi hebat versimu sendiri. Selamat ulang tahun ke 33 wahai diri. Bareng-bareng terus ya, kita :)


Read More

Sabtu, 13 September 2025

K-Traumatic : Way Back Love

 Setelah beberapa bulan stop nge-drakor, lalu nonton judul ini tertarik karna cuman 6 episode (biasanya kalo ampe belasan episode suka jadi males, dan ga selesai entah kebanyakan spoiler di medsos atau ya ceritanya kepanjangan). Ternyata drama ini keluar di bulan April 2025 dan aku baru tau sekarang. Ceritanya? SERU BANGET SO MEANINGFULL

Yes, selera drama aku kaya gini nih yang so so meaningfull apalagi bahas tentang kematian beuh beuh beu :p

Menceritakan seorang wanita usia 24 tahun Jung Hee Wan, mahasiswa desain grafis yang sudah 4 tahun ke belakang hidupnya berubah, anti sosial. hidup ga hidup menuju depresi karena ditinggal meninggal oleh cinta pertamanya waktu SMA, dan dia merasa itu adalah kesalahannya, gimana ya rasanya 4 tahun hidup dengan bayang bayang rasa bersalah? Hidup seperti stuck saat malam itu, ga maju atau mundur. Dia merasa bahwa dia tidak layaj bersenang-senang dalam hidup seorang diri :((

 Lalu tiba tiba sang malaikat muat datang dan bilang sisa hidupnya tinggal 7 hari, dan yang jadi malaikat maut pribadinya adalah Kim Ram Woo, crush atau cinta pertamanya waktu SMA yang sudah meninggal itu.

Selama 7 hari mereka melakukan aktivitas bersama, dengan cerita flash back masa lalu dan masa sekarang. Bikin penasaran yang nonton pengen tau Kim Ram Woo meninggal kenapa. Selama 7 hari ini seperti proses terima Jung Hee Wan dalam "menerima" kalo orang yang dia sayang udah meninggal, dan itu ga mudah, banyak banget air mata teruta rasa bersalahnya. Tiap dengen suara ambulance atau sirene pemadam kebakaran Jung Hee Wan kaya sesak nafas dan membuktikan dia belum puluh dari kejadian malam itu.

Akting nya sih oke, akting nangisnya menembus layar banget. Sampai di hari ke 7, mereka menghabiskna waktu bersama dan mlaikat maut bilang "lanjutkan hidupmu, meski aku sudah tidak ada, cara kamu mencitai dirimu adalah cara kamu mencintaiku" jleb banget rasanya harus kehilangan orang yang kita sayang untuk kedua kalinya, mau ikut mati juga ga akan ketemu lagi kan.

Usut punya usut, secara takdir Jung Hee Wan meninggal karena bunuh diri, namun si Kim Ran Woo yang merasa sayang banget, melanggar aturan malaikat maut untuk menemani Jung Hee Wan di hari hari terakhirnya sampai  merasa "aku ingin hidup untuk waktu yang lama". Dan itu berhasil, Jung Hee Wan gak jadi bunuh diri dan melanjutkan hidupnya sedikit demi sedikit.

Meaningnya adalah? 

1. Proses ditinggal meninggal oleh orang yang kita sayang ga mudah, tiap orang punya proses penerimaan yang berbeda

2. Tetep melanjutkan hidup dengan baik baik saja, karena mereka yang udah meninggal akan berharap seperti itu

3. Jangan menyalahkan dri sendiri atau orang lain atas meninggalanya seseorang, itu makin buat kamu jadi ga bebeas dalam melanjutkan hidup

4. Mencitai diri sendiri sama artinya mencitai dia meski tidak terlihat

Yes, drama ini berhasil buat mata bengkak saking sedih nya tiap episode, beneran rate 100/10.

Read More

Sabtu, 06 September 2025

Perkara Kala Demam :(

 Huff tarik nafas dalam..1..2..3..

Sebagai ibu yang masih terus belajar, menghadapi anak sakit cukup sangat tertantang bagiku. Apalagi perkara demam pada Kala (nama anakku). Kaya apapun saat Kala sakit it's okay aku sebagai ibunya siap mendampingi tapi kalo Kala udah demam, rasanya aku give up dan ingin segera bawa dia ke IGD Rumah Sakit secepatnya, diurus sama tenaga medis yang memang ahlinya meski demam hanya 38,00 sekalipun.

Kenapa ini bisa terjadi? Jelas karena Kala punya riwayat kejang demam. Jadi pernah usia 1 tahun dia kejang untuk pertama kalinya saat suhu mencapai 40,00 lebih. Itu masih oke karena kejangnya sebentar. Selang 1 tahun kemudian, usia Kala 2 tahun 2 bulan dia kembali kejang karena demam tinggi. Beberapa kali aku lihat langsung Kala kejang demam saat itu. Kami bawa ke RS dan hasil labnya menunjukkan infeksi bakteri khususnya di pencernaan. Beberapa kali aku menyaksikan anakku kejang demam, dan selalu aku yang pertama kali memberikan pertolongan pertama. Ilmu dan teori paham, obat kejang siap di rumah, tapi gemeter dan rasa takunya itu masih kerasa ampe sekarang kalo tau Kala demam ringan 37,5 - 38,0.

Saking takutnya, aku sampe mules, beberapa kali buang air besar, dan biasanya demam itu datang malam ke pagi hari, saat itu juga sekedar tidur 10 menit pun aku merasa bersalah, kaya gamau bersikap keliru saat penanganan demam pada Kala. Kaya mau langsung bawa Kala ke IGD RS itu, padahal itu demam ringan ga sampe 38,0 tapi perasaan udah campur aduk. Nangis. Solat malam, ngaji, minta ampun ke Allah SWT, bahkan solat taubat. Coba cari ketenangan di malam sunyi sendirian diatas sajadah. Kaya, Ya Allah maafin aku udah jadi Ibu yang dzalim karena Kala sekarang lagi sakit. Padalah sakit dan juga demam pada anak 4 tahun itu wajar. Apa aku adalah ibu yang menjunjung kesempurnaan? Ah, jadi Ibu emang ga mudah. Ada rasa takut yang harus dilawan.

Pastinya saat anak sakit, orang pertama yang merasa bersalah adalah Ibunya. Aku salah apa, kurang jaga nih ke anak, makan apa ya dia, ketularan sakit dari mana ya dan segala overthinking nya. Padahal jelas lagi lagi sakit pada anak balita itu wajar, apalagi demam ringan dan itu terjadi ga tiap bulan, kaya setahun beberapa kali doang gitu loh. Otak bisa mikir kesana, tapi hati bukan main gelisahnya.

Apa ini tanda aku terlalu melekat pada anak? Sedangkan anak gamungkin sehat terus ada kalanya dia sakit, dan demam ringan itu wajar karena sistem imun tubuhnya aktif dan bekerja semestinya. Segala ilmu tentang demam aku tau, tapi tetep saja pas kejadian gemeteran tangan, keringetan, mendadak mules, gaenak diem pokoknya ciri ciri gelisah lah.

Pernah satu waktu, setelah ku kasih obat pereda demam (demam 37,5-38,2) jam 4 pagi, setelah solat subuh ku tidur di kamar terpisah dengan Kala (Kala dengan Ayahnya), karena aku cape tiap jam cek-in suhu kala dan jadi overthingking berimbas gabisa tidur, sedangkan besok aku harus fit untuk masak masakan bergizi buat Kala, temenin dia biar mood dia happy dan lain-lain. Hal yang paling ditakutkan, lagi lagi Allah tunjukkan. Ah, manusia.

Apa ini yang disebut trauma? Jelas rasa trauma harus dilawan diri sendiri, rasa takut yang kita rasakan ga semua orang paham. Apa sudah saatnya aku ke psikolog?

Pintaku selesai solat yang utama dan pertama adalah sehat. Sungguh sehat adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan tapi sering dilupakan. Semoga aku bisa lebih tenang saat Kala sakit.

Read More

Kamis, 06 Februari 2025

2025 : Back To Basics!



Setiap awal tahun selalu terbesit dalam hati apa resolusiku, karena ulang tahunku bertepatan di bulan Februari jadi barengan aja gak sih resolusinya haha. Kayanya blog ini jadi saksi mata deh apa wish aku dari umur 20an ampe sekarang MAU 32 TAHUN WOYYY ga nyangka ada di titik ini haha dulu liat teteh teteh umur 32 wah..amazing..wah wise bgt...wah dewasa...pokoknya the best lah!

Eh tapi pas sekarang rasain umur 32 ya sama aja gak sih, banyak hal yang belum tercapai tapi dibarengin dengan pemikiran yang jauh lebih dewasa dan bisa terima banyak hal dalam hidup dan pastinya badan aja jadi lebih jompo :p

Well balik lagi ke resolusi, kayaknya di umur 23 eh kebalik 32 tahun ini saatnya back to basic hehehehe maksudnya si Nunga Nungseu ini ingin menjalankan perannya sedia kala yg dulu ah solo backpack ke Yogya dan stay 2 bulan di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur sambil jualan gelang bisa-bisa aja tuh. Jadi penyiar radio pas kuliah. Jadi MC acara kampus. Anak himpunan yang dari pagi ampe malem di kampus tapi gak dapet dapet beasiswa padahal IPK 3,8. Abis lulus ditawarin jadi asisten dosen sama dosen pembimbing tapi terhambat karena ketua prodi yang gak suka sama aku, si anak himpunan yang masih menjalin silaturahmi dengan alumni (ini gak make sense tapi terjadi gaes) huff. Sering casting presenter travelling di TV tapi gak lolos lolos juga. Jualan bando kece pas lagi kuliah di gasibu dan temen kampus. Pulang pergi Bandung-Bogor-Jakarta pake kendaraan umum dengan tas ransel. Naik gunung Cikuray for the first time. Nonton konser One Direction di tengah tengah skripsian di GBK tahun 2016, atau nekad nonton Payung Teduh di pensi kampus orang lain seorang diri. Ikut jadi relawan di Kelas Inspirasi Bandung, Jakarta dan Ciacap. Bikin podcast sama suami namanya Podcast Halaman Depan. Sampe jualan snack/camilan khas Bandung sama suami (pas belum hamil). Kalo makan di pinggir jalan atau nge-mall sendiri sih udah biasa ya. Semua serba dilakuin sendiri. Kenapa untuk menciptakan kebahagiaan diri sendiri harus nunggu orang lain/ada temennya dulu?

Kayaknya di fase sekarang ini, aku mau bilang say thank u kepada si Nunga Nungseu yang dulu, yang buat hidup aku di umur 20an sangat berwarna.....yang suka ngebolang sana sini alias si ekstrovert garis keras dan bilang "oke it's time for you dear...tapi aku sambil tetep jalanin peran aku sebagai istri dan ibunya Kala ya, deal?"

uncchhhhhhh jadi sedih gak sih, jadi terharu gak sih bahwa selama 4 tahun terakhir aku bergeluk dengan kehidupan after marriage - kosong 1 tahun - resign kerja demi fokus program hamil - KET dan harus operasi, tuba kiri di potong - jeda dari instagram karena cemas/takut liat sosmed dimana orang yang udah nikah langsung hamil - pejuang garis 2 dengan rasa sakit masyaallah (tes HSG) - alhamdulillah pas hamil rasain heartburn bb naik 20kg, berat kala di perut udah 4kg - melahirkan - new mom yang semua belajar sendiri - MPASI - menyapih dan toilet training - dan sekarang Kala 3 tahun kayaknya ini the best time sih untuk aku 'back to basic'.

Kadang bertanya-tanya apa aku egois? apa aku lebay? apa ga bersyukur? apa banyak ngeluh? dan semua pertanyaan dari beberapa bulan terakhir akhirnya terjawab (dengan percaya diri), ini adalah waktunya!

Setelah mau 6 tahun menikah berperan sebagai istri, 3 tahun beperan jadi Ibu, diselingi peran sebagai anak-kaka-keluarga dll, rasa rasanya gak salah untuk menambah dan lebih banyak fokus 'berkarya' menjadi seorang Nunga Nungseu seperti dahulu. Entah menghasilkan cuan atau tidak hahahahaha let see ya :)

Hmm langkah pertama yang dilakuin adalah join affliate program, bangun branding di medsos yang udah mati semenjak jeda dari medsos tahun 2020 lalu dan bikin konten relatable kaya gini. Kaya seberapa banyak seorang Ibu yang udah nikah + punya anak, merindukan peran dahulunya dan what they do?

Semoga bermanfaat!

Bogor, 6 Februari 2025
Read More

Jumat, 03 Mei 2024

Queen Of Tears #Review Rating 9/10 - Life After Marriage


Baca Blog nya Sambil Dengerin Ini

Ini drama korea yang lagi booming banget karena alur cerita nya yang sangat relate dan tentunya visual paripurna dari pemeran utamanya Kim So Hyun & Kim Ji Won :) Drama ini menceritakan tentang pasangan suami istri yang sudah menikah 3 tahun dan sedang berada dalam 'fase' krisis dalam rumah tangganya. Dibumbui dengan cerita keluarga, memperebutkan perusahaan sampai penyakit tumor otak. Semua pemeran antagonis dalam cerita ini punya alasan yang jelas kenapa mereka bisa melakukan itu. Denger denger syutingnya sampai 11 bulan untuk drama sebanyak 16 episode. Waw niat banget!

Well langsung aja ya apa sih yang bisa kita pelajari dari Queen Of Tears ini in my POV sebagai perempuan yang sudah menikah selama 5 tahun :


1. Krisis Pasutri Baru

Yes, namanya menikah dan hidup bersama tentu sesuatu yang baru. Janji manis saling mencintai & jatuh cinta setiap saat bisa saja terbentur dengan beragam hal yang terjadi sehari-hari. Dari sesuatu yang besar bahkan yang kecil sekalipun. Misal saat Hae In dan Hyun Woo sama sama cape kerja, pengen di mengerti tapi malah jadi memperdebatkan hal hal sepele dan gak penting. Tiap ada masalah tidak pernah langsung diselesaikan dan akhirnya menumpuk seiring berjalannya waktu. Meledak bak bom waktu. Berdebat sengit demi mempertahan ego masing-masing. Jadinya mengeluarkan kata kata yang saling menyakiti satu sama lain.


2. Campur Tangan Keluarga

Setelah menikah memang baiknya tinggal sendiri. Mulai 'belajar' mengenal satu sama lain dalam satu atap tanpa ada intrupsi dari keluarga/saudara dll. Kaya semacam bikin kokoh pondasi dalam tahap awal membangun rumah. Terlalu banyak material gak penting dalam bangun pondasi, ya gak bagus juga ya. Hyun Woo merasa kesulitan di awal awal pernikahan karena satu rumah dengan keluarga istrinya yang konglomerat itu, yang jelas berbeda jauh dengan keluarganya yang berasal dari keluarga petani. Terkadang Hyun Woo dianggap lebih rendah oleh keluarga Hae In, dan sikap dinginnya Hae In membiarkan itu terjadi terus menerus tanpa membela suaminya. Namun Hae In sebagai istri malah gak nangkep sinyal Hyun Woo yang udah mulai muak tapi gak bisa ngapa-ngapain. Akhirnya Hyun Woo jadi acuh terhadap istrinya yang sebetulnya wanita butuh diperhatiin, dimanja gitu. Bahkan Hyun Woo udah mempersiapkan surat cerai untuk Hae In.


3. Keguguran

Nah siapa sangka, keguguran bisa jadi masalah baru dalam awal awal rumah tangga. Rasa ingin memiliki buah hati harus sirna dan pasti bikin suami-istri patah hati. Namun tiap orang pasti punya caranya sendiri untuk 'berduka'.  Hae In misal menyibukkan diri bekerja lebih giat agar cepat lupa akan keguguran yang sudah dia alami. Terlintas dia merasa disalahkan atas keguguran yang sudah terjadi. Padahal Hyun Woo gak bilang apa-apa.  Dan Hyun Woo malah merasa Hae In sebegitu mudahnya lupain 'calon' anak mereka. Kaya ambil kesimpulan sendiri di otak masing-masing, tanpa make sure fakta ke pasangan masing-masing. Jadi mulai salah paham deh. Padahal mereka berdua betul betul merasa berduka juga.


4. Komunikasi

Ini yang jadi akar masalah di awal awal rumah tangga Hong-Baek di Queen Of Tears. Mengkomunikasi sesuatu ke pasangan yang tidak ter-delivered dengan baik. Sepenting itu komunikasi itu untuk mencegah hal hal besar yang akan terjadi di kemudian hari. Menurutku se-simple kabarin kapan pulang. Harus pulang kerja telat, sedang merasa sedih, lagi pengen sendiri gamau di ganggu dan lain lainnya.


Terlepas cerita tentang tumor otak, memperebutkan penerus perusahaan dan menjadi seorang kepala desa. Tapi 4 point diatas yang aku highlight dari sisi kehidupan setelah menikah :) Ada kata-kata dari Baek Hyun Woo yang bilang kalo dia tidak berjanji untuk terus saling mencintai, tidak akan berpisah bahkan bisa saja akan saling membenci, tapi satu hal yang pasti diia akan terus ada di sisi istrinya selamanya. 

Dan memang betul, kehidupan setelah menikah isinya 'kompromi'. Gak selamanya mesra, mulus apalagi saling jatuh cinta bak pasangan kasmaran everytime everyhwhere sebelum  menikah. Kaya hidup aja kan, gak semua berjalan sesuai rencana. Tapi bagaimana kita bisa lewatin itu dan percaya bahwa hal hal kaya gitu adalah 'bagian' dari kehidupan rumah tangga yang harus dilewati. Disclamier ya kalo selingkuh, KDRT, judi online, narkoboy itu sih beda lagi. Ini bahas tentang berantem berantem kecil yang diawali dengan perbedaan pendapat misal cara didik anak, istri kerja apa engga sampai perkara nabung pake platform apa :p

Apa yang bisa kamu pelajari dari drama ini? Yuk, share di kolom komentar ya! Aku ranting drakor ini 9/10 karena sekeren ituuu dibuat nangis, ngakak, sedih, ketawa dan nangis lagi sepanjang 16 episode. 


Bogor,

Jumat, 3 Mei 2024

Read More

Minggu, 07 April 2024

What I Gain & Lost Since Became A Mam?


"what do you think you gain and lost since you became a mother? haha"

Saat sedang bercakap ria dengan teman di kantor lama, tiba-tiba temenku nanya itu. Ya ku jawab sejujur-jujurnya betapa lelahnya jadi Ibu... Beberapa hari berlalu eh ternyata pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala sampai akhirnya tulisan ini dibuat.

Banyak hal yang belum aku sadari dan keluarkan sebenernya apa aja sih yang berubah dan bertambah semenjak aku menjadi seorang Ibu? Sampai Kala usia hampir 2,5 tahun aku (masih saja) terus observasi dan belajar apa aja sih yang buatku agak kesulitan being a mother. Rasanya peran dan aktivitas berubah 100% semenjak Kala lahir dan makin merasa 'sepi' menginjak Kala usia 2 tahun. Mungkin awal awal pas new born maish euforia punya anak pertama banyak yg bantu dan bla bla bla. Tapi melakukan aktifitas yang sama setiap hari (mandiin anak, nyuapin anak dan teman temannya) cukup membuatku jenuh. Belum lagi hadapi anak tantrum. Ternyata aku tidak sesabar dan sekuat ini hadapi anak toddler.

Sempet merasa kurang, sedih dan kadang banyak gagalnya kelola emosi yang baik saat anak sedang bertingkah. Kok orang orang atau gaya parenting di media sosial yang ajarin gentle parenting bisa ya tetep tenang saat anak tantrum? Kok aku gak bisa? Aku salah apa? Aku kurang apa? Pertanyaan ini terus ada di pikiran yang akhirnya bikin cape dan frustasi sendiri. Kalo bukan aku yang gagal jadi Ibu, apa memang anak ku yang super aktif? apa dia normal? apa perlu diajak ke dokter pertumbuhan dan perkembangan anak? pertanyaan pertanyaan itu yang bikin jadi cape sendiri.

"what do you think you gain and lost since you became a mother?"

Balik lagi ke pertanyaan diatas, rasanya banyak lost nya ya semenjak aku jadi Ibu. Aku gak perlu jawaban kaya "jadi ibu tuh ya balasannya surga. Liat anak senyum tuh semua lelah jadi hilang. Bersyukur punya anak, yang lain susah banget punya anak" dan respon yang kontradiktif atas apa yang sedang aku rasakan. Saat hati dan pikiran udah ke reset, respon seperti itu sangat membantu ya. Tapi akupun perlu memvalidasi segala emosi yang sedang dirasakan : cape, sedih, frustasi, kecewa, lelah, kesel dan marah. Lalu menerima semua emosi tersebut sambil peluk diri sendiri dan bilang "it's okay Nunga, kamu sudah berusaha dan berjuang sampai hari ini. Besok kita coba lagi ya, pelan pelan aja. Gak usah jadi Ibu yang sempurna, Kala ga butuh itu. Jadi Ibu yang selalu bahagia dan nikmati setiap prosesnya. Gak apa apa rehat sejenak, jauh sebentar dari anak, itu bukan berarti kamu jadi Ibu yang jahat"

sedih banget ngetiknya hahahahahaha

Sekarang aku bener bener bisa mengerti dan memahami pilihan Ibu lainnya yang memilih jadi working mom atau cukup punya anak satu. Setiap orang punya problem dan caranya sendiri saat hadapi masalah. Apa aku yang terobsesi untuk jadi Ibu yang baik ya? Saking excited akan peran baru dan belajar banyak hal, jadi lupa kasih cinta ke diri sendiri sekedar mengobati luka yang makin hari makin menganga. Kukira dengan memastikan suami dan anak cukup, itu juga cukup untukku. Ternyata engga. Pada satu titik apa yang ada didalam diri berontak dan protes bahwa diri ini juga butuh perhatian, butuh kasih sayang bahkan pelukan. Cukupkan diri dulu, baru orang lain?

"what do you think you gain and lost since you became a mother?"

Apapun yang didapatkan dan (mungkin banyaknya) yang hilang setelah jadi Ibu semoga bisa buat diri ini bahagia setiap harinya, terutama dengan diri sendiri. Bahagia dengan diri sendiri tanpa perlu bantuan dari orang lain. Bisa atasi segala emosi negatif dengan baik-baik saja (tanpa melampiaskan ke anak). Itu udah sebuah pencapaian besar. Tak perlu liat cara prenting orang lain alias media sosial yang kayaknya ya full hapinnes ever after :)

By teh way, baca blog ini sambil dengerin lagu Sleeping Through My Finger :)

Baca quote dulu boleh nih :


Peluk jauh buat para Ibu yang sedang merasakan hal yang sama!!


Cilacap, 7 April 2024

Read More

Rabu, 20 Maret 2024

Manusia dan Ekspetasi-nya


Sebuah tulisan random habis dengerin lagu Ghea Indrawari - Teramini. Terus salah fokus sama beragam komen netizen yang cerita tentang hal hal yang diinginkan namun belum terjadi juga. Ada yang susah banget dapet kerja padahal udah sarjana. Pejuang garis 2 sudah bertahun-tahun dengan effort bukan main-main. Masalah ekonomi setelah 10 tahun berumah tangga dan hal lainnya. Kalo dibaca satu satu sih, masalah saya (atau mungkin kamu) tidak seberat mereka ya.

Well point yang mau saya tulis bukan lagunya sih tapi lebih ke....apa manusia setiap melakukan (sudah selesai) akan sesuatu jadi punya ekspetasi? Yang mana ekspetasi tuh jadi next step from their journey, apa maju atau mundur. Tapi kalo stagnan alias ga maju-mundur alias yang diingin gak terkabul kok jadinya galau ya, kok jadinya doa tak terkabul ya dan perasaan negatif lainnya. Saya juga dulu gitu pemirsa pas under 30 years old tuh usia-usia banyak maunya, banyak effortnya juga tapi ga banyak siap untuk hasil akhirnya hehe

Misal nih ya niat kuliah sampai S1. Terus udah wisuda kok gak dapet dapet kerja? Susah amat sih cari kerja padahal udah cape cape kuliah dengan IPK Cumluade tapi kok belum ada yang mau nerima? Jangan salah, saya pun dulu nganggur 1 tahun baru dapet pekerjaan tetap dan itupun posisi yg saya ambil based educationnya SMA alias ga perlu S1. Ya tapi mau gimana, tetep saya ambil wong saya butuh duit atau batu lonjatan buat next karier. Eh tapi gak semua berpikir ke arah sana loh. Ada yang tetep keep woles bertahan ingin kerja di perusahaan bonafit atau BUMN atau PNS jadi bertahun-tahun nganggur it's okay. Ada yang bener keterima dan ada yang sampe sekarang masih nganggur. Kesimpulan : jalan hidup/takdir tiap orang beda-beda meski melakukan effort/doa/tawakal yang sama :)

Jadi yang diharapkan mahasiswa kita tuh udah lulus sekolah ya kerja. Padahal cari kerja zaman sekarang susah susah gampang. Selain tentunya orang dalem, 'mental' juga kudu udah kebentuk pas lagi proses bersaing/hiring. Padahal kalo di pikirkan lebih dalam, meaning kita sekolah a.k.a kuliah kan untuk menuntut ilmu ya, ilmu yang nantinya insyaallah bermanfaat buat diri sendiri atau sekitar. Nah masalah dapet status sosial next level atau gajih, ya tergantung lagi sih gimana....jadinya pas ekspetasi kita gak terpenuhi ya jadi totally stresfull. Galau, merana, bergeserlah passion atau tujuan hidup. Pas banget berbenturan sama quarter of life crisis terus ketemu ikigai haha itu sih saya banget usia 23-27 tahun :)

Belum lagi kalo persoalan nikah. Misal tujuan nikah adalah untuk selesai dari masalah pribadi (nganggur bertahun-tahun, belum ketemu carier path yang jelas) jadi decide nikah ya untuk jadi problem solving. Padahal ye padahal menikah itu malah nimbulin masalah baru karena tiba-tiba kita kudu serumah sama orang asing dengan habbit/background yang beda. Mulai tuh main main ego dan kawan kawannya. Belum lagi yang niat nikah "ah saya mau nikah mau jd IRT, urus anak dan suami, pusing kerja ga sesuai passion terus" nah loh....kalo ga langsung dikasih 'hamil' sama Allah terus gimana? Buyar kan rencana harapan indah akan sebuah kehidupan after married. INI CERITA SAYA PRIBADI LOH hahahaha

Mengira hamil adalah perkara mudah. Karena banyak ABG labil yang married by accident kok bisa (?). Ya jadinya frustasi karena ekspetasi (lagi-lagi) gak terwujud. Padahal hamil atau enggan cuman Allah yang tau best time nya kapan. Wong itu urusan nyawa manusia. Urusan kehidupan seorang manusia yg kelak jadi hamba-Nya.

Intinya si ekspetasi bener bener membunuh sih. Ditambah lingkungan society kita yang ngebentuk suatu pola yang kita juga gatau darimana asalnya dan harus jadi suatu keharusan. Misal : habis lulus sekolah/wisuda harus kerja. Habis nikah ya punya anak. Habis punya anak 1, ya lanjut anak 2, 3 dst. Habis beli rumah ya mobil dong. Habis punya mobil dan rumah, ya masa gak haji atau sodakoh. Dan seterusnya. Nanti pas kita udah meninggal society bilang "katanya orang kaya kok tahlil isi beseknya gini amat" hadeeeeh cape deh..

Makannya jadi manusia zaman sekarang kudu pinter-pinter jaga diri dari godaan omongan orang-orang a.k.a society yang sok tau sama hidup kita. Ditambah bumbu bumbu media social atau influencer yang ambyaaarr hidupnya kok muluuuuss terus ye. Kita jalan berlubang gak selesai selesai didepan udah banjir. Ya kalo mau adu siapa hidup yang paling menderita sih gak ada selesai-selesainya. 

Banyak yang kira hidup kita selalu oke, selalu stabil, selalu happy, selalu banyak uang bisa sana sini. Padahal gak tau aja kita mati matian cari uang tambahan sambil begadang dan kurangi rebahan. Kita coba irit dengan rajin masak setiap hari biar bisa ajak anak staycation. Kita inhale-exhale tiap habis solat subuh untuk siap hadapi toddler tanpa nanny dan ART. Karena sejatinya manusia ingin selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja. Lagian kalo kita ngeluh ke orang-orang, dari 90% yang dengerin sih mereka ga peduli peduli amat. Sisa 10% nya buat di nyinyirin lah masalah kita. Atau yang balik respon gini "masalah u gak seberapa sama gue" lah langsung pa sombong sombong kesengsaraan hidup.

Tarik napas dalam....ya gitu lah pemikiran saya yang habis nyapu ngepel pas kala lagi bobo sore ini. Random banget langsung ditulis di blog.

Kalo kata kamu gimana? Apa bener ekspetasi tuh bisa bikin kita galau nan frustasi? Atau malah jadi lebih terpacu semangat meraih mimpi? Sharing yuk..



Bogor, 20 Maret 2024

Read More

Kamis, 29 Juni 2023

Pesan Hidup Tersirat dari Alm Bapak


Selamat Hari Raya Idul Adha, 29 Juni 2023.

Idul Adha pertama tanpa kehadiran alm bapa kandung saya. Ada hari dimana masih gak percaya kalo alm sudah tiada, saat akan tidur dimalam hari (sambil berharap dipertemukan lewat mimpi) atau saat bangun tidur di pagi sambil terucap "oh bapa saya udah gak ada..".

Meninggalnya bapa saya yang masyaallah diidamkan oleh semua orang termasuk saya. Bagaimana tidak, h-1 alm masih sehat bugar seperti biasa (tidak punya riwayat sakit/penyakit bawaan) dan sedang mengecat kubah masjid perumahan. Besok paginya setelah sarapan, alm masih bisa minum kopi sambil merokok depan rumah. Lalu bilang pada kakaku katanya "mau tidur dulu sebentar". Lalu alm tidur dan pas di bangunkan tidak mau bangun, sempat memanggil dokter dan dokter bilang sudah tidak ada denyut nadinya.

Bagaimana kematian yang insyaallah husnul khotimah ini sangat sanga membuat orang lain kaget, termasuk saya-anaknya-yang sedang berada di Bogor. Bahkan sampai saat ini menulis blog pun masih gak percaya jika alm sudah tiada.

Meski memang saya besar di Bogor dan jarang bertemu alm tapi saya percaya bahwa hal-hal baik yang terjadi dalam hidup saya adalah berkat doa alm. Alm bapa saya adalah salah satu aktivis keagaaman di lingkungan. Sering menjadi imam masjid, membantu mengurus pesantren gratis dekat rumah, memimpin tawasul, dzikir dan proses pemakaman jika ada yang meninggal. Dari segala kebaikannya tersebut, alm bisa pergi ke tanah suci sesuai dengan cita-citanya tanpa biaya. Itu benar-benar sebuah rejeki tak terduga dan undangan langsung dari Allah SWT untuk datang ke Makkah. Banyak cerita orang punya banyak harta namun jika Allah SWT belum mengundangnya, tetap saja belum bisa menginjakkan kaki di tanah suci. Sedangkan alm bapa saya, masyallah bisa pergi melihat Ka'bah langsung.

Belum juga 3 bulan pulang umroh, alm dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kepergian beliau membuat semua orang, keluarga, tetangga bahkan orang yang menggali kubur di pemakanan tersebut kaget. Sang penjaga makam cerita pada saya "minggu lalu pak aji tuh kesini, antar orang yang meninggal, setelah menguburkan jenazah kita sempat ngobrol, disini teh (sambil nunjuk kursi) sambil ngerokok. Pas ditelepon saya kaget, suruh gali kubur buat Pak Aji. Pak Aji mana kata saya? Orang yang biasa mengurus yang meninggal sekarang meninggal. Saya masih ga percaya. Insyaallah alm orang baik"

Ketika sampai Bandung sudah banyak orang yang berkumpul di rumah, tenda terpasang, sudah dimandikan, mobil ambulance sudah siap dan hal hal lainnya. Banyak orang yang membantu dalam proses pemakanan karna memang biasanya alm bapa saya yang mengurus itu semua. Dan masyaallah yang bikin saya merinding, banyak sekali orang yang menyolatkan sampai mengantarkan alm ke pemakaman (meski sedang dalam kondisi hujan besar). Mereka rela hujan-hujanan dan bahkan ada yang memakai daun pisang diatas kepalanya demi bisa mengantarkan alm ke tempat terakhirnya.

Siapa mereka? Rasanya semua orang di lingkungan tau siapa alm sehingga datang untuk melayat. Anak-anak pesantren gratis pun banyak yang hadir. Saat dzikir hari pertama sampai hari ketujuh masyaallah yang datang banyak, lagi lagi karna biasanya alm bapa saya yang urus dzikir ketika ada yang meninggal di lingkungan tersebut. 

Setelah pemakaman ada tukang es cincau lewat dan nanya ke Kakaku "siapa yang meninggal?" terus katanya "hah Pak Aji yang suka ada di masjid Nurul Iman? Baru beberapa hari yang lalu ketemu pas tiba-tiba hujan terus dia manggil saya katanya sini neduh dulu di masjid. Terus alm nanya gimana laku dagangannya? Perasaan masih sehat gak keliatan sakit" dengab muka masih gak percaya dan jelas-jelas saya mendengar langsung ceritanya.

Kebaikan apa yang alm lakukan sehingga Allah SWT perlihatkan kejadian seperti itu? Masyaallah merinding....

Ada banyak hal yang saya pelajari, dan saya perlu menulis ini di blog untuk jadi bekal saya (dan anak saya) hidup kedepannya :

1. Minta apapun semua ke Allah SWT. Kekuatan doa meski dalam jarak jauh sekalipun jika yakin, insyaallah kun-fayakun. Biasanya alm selalu suruh saya sedia air di gelas/botol disaat alm sedang yasin/tawasulan di bandung, untuk hal hal seperti mau tes kerja, ujian skripsi, terutama menjelang saya lahiran.

2. Jangan takut gak makan/miskin. Kita punya Allah yang Maha Kaya. Banyak manusia yang Allah SWT ciptakan untuk saling berbagi. 

3. Berbuat baik kepada siapapun bahkan ke orang yang tidak kita kenal sekalipun. Berbuat baik tanpa pandang status, jabatan, harta dll.

4. Hidup sederhana, biasa saja tak perlu sombong. Apa yang mau disombongkan? Harta? Jabatan? Gelar pendidikan? Status sosial? Semua punya Allah SWT dan tidak akan dibawa mati kecuali amal-shaleh.

5. Terus berbuat baik meski dikucilkan, dianggap bodoh atau bahkan dianggap rendah oleh orang lain.

6. Terus bermesraan dengan Allah SWT lewat solat, ngaji dan ibadah lainnya. Orang lain gak perlu tahu, cukup Allah yang tau apa niat yang ada didalam hati.

7. Selalu meminta maaf dengan tulus ke siapapun bahkan alm pernah meminta maaf kepada saya secara tiba tiba sampai menangis. Beberapa hari sebelum meninggal, alm meminta maaf ke banyak orang sambil menangis terisak.

8. Selalu berbagi meski sedang pas-pas-an. Jiwa sosial alm tinggi, rela berkorban tenaga atau apapun untuk membantu orang lain. Banyak tetangga yang sudah dibantu alm dan cerita itu datang setelah alm tiada.

9. Alm ahli tawasul dan suka mengurus orang yang meninggal di sekitar. Ketika ada orang meninggal alm orang pertama yang urus dari mulai memandikan, komunikasi dengan gali kubur, antar ke pemakanan sampai dzikir hari ketujuh. Saat hari H meninggal, di tas beliau ada beberapa kertas tulisan tangan berisikan nama nama orang yang sudah meninggal fulan bin fulan atau fulan binti fulan. Masyaallah.

Sekian hal-hal yang saya jadikan pembelajaran semasa hidup alm. Semoga bisa bermanfaat untuk saya pribadi dan yang membacanya. Cita-cita saya sama seperti cita-cita alm, meninggal tidak merepotkan orang lain. Tetangga pun bercerita "cita-cita alm meninggal tidak mau merepotkan siapapun, sekarang terwujud". 

Kehidupan seseorang di dunia ternyata menentukan kita meninggal seperti apa. Semoga kita bisa meninggal dalam keadaan husnul khotimah.  Aamiin allahumma aamiin.

Berikut beberapa foto alm dan saat proses melayat sampai ke liang lahat.


Sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini tidak lah pasti, yang pasti hanyalah kematian. Apa yang dikejar didunia? Ingin dihormati, ingin dipuji, ingin dianggap hebat/pintar/kaya dari pandangan manusia hanyalah sia-sia. Mengejar harta, status, jabatan tanpa menjalin komunikasi mesra dengan sang Pencipta? 

Sungguh lelah hidup dengan manusia....tapi melihat alm, saya jadi punya tujuan yang jelas hidup ini bagaimana, seperti apa.

Dan...satu lagi..jangan menilai ibadah orang lain dari kacamata manusia. Dia ahli surga, dia ahli neraka, dia jarang solat, jarang sodakoh, dia tak pernah solat sunah, tak pernah ngaji dll. Sesungguhnya banyak hal yang tidak kita ketahui, tapi Allah Maha Mengetahui apa isi hati setiap hamba-Nya.

Terimakasih Pak atas bekal hidupnya baik yang secara langsung disampaikan atau hal hal yang saya pelajari dari hasil merenung setelah kepergian Bapa.

Mohon sekiranya kirimkan al-fatihah untuk bapak kandung saya "Adji Sutarji bin Mahri" terimakasih :)



Bogor, 29 Juni 2023
Read More

Rabu, 24 Mei 2023

Cari Teman Se-Frekuensi di Umur 30 Tahun? Syuliiiittt...


Memasuki usia 30 tahun kira-kira apa ya tantangannya? Berurusan dengan diri sendiri sudah selesai, eh tapi berurusan dengan manusia lain alias bersosialisasi susah juga. Sebagai ibu rumah tangga dengan skil kerja kantoran sebelumnya, ternyata gak mudah masuk ke obrolan ibu ibu perumahan yang sudah punya anak.

Dengan gaya sosialita dan ghibah yang-aku-sendiri susah banget ngikutinnya. Oke lah dulu pengalaman drama kantor memang ada tapi dengan alasan sibuk kerja ya semua kelar. Lah ini gak keluar rumah aja bisa jadi bahan bahasan 30 menit haha.

Segala hal ditanya dari hal sepele sampai urusan yang sangat sangat privasi nan sensitif ditanya. Mau gak jawab tapi begimana ya? Kukira sebisa mungkin gak nanya hal privasi akan kehidupan orang lain, maka orang lain gak akan kepo akan hidup kita. Oh ternyata hidup tak seperti itu yorobun....... Masih ada saja orang yang nanya hal hal sensitif, kepo, dll. Padahal sebisa mungkin aku 'bersikap' dan jaga jarak tetep aja yee kepo.

Mungkin semua keingin-tahuan kehidupan orang lain berselimut 'care' dipakai untuk saling bergunjing di belakang ku, di belakang ku....*lagu peterpan

Hahaha terserah sih ya kalo gitu, i dont care :) 

Teman-teman dekat dulu pun sekarang sibuk dengan dunianya masing-masing. Tetap berkarir sambil urus anak-suami mana sempat balas chat hahahihi ibu rumah tangga yang tidak punya teman ini :p 

Atau ada juga yang se-profesi namun sayang tidak se-frekuensi dalam banyak hal misal parenting. Okelah tiap orang punya pilihan, keputusan yang beda tapi ya mulutnya ditahan dong jangan di-nyinyir-in mentang-mentang beda pilihan. 

Sederhananya lahiran normal vs SC aja jadi bahan perbandingan 6 sks yang intinya "woy gue lahiran normal is the best choice, u apaan lahiran sc emang keluar ASI nya? Abis lahiran normal banyak pantangannya bla..bla..bla.." Seolah-olah yang lahiran normal paling menderita hidupnya, yang lahiran SC minggir dulu!!! Wkwkwkwk :p

Eh tapi boleh dong ya kita menarik diri dari orang orang yang bikin kita kena mental alias tersinggung. Apa ini disebut pembenaran? Hehe 

Rasa-rasa nya di usia ini sudah malas ya untuk debat sama orang....apalagi yang beda frekuensi, ya gak nyambung begimana juga.

Akhirnya the one and only bestie sang ibu rumah tangga adalah anaknya sendiri, selalu ada, selalu setia sambil teriak "Ibu..Ibu mana...ibu mana..." - Kala 1,5 tahun.

Ya intinya disyukuri saja hidup yang terjadi apa adanya. Perjuangan memilki anak untuk aku pribadi bukan hal mudah ya. Jadi siapa yang umur 30 tahun sulit menemukan teman yang sefrekuensi? Sini yuk gabung di affiliates aku? Hahahahahaha shopee kali ah...


Rabu, 24 Mei 2023


Read More

Selasa, 14 Maret 2023

Buibu #JanganLupaSelfLove - Ibu Kudu Bahagia dan Sehat Dulu :)


Yes cerita menjadi seorang Ibu masih banyak. Apalagi semenjak pindah ke rumah sendiri (biasanya di rumah orang tua gak perlu masak, beberes hehe) urusan rumah tangga dari pagi sampai malam ga selesai selesai. Belum lagi anak kalo lagi tantrum, minta gendong terus tiada selesai atau saat suami ikut ikutan manjaaaahhhh~

Mencoba menjalai peran Ibu dengan rasa totalitas tinggi, memberikan selalu yang terbaik untuk anak dan suami sampai lupa badan sendiri.

Daaaaann terjadi lagiiii *nyanyi pinggang aku ngajeunghap in bahasa sunda artinya urat yang gak lurus menyebabkan pinggang atau bagian tubuh yang lain sakit saat di gerakan. Rasanya sakit luar biasa, dari duduk ke bangun harus dibantu. Tidur miring kanan ke kiri juga pelan pelan. Kebayang ga pas malem anak minta nyusu sambil nangis ga sabar dan kamu lagi sakit pinggang. Thank's God :)

Selama memiliki anak sudah 2-3x ngajeunghap tuh dan selalu di urut baru bisa sembuh. Itu pun setelah di urut perlu nunggu 2-4 hari baru bener bener sembuh + minum obat pereda nyeri.

Namun saat sakit tugas jadi istri dan ibu tiada dispensasi hahahaha that's why surga untuk istri bisa masuk dari pintu mana saja memang benar sejalan dengan perjuangannga. Masyaallah ya buibu :D

Well sekarang belum bisa gendong anak dulu. Tapi anak minta gendong terus lalu nangis lalu berisik masyaallah (lagi) jadi seorang Ibu perlu memiliki lapangan sabar seluas GBK eh kurang besar, seluas samudra sedunia hahahahahaha

Salut buat para buibu yang menjalani peran rumah tangga + urus anak + bekerja/dagang/bisnis wah para suamik gak akan bisa ngejar. Memang ya wanita itu fitrahnya multi-tasking bisa selesai dalam waktu bersamaan. Hebat..hebat....

Eh tapi ada juga ya segelintir buibu yang suka nyinyir, komen, ghibah, kasih saran sambil menjatuhkan atas keputusan syulit yang sudah kita ambil, lelah gusti sama manusia macam ini -,-

Well inti dari tulisan ini adalah JANGAN LUPA SELF LOVE!! SAYANGI BADANMU, MENTALMU baru anak dan suami. Karna sejati nya Ibu yang bahagia (dan juga sehat) akan bisa sepenuh  hati melayani suami dan anak dengan penuh kasih sayang. Peluk diri sendiri setiap saat. Berhenti ketika lelah (karna pekerjaan rimah tangga tak akan pernah selesai). Makan makanan bergizi dan enak. Istrihat cukup. Jalan jalan sebuah kewajiban. Nyalon dan pijit masukin ke dalam list bulanan. Secangkir kopi di pagi hari. Yoga/meditasi setitik. Bengong juga boleh dan jangan lupa drakoran liat pemain yang memanjakan mata seperti cha eun-woo atau kim seoh-ho hahahahaha

Yok bisa yokk!!! Ditulis saat pake korset dan kala lagi bobo.


Bogor, 14 Maret 2023
Read More

Rabu, 06 April 2022

7 Hal tentang drakor "Twenty Five, Twenty One" yang bisa kita selami lebih dalam!

Drama Korea "Twenty Five Twenty One" yang tayang di TvN wajib ditonton. Selain karena bisa nostalgia romantisasi dan persahabatan zaman remaja, di drama itu juga ngebahas banyak hal yang oke sih untuk di selami lebih dalam. Berbeda dengan drama korea "Reply 1988" yang ada unsur keluarga, di film 2521 (Twenty Five, Twenty One) menceritakan para tokoh di masa remaja menuju dewasa. Apa aja sih yang menarik? Ini dia ya ringkasannya. Spoiler Alert!!! 

1. Tekad dalam meraih mimpi
Na Hee-Do si pemeran utama sangat menyukai Anggar sejak sekolah dasar. Untuk mewujudkan mimpinya menjadi atlit timnas korea, ia rela pindah sekolah dan fokus dalam pelatihan. Akhirnya bukan saja masuk timnas korea, tapi meraih medali emas di tingkat internasional. Pelatihnya bilang bahwa tekad yang kuat bisa bawa kita kesana. So, kalo kita ingin sesuatu bukan hanya perlu skill, keberuntungan dan semangat, akan tetapi tekad yang kuat dan pantang menyerah. 

2. Mimpi yang buat kita happy
Berbeda dengan Ko Yu-Rim yang merupakan saingan sekaligus sahabat Na Hee-Do dalam bermain anggar, Yu-Rim bermain anggar demi keluarga dan mendapatkan uang. Sedangkan Hee-Do merasa senang ketika bermain anggar. Jadi selama proses latihan, dalam kompetisi baik menang atau kalah, semua dijalani dengan rasa happy tanpa tekanan ini itu. 

3. Jadikan tragedi sebagai komedi
Lagi lagi karakter Hee-Do menggambarkan bahwa tragedi bisa dijadikan lawakan daripada harus terus menerus hanyut dalam kesedihan atau sesuatu yang tragis. Ini oke sih ya buat kita yang sedang berada di umur umur menuju dewasa, kok semua serasa tragis gitu? hehe

4. Alasan meraih mimpi
Back Yi-Jin si karakter utama laki laki punya alasan kuat menjadi reporter karna untuk menyatukan keluarganya kembali setelah keluarganya bangkrut karna hutang sang Ayah. Jadi mau bagaimanapun kerasnya ia bekerja sebagai reporter, Yi-Jin pantang menyerah karna punya alasan yang kuat untuk keluarganya. Meski dalam prosesnya tidak se-happy Hee-Do yang memang bermain anggar untuk dirinya sendiri. 

5. Tidak semua yang kita anggap benar itu benar
Ji Seung-Wan si ketua kelas yang sangat pintar di SMA punya pemikiran tersendiri tentang apa yang dia anggap benar. Ada salah satu adegan dimana dia merasa hidup sangat membosankan dan tidak ada masalah, bahkan Seung-Wan rela mengundurkan diri dari sekolah sebulan sebelum ujian masuk universitas hanya karna perbedaan prinsip tentang kebenaran. Di dunia luar sekolah atau pekerjaan, kita akan hidup berdampingan dengan apa yang kita anggap tidak benar. Sekeras apapun berusaha, hal itu akan terus terjadi. Maka jawabannya adalah "beradaptasi lah".

6. Tidak sukses dalam pelajaran = sukses di bidang lain
Paradigma nilai akademik yang tidak bagus akan menjadikan dia manusia yang gagal ternyata dibantahkan oleh Moon Ji-Woong. Meski Ji-Woong jadi siswa peringkat terakhir di sekolah dan tidak kuliah, tetapi ia berhasil menjadi direktur akan bisnisnya sendiri dan mendapatkan banyak uang. Ini terbukti sih di real life? Ada gak sih temen kamu yang kaya gini? hehe sini spill di kolom komen :D

7. Tak ada yang abadi
Saat remaja dengan segala problematika dan keseruannya kita merasa dunia bisa kita genggam dengan mudah. Persahabatan atau bahkan cinta yang terjalin serasa tidak akan pernah berakhir dengan perasaan yang sama. Padahal seiring berjalannya waktu, semua bergeser, berubah prioritas. Selepas SMA semua mengejar mimpi masing masing sehingga berjumpa jadi terasa sulit karena kesibukan. Moment indah saat remaja makin hari memudar ketika dewasa. Namun apa yang sudah terjadi saat itu baik persahabatan atau percintaan yang mendatangkan rasa senang, sedih, kecewa, bahagia, air mata tak perlu disesali karena semua perasaan itu berhasil membentuk kita yang sekarang menjadi lebih bijak, lebih dewasa dalam berpikir. Ayo ada gak yang lagi merasa makin dewasa kok circle pertemanan makin sempit ya? kok susaaaah banget atur waktu untuk ketemu seperti dulu dengan formasi lengkap? 

8. Antara hati dan profesi
Ini sih yang jadi BOOM di episode akhir 2521 dan jadi perbincangan. Yap, tidak semua percintaan harus happy ending dong ya? Buat apa suatu hubungan terus berlanjut tapi makin membuat satu sama lain menderita, yang ada malah timbul rasa benci padahal sebelumnya dua orang itu saling mendukung dan menganggap penting satu sama lain. Lagi lagi Hee-Do menunjukan sisi dewasanya, dia berani putus dengan Yi-Jin tapi dengan cara yang baik, indah, tetap sedih namun tanpa rasa penyesalan di kemudian hari. Ketika dua orang memiliki profesi yang berbeda sehingga sulit untuk berjumpa, hubungan jadi hambar untuk apa dilanjutkan? Profesi yang sedang dijalani saat itu adalah suatu proses meraih mimpi yang tak mudah, rasanya tak elok dikorban hanya demi cinta, bukan? Adegan lengkap nya ada ketika Hee-Do dan Yi-Jin bertemu di halte bus sebelum Yi-Jin berangkat ke New York. Semua dialog nya sarat akan makna. Mereka saling menyemangati satu sama lain sebelum berpisah dengan jalan masing masing. Berpisah tanpa menyakiti. Berpisah baik baik dengan membawa rasa yang sama, sampai nanti. Tiba tiba lagu 'Tulus-Hati Hati dijalan' diputar hehe. Zaman sekarang ya putus cinta denga penuh makian sehingga buat menyesal atau bahkan trauma di kemudian hari, akan tetapi Hee-Do punya pemikiran lain. Daaaaan ini NYATA banget sih, gak sedikit hubungan yang akhirnya 'gagal' namun memberikan banyak pelajaran setelahnya. Nostalgia masa remaja ulalalalala~~~

Cukup kali ya 8 makna terdalam yang bisa kita selami di drama korea 2521. Ada pandangan lain? Jawab di kolom komentar ya! 

Paling asik baca blog ini sambil dengerin lagu original soundtrack dari 2521 dengan judul With yang dinyanyikan oleh kelima pemain utama. Jangan lupa baca liriknya ya bestie biar makin terngiang-ngiang hehe :) 


Semoga bermanfaat! 

Bogor, 
Rabu, 6 April 2022 pas Kala lagi bobo siang
Read More

Minggu, 19 Desember 2021

Become a New Mom!

Selamat satu bulan jadi Iboookkk!!

Ya namanya ibu baru ya kadang ada rasa sensitif berlebih, rasa insecure bisa ga ya urus bayi? Sampai disebut lebay takut bayi kenapa-napa. Belum lagi perasaan lelah dan cape sendiri sampai rasanya omongan dari sekitar seperti tekanan/kritik pedas bahkan tak jarang cukup menyakitkan wkwk padahal orang tuh ngomong gak ada niat buat nyakitin loh, apalagi dari mereka circle terdekat aku.

Ini dia perasaan campur aduk saat tepat 3 minggu jadi Ibook, ditulis di notes handphone sambil berlinang air mata hehe :p

----------------

Setauku, gak ada ibu yang gak ikhlas melakukan apapun perihal mengurus anak. Bahkan saat anak belum lahir pun, dalam fase mengandung (hamil) Ibu sudah rela badannya jadi berubah, menahan sakit entah mual/heartburn di sepanjang malam, membawa beban diperut yang semakin hari semakin berat. Belum lagi persiapan fisik mental menuju lahiran. Makan makanan bergizi untuk si buah hati saat hamil/menyusui. Menahan diri  untuk tidak konsumsi sesuatu yang disuka selama hamil karna mungkin bisa saja membahayakan janin. Mengikis ego selama 9 bulan mengandung bukan perihal mudah, kawan!

Setelah melahirkan, perut jadi berubah. Strechmarks yang menempel sebagai kenangan selama hamil sulit dihapus. Berat badan yang masih jauh dari berat badan semula sebelum hamil. Pertama kali makan/tidur merasa gak tenang siapa tau bayi membutuhkan si ibu. Ah si Ibu baru ini ternyata banyak hal yang harus dipelajari setiap harinya, bukan hanya ilmu parenting/new born, akan tetapi persiapan mental juga sama pentingnya. 

Si Ibu baru merasa telah berkorban banyak, sehingga mendengar sebuah kalimat simple nan sederhanan cukup membuat hati si Ibu sakit. Kalimat tersebut berbunyi "makannya yang ikhlas kalo lagi urus bayi" 

Mendengarnya hati seperti disambar petir, mau marah dan jelasin panjang lebar jelas dia gak akan ngerti karna belum pernah bahkan tidak akan pernah menjadi seorang Ibu. Rasanya kecewa mendengar kalimat itu karna datang dari salah satu support system terdekat. 

Ya.. tulisan diatas bukan semata curhatan belaka, mungkin peran baru yang berlaku seumur hidup ini, masih belum memiliki persiapan yang matang, terutama mental dan kerjasama antara suami istri, ortu, dan support dari keluarga terdekat. 

Dan ada satu lagi, si ibu baru jadi lebih sensitif dari biasanya. Mungkin si bapak baru juga. Saking ingin melindungi bayi yang merupakan anak pertama, ya dikit dikit baper jadi hal yang lumrah. Belum lagi perdebatan mengurus bayi versi ortu zaman dulu vs sekarang. Melawan mitos mitos yang bukan berdasarkan ilmu pengetahuan. Cukup melelahkan -,-

Oh iya satu lagi, si ibu baru merasa jadi objek yang pertama kali disalahkan ketika bayi kenapa napa. Padahal dia juga manusia, gak bisa 24jam mengawasi bayi dengan pengalaman yang belum ada sama sekali. Cara gendong bayi yang masih dikomen, pelekatan saat menyusui yang masih selalu disalahkan dan kegiatan lainnya yang berhubungan erat dengan bayi. Padahal hari pertama saat bayi lahir, sang Ibu baru juga lahir, mereka sedang sama-sama belajar. Si ibu baru juga masih harus mengerjakan perihal rumah tangga yang lain semperti membersihkan rumah, mencuci baju, pumping ASI, makan makanan bergizi untuk bayi, cuci dan steril pumpingm dot, botol dll. Itu baru urusan rumah, belum tetek bengek bayi dari mulai pesen online/belanja jika minyak telon/pampers udah abis, gantiin popok, mandiin, lipetin  baju bayi  dan segudang aktifitas yang dilakukan setiap hari dengan terus menerus. 

Perlu diketahui, untuk sekedar tidur siang pun mesti curi curi waktu. Diutamakan makan dulu kemudian pumping ASI dan ketika sudah siap mau bobo cantik eh bayi bangun minta nen. 

Kalo pas malem jangan ditanya, si ibu baru ini yang pertama kali bangun ketika bayi bersuara, menyapih di dini hari dengan mata yang berat. Bangun tidur, tangan dan pinggang pegel adalah hal biasa. 

Bukan maksud hitung-hitungan-an atas pengorbanan seorang Ibu seperti apa, atau merasa paling berkorban. Setiap keputusan yang diambil pasti ada resiko nya yang kadang bikin senang atau sebaliknya. Pun sama ketika memutuskan punya anak, sudah jelas apa resiko yang akan dihadapi nanti, jadi siap untuk kurangi mengeluh dan banyak bersyukur. Si Bapak baru juga mungkin merasakan hal yang sama, tapi jelas fokus dan kapasitasnya berbeda.

Tulisan ini bukan untuk membela atau membenarkan (hal yang keliru misal sampai menyakiti bayi) semua tentang si Ibu baru yang mungkin sedang mengalami baby blues atau Post Parfum Depression.

Tulisan ini dibuat hanya ingin memberikan sedikit perspektif bahwa si Ibu baru juga masih tahap belajar. Tolong jangan di judge, disalahkan bahkan dibilang tidak ikhlas dalam hal mengurus anak sendiri. Saking sayangnya suami/ortu/mertua/keluarga sayang dengan bayi, bukan berarti si ibu baru ini patut disalahkan, dikomentari, atau dijudge. Rasa sayang Ibu kepada anaknya tak bisa digantikan, bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekali pun, si ibu baru ini siap kapan saja mati demi anaknya. 

--------------

Dear New Mom, kalian hebat sudah sampai di tahap ini. Kadang kita perlu tebal kuping terhadap saran/masukan yang tiada henti mampir di kuping kita. Tebal hati terhadap judge/kritik yang diberikan kepada kita. Betul, semua karena sayang yang berlebih dari orang-orang sekitar terhadap anak kita, tapi sayangnya mereka lupa rasa "empati" terhadap si Ibu baru. 

Iya, si ibu baru yang tiap hari bingung harus gimana, dikejar waktu belajar banyak hal setiap harinya. Buku yang dibaca, seluruh intisari yang ditulis dalam buku catatan serasa sia-sia. Tapi satu hal yang berhasil menengkan hati dan membuatnya untuk terus belajar setiap hari yaitu senyum manis si bayi mungil. Meski sering terjadi saat kita sedang menyusui, perut dalam keadaan kosong, dasteran, keringetan campur ASI yang rembes. Dia bagai malaikat kecil yang hanya bisa bergantung denganmu, dengan ASI yang keluar dari tubuhmu. Percayalah ketika seribu orang diluar sana menghakimi, mengkritikmu, menyalahkanmu tapi akan selalu ada satu orang yang tetap tersenyum dan membutuhkanmu, yaitu anakmu sendiri. Hal tersebut membuat si Ibu baru siap diterpa apapun asal demi kehidupan si bayi.

Semoga yang membaca ini bisa lebih empati sama si ibu baru. Turut mendukung, memihak dan menenangkan. Bukan disalahkan, dikomentari ini itu. Kasih ibu sepanjang masa untuk anaknya, percaya!


Bogor, 19 Desember 2021

Selamat 1 bulan anakku, Kirana Kala Senja :)



Read More

Selasa, 16 November 2021

Dear Kala.....


Dear Kala, 

Terimakasih sudah hadir di perut Ibu selama 9 bulan. Terimakasih sudah memilih kami sebagai orang tua. Kita tau bahwa sejatinya kita tak bisa meminta ingin dilahirkan dari orang tua yg mana. Ibu dan Ayah janji akan terus belajar menjadi orangtua yang baik untuk kamu Ka! Bukan yang terbaik ya, karna kami tidak tau yang terbaik itu seperti apa. 

Banyak doa dari kami yang dipanjatkan setiap harinya. Namun yang terutama adalah semoga Kala selalu sehat, mendapatkan banyak cinta dari sekitar dan yang paling penting selalu dalam lindungan Allah SWT. 

Ibu dan Ayah akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi ego masing masing, lebih kuat dalam bekerja sama, banyak belajar ilmu parenting, semuanya demi pertumbuhan dan perkembangan Kala! 

Untuk mendapatkan kamu, Ibu dan Ayah memang harus diuji dulu oleh Allah SWT, namun proses tersebut menjadikan kami lebih siap menunggu kehadiran kamu. Seperti namamu "KALA" yang artinya waktu. Kamu adalah anugerah yang Allah SWT beri di waktu terbaik menurut-Nya. Semoga namamu selalu menyadarkan di sepanjang hidup Ibu dan Ayah, bahwa Allah SWT akan memberikan apapun itu di waktu terbaiknya.

Ibu dan Ayah tak meminta Kala untuk menjadi siapa dan apa. Jadilah diri sendiri! Lakukan apa yang ingin Kala lalukan asal tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Temukan kebahagiaan dan kesuksesan versi-mu! Berikan banyak manfaat untuk sekitar dan bersenang-senang lah dalam hidup. 

Sejatinya tugas Ibu dan Ayah hanya sebatas mendidik dan merawat-mu, sisanya ini adalah hidupmu sendiri. Dan yang paling kami sadari, Kala bukan milik kami seutuhnya, tapi milik Allah SWT. Jadi, Kala harus takut sama Allah SWT ya! 

Sesuai namanya Kirana Kala Senja, Kirana artinya indah. Semoga memiliki bukan hanya paras yang indah, tapi hati, sikap, dan tutur kata yang tidak kalah indah. Kala artinya waktu. Semoga Kala mengerti bahwa apapun akan Allah SWT beri diwaktu terbaik menurut-Nya. Dan, senja itu cantik kesukaan Ibu dan Ayah :) 

Selamat datang di indahnya dunia.

Sekian. 
Ibu dan Ayah sang orangtua baru. 

Selasa, 16 November 2021
(3 hari sebelum operasi SC) 
Read More

Senin, 09 Agustus 2021

Self Love adalah Proses Tanpa Akhir



sumber gambar : Fenesia.com


Proses mencintai diri sendiri adalah proses tanpa akhir. Proses yang terus menerus dilewati-dihadapi-dilakukan-disadari selama hidup, bahkan sampai tua. Hidup berdampingin dengan manusia -ya manusia adalah makhluk sosial- di dunia serba kompleks ini memang nggak mudah. Ada banyak manusia yang memiliki keresahan dan masalah -ya tiap orang pasti punya masalahnya masing masing kan ya- sehingga menjadi 'tidak sensi' terhadap situasi orang lain. Media sosial yang 'serba mudah' ini menjadi pemicunya. Jelas, semua orang merasa BERHAK mengeluarkan pendapat, judging, memberikan komentar -yang banyaknya sih tidak solutif-. Bahkan, sampai ada looohh yang lagi kena 'musibah' ditanyain banyak hal yang personal nan sensitif karna rasa ingin tahunya yang tinggi, tanpa sadar pertanyaan demi pertanyaannya itu mengiris hati bagi yang sedang kena musibah. Mungkin informasi yang didapat akan jadi 'bahan' obrolan dengan teman-teman lainnya saat update kehidupan si A lagi gini loh, si B udah itu loh atau si C -yang sebenernya aku juga nggak mau tau-. Tapi kok jadi nggak etis ya rasanya? Atau ada lagi, musibah dijadikan konten demi cuan dan cuan hihi :p 

Ngomong-ngomong soal media sosial, alhamdulillah aku sudah quit dan keluar dari addict bermain medsos. Aku sudah unfollow siapa-pun orang yang aku kenal, dan follow akun/orang yang memberikan dampak positif untuk mental aku. Rasanya overknowing membuatku jadi pribadi yang terus berlari tanpa istirahat, membandingkan diri dengan orang lain, menjadikanku orang yang jauh dari kata cukup dan jarang untuk bersyukur.

Lalu aku pun private akun instagram ku, dan sangat sangat membatasi untuk sharing perihal update hidup ku sendiri. Mengurangi oversharing asik juga, aku lebih merasa intimate sama diri sendiri saat sedang berbahagia atau berduka sekali pun. Menyelami diri lebih dalam, mengenal diri lebih serius akan respon terhadap ini atau itu. Cukup menyenangkan :-)

Beberapa teman mungkin kaget dengan pilihan aku seperti ini. Ada juga teman yang bilang katanya aku lebay, tidak jadi orang positif dalam melihat media sosial/kebahagiaan orang lain. Sejenak aku tertegun dengan omongan mereka dan berhari-hari evaluasi diri sambil bertanya "emang salah ya kita nggak jadi orang positif ketika sedang down? aku kok kayaknya jadi orang yang negatif ya sekarang? apa aku ini toxic?" dan segala pertanyaan yang intinya terus menyalahi dan tidak mengapresiasi diri sendiri.

Lalu akhirnya aku ambil keputusan untuk BODO AMAT orang mau bilang apa. Segala proses yang Allah SWT kasih dalam bentuk ujian -yang sebenernya Allah pengen kita deket terus dengan-Nya- ya aku sendiri yang merasakannya. Kenapa orang lain berhak judging, komen, atau bahkan mengatur segala keputusan yang aku ambil? Toh disaat kita sedang berada dibawah atau musibah, menjadi orang positif bukan kewajiban. Emang pas lagi berduka nggak boleh gitu untuk nangis atau sekedar ambil jeda dari hiruk-pikuk lingkungan sosial? Kenapa kita dituntut -atau bahkan dipaksa- untuk terus jadi orang positif kapanpun dengan situasi apapun? It's okay to be not okay, karna semua ada masanya. Kecuali aku motivator golden ways ya yang bisa bersikap positif setiap saat :p

Ignore rasa kecewa/sedih yang sedang dirasakan sampai akting terlihat 'bahagia' didepan orang lain, ya cukup melelahkan. Itu artinya kamu membohongi diri sendiri untuk terlihat hebat depan orang lain -lagi lagi validasi dari orang lain-. Beda halnya dengan orang yang memilih 'tidak pamer' saat sedang terkena musibah untuk 'sejenak ambil jeda' tanpa intrupsi dari orang lain.

I better lose friend, dibandingkan lose my self. Segala perjuangan, pengorbanan yang sudah aku lakukan untuk 'bangkit' akan terus aku apresiasi. Aku bangga sama diri sendiri sudah berjalan dan bertahan sejauh ini. Aku berterimakasih sama diri sendiri untuk selalu jujur apa yang sedang dirasakan. Ketika sedih ya sedih, ketika marah ya marah, ketika mau nangis ya nangis. Kelak, siapapun yang berbicara 'sok tau' tentang hidupku, jelas aku tidak akan peduli (lagi). Aku tidak perlu validasi dari siapapun, aku berjalan maju secara perlahan untuk kehidupan ku kelak. Aku tau kapan harus istirahat dan mengencangkan sabuk untuk berlari kencang. Fokus membahagiakan dan selalu memprioritaskan diri sendiri. Ya, daripada terus bersama 'orang lain' tapi malah bikin diri ini makin ciut, makin negatif, makin less bersyukur, makin blame my self, makin ngerasa kurang segalanya. I wanna choose be friend with my self daripada berteman dengan orang yang negatif vibes.

Eh ngomong-ngomong tentang teman, akhir akhir ini aku sedang merasa circle pertemanan kok makin kecil ya? Kok kayaknya susah ya nemu temen yang satu pemikiran? Terus aku baca salah satu artikel di tirto yang bahas "Makin Tua Teman Makin Sedikit? Kamu Tak Sendirian".

Di umur yang bertambah, 

orang akan cenderung lebih oportunis dalam memilih teman


Baca lebih lengkap disini ya https://tirto.id/dmZD :)

Selain itu aku juga menemukan artikel di kumparan yang bahas tentang "Circle Pertemanan Semakin Kecil Tanda Kamu Berada di Fase Kedewasaan" kamu bisa baca lebih lengkap disini :)

Aku merasa 2 artikel itu relate banget sama aku apalagi yang katanya wanita -berdasarkan penelitian- akan mencari teman seperti mencari pasangan hidup, cari yang tingkat kebermanfaat-annya lebih tinggi. Makin sedikit lingkaran pertemanan bukan berarti jadi tidak memiliki teman sama sekali. Malah makin sedikit teman, ya makin lebih intens dan ber-meaning dalam setiap obrolan. Deep talk, listen, no judging ya itulah definisi pertemanan sesungguhnya.

Proses mencintai diri sendiri rasanya tak akan lekang oleh waktu. Rasanya membagi waktu dengan diri sendiri atau orang terdekat -baca suami- jadi sesuatu momen yang dinikmati dibandingkan mesti upload instagram story atau whatsapp status. Lebih memiliki more quality dan tentunya makin sayang sama diri sendiri. Kalo udah sayang, ya ngerasa dikasih kekuatan aja untuk menjalani hari atau nggak peduli sama omongan para toxic people. Terus gak perlu juga untuk mengemis kebahagiaan dari orang lain. Tidak perlu juga pencapaian besar untuk merasa bahagia, kebahagiaan-kebahagiaan kecil setiap hari seperti dengerin lagu BTS dan Blackpink sudah cukup buatku semangat di pagi hari. Atau sarapan sehat dengan segelas susu aku jadikan bentuk self love terhadap badan sendiri. Rasanya, proses mencintai diri sendiri akan terus aku rawat sampai tua. Berteman dengan diri sendiri juga akan terus aku jaga. Bukankah saat nanti kita sakharatul maut, hanya aku dan diri sendiri yang menghadapinya, bukan?

Semoga bermanfaat!


Bogor, 9 Agustus 2021

Read More

Rabu, 04 Agustus 2021

Makin Tua, Teman Makin Sedikit. Sedang Merasakan?


Satu tahun terakhir, puncaknya pasca operasi Kehamilan Ektopik aku mulai merasa tidak memiliki 'teman'. Ditambah pandemi yang belum selesai juga sehingga mempersulit ruang untuk bertemu dengan orang-orang sekedar menghilangkan penat. Tapi rasanya bukan karena itu saja, umur ku yang makin bertambah menuju angka 30 tahun, membuat aku bersikap "opurtunis" dalam memilih teman. Jelas aku menginginkan teman yang memberikan banyak manfaat, bukan hanya sekedar nongkrong ngopi, ngobrol ngaur-ngidul sana sini. Pernah di suatu obrolan teman-teman lewat zoom, lalu aku melemparkan topik tentang bahasan "agak serius" lalu salah satu temanku respon "duh serius amat sih ngobrolnya.." ya habis itu yaudah deh aku diem aja dan let it flow basa-basi nanya kabar satu sama lain.

Sempet merasa insecure kok sekarang-sekarang aku kayak gak punya temen ya? Padahal saat berusia 25 tahun aku memiliki banyak teman dengan beragam usia, background, dan mereka mudah untuk dihubungi atau sekedar diajak ketemuan mendadak. Aku mulai tuh kontak temen-temen lama, dan atur schedule untuk video call. Hasilnya? Ada yang bisa dan engga, dan banyak juga yang jadi 'orang berbeda' dari yang aku kenal sebelumnya. Atau ada juga yang sibuk sambil urus anak, kan kan aku jadi gak enak ya ngajak ngobrol lama nya. Kesimpulan : Semakin dewasa tiap orang memiliki prioritas hidupnya masing-masing, dan jika kamu sudah tidak termasuk dalam bagian dari prioritas hidup mereka ya legowo jangan baper :D

Sebagian besar teman-temanku sudah menikah dan beberapa sudah memiliki anak, dimana dari sisi waktu dan prioritas jelas berubah. Namun aja juga teman yang selalu ada ketika dihubungi namun sudah tidak satu frekuensi lagi. Entah inginnya ngobrol haha-hihi atau kepo dengan kehidupan pribadi aku "udah isi belum?" yang rutin dilontarkan beberapa bulan sekali. Itu pertanyaan yang cukup sensitif secara personal, next aku tulis dengan judul terpisah ya :) 

Ada juga teman yang kalo diajak ngobrol lebih ke judging hidup aku dan reject ketika aku ajak obrolan dengan topik yang lebih serius. Atau yang lebih parah ngobrol sama orang yang selama obrolan itu aku merasa lebih rendah dari dia. Ada lagi yang kalo tiap ketemu aku jadi overknowing tentang kehidupan temen-temen lama katanya si A udah nikah, si B lagi hamil, si C udah punya anak dan lainnya, padahal ya sengaja aku kurangin overknowing kehidupan orang lain eh dalam 5 menit jadi tau semuanya, padahal sebisa mungkin aku sudah gak main medsos huhu.

Dipikir-pikir niat ingin menghilangkan penat eh malah jadi kena mental duluan. Akhirnya aku 'menarik diri' dari mereka. Seperti selalu ada alasan untuk menolak jika diajak ketemu. Habis gimana ya aku gak mau ngorbanin perasaan sendiri hanya untuk berteman dengan orang-orang tersebut. Aku pun sedang tahap memulihkan mental pasca operasi tahun lalu.

Sempat merasa apa aku salah ya menarik diri dari pertemanan yang sudah ada? Apa aku sendiri yang toxic gak bisa terima perubahan prioritas/pola pikir mereka yang dulu kayanya-asik-banget-kalo diajak ngobrol atau sekedar hang out. Tapi balik lagi, ketenangan mental hanya diri aku sendiri yang tau nyamannya bagaimana dan sama siapa. Sampai saat ini aku masih memiliki beberapa teman yang 'masih nyambung' kalo diajak ngobrol, no judging, no kepo. no camparing dan itu aku bersyukur banget berharap bisa bertahan lama. Aaamiin.

Akhirnya aku stop blaming my self dan stop anggap diriku toxic. Aku punya hak untuk berteman dengan siapa pun yang bisa buat aku jadi orang yang positif, more self love, always grateful dan tanpa tekanan atau merasa sirik dengan cerita kehidupan mereka. Apa itu termasuk egois nan opurtunis? Lalu ketemu lah aku salah satu artikel di tirto yang bahas "Makin Tua Teman Makin Sedikit? Kamu Tak Sendirian". Isi artikel nya relate banget sama aku dan ada quote begini :

Di umur yang bertambah, 

orang akan cenderung lebih oportunis dalam memilih teman


Baca lebih lengkap disini ya https://tirto.id/dmZD :)

Selain itu aku juga menemukan artikel di kumparan yang bahas tentang "Circle Pertemanan Semakin Kecil Tanda Kamu Berada di Fase Kedewasaan" kamu bisa baca lebih lengkap disini 

Ya seneng ya kalo aku merasa lingkar perteman makin sedikit berarti aku sudah berada di fase dewasa, haseeekkk :D

Well dibalik itu semua aku juga bersyukur jadi memiliki waktu lebih banyak dengan diri sendiri. Makin kenal diri sendiri, mencoba kontrol emosi/panik atau cemas berlebih akan satu hal. Jadi kaya solve perasaan sendiri, gak perlu minta bantuan teman untuk jadi pengalihan apa yang sedang aku pikirkan secara tidak wajar. Suami pun bilang katanya sekarang aku udah gak terlalu banyak ngeluh kaya dulu. Aku sekarang merasa mudah untuk mencari kebahagiaan sendiri misal dengan baca buku, meditasi, dengerin lagu kpop atau sekedar nonton mukbang di youtube. Oh iya mungkin quit dari social media juga salah satu kenapa aku merasa teman menghilang satu-persatu, tapi anehnya hati ini terasa lebih nyaman dan tenang :)

Itu aja paling keresahan aku, aku sama suami selalu ngobrol as a friend bahwa meski sudah menikah aku dan dia memiliki kehidupan sebagai diri sendiri sebelum menikah. Misal aku seorang Nunga yang punya teman sebelum kenal dengan dia, pun dia sebaliknya. Menikah bukan berarti hidup aku-untuk-kamu, tapi perihal menambah peran sebagai istri-suami dan kelak ayah-ibu (aamiin). Iya gak sih? Tapi disaat mulai mencari/kontak teman kok mereka jadi ga se-asik dulu sih? hehe ada yang merasa gitu juga sih? Sharing dong!!



Bogor,

Rabu, 4 Agustus 2021

(Sebelumnya ini tersimpan rapih di draf blog, selama 1 tahun lebih)

Read More

Rabu, 30 September 2020

Hello! I Quit Instagram.

Gambar : Pinterest

Hello! I quit instagram.

Pernah denger kalimat diatas? Ya selain dari konten Awkarin yang fenomenal itu haha. Dulu pertama denger atau baca, dalem hati bilang "elah sosial media tuh satu-satunya hiburan di zaman sekarang, masa gak main instagram lagi cuman karena hal sepele doang sih? Apa? Hari ini gak punya instagram? Heloowwww"

Saat itu semenjak ada instagram udah kaya punya temen sendiri yang melewati segala fase dalam hidup dari mulai anak kuliahan, belum berhijab, ngerasa paling tau banyak hal, berambisi akan sesuatu, pokoknya fase dimana sedang merasa semangat mengebu-ngebu dengan semua impian. Instagram sendiri udah kaya punya nyawa :p pernah gak sih kalian buat caption nya mikir nya ampe berjam-jam atau 'riset' dulu quote di google yang relate sama foto dan caption? pernah? itu aku (hampir) setiap mau posting!!!


 
Gambar highlight story @nunganungseu 1/3



Gambar highlight story @nunganungseu 2/3



Gambar highlight story @nunganungseu 3/3


Tahun 2012 udah mulai fall in love sama instagram, dari semua sosial media yang ada, instagram udah paling paket komplit menemani masa remaja-menuju dewasa hehe. Tahun 2012 sempet nulis tentang instagram di blog loh :p 


Tahun 2013-2017 saat itu sedang semangat-mangatnya meraih mimpi, maklum awal umur 20an. Rasanya dunia dalam genggaman. Semua di share dari mulai buku yang dibaca, film, pikiran, rambut baru, tempat wisata, keindahan alam, selfie, makanan, senja, langit, baju, dan semuanya bisa dijadikan konten baik posting atau story. Udah ngerasa paling bener lah. Sisi positifnya jadi semangat belajar edit video buat "showing who I am" di sosial media. Sibuk membuat orang terkesan, haus akan pujian via mata uang instagram berupa like, komen, share, save, seen stories, dan DM yang masuk. Ada suatu keharusan posting story minimal 1 kali setiap hari sebagai tanda bahwa "gue ada kok gaes" wkwkwk lagian followers siapa juga ya yang peduli? bener-bener kaya anggep instagram sesuatu yang hidup :p


Tahun 2018 terpikir untuk sejenak berjeda dari instagram lalu pikiran itu dituangkan dalam tulisan di blog! Sudah mulai ngerasa candu berlebih dan efeknya ternyata gak baik buat diri sendiri. 

Gambar feed profil instagram @nunganungseu 


Tahun 2019 aku harus cari pengalihan lain seperti rajin nulis blog, bikin konten #janganlupaselflove yaitu @spreadpositive.id baca disini untuk tau kenapa akun tersebut dibuat :)

Kegiatan kaya buka notif - uninstall aplikasi instagram di hp - turn off notification - install aplikasi instagram - menahan diri untuk gak cek story yang tampil di beranda - log out akun - kembali log in akun - stalking beranda cuman scrol doang - tahan diri stalking - cek DM udah jadi kegiatan rutin selama berusaha jeda dari toxic instagram. Ada yang sedang atau sudah merasa? Gimana? Gampang? Jelas susah banget!! Akhirnya sekarang aplikasi instagram masih terpasang dan udah gak ada rasa gatel pengen buka atau iseng untuk stalking. Lebih sering buka instagram akun @spreadpositive.id dan @halamandepan.id yang merasa lebih tenaaaaaaangg :) 

Ada rasa mulai 'normal' berteman dengan instagram. Makin lama aku merasa kok pengguna instagram isinya cuman buat pamer (in my perspectife ya, no hard feeling)? Punya ini itu, dikasih ini itu, yang esensi dari sisi angle foto, something inspire, positive vibes kayak udah gak ada. Sosial media jadi ajang menunjukan sisi berkilau, produk terbaik yang dipunya, kehidupan bahagia, dan topeng-topeng indah lainnya. Semua bergerak ke arah bisnis apalagi dengan adanya "influencer". Value seseorang dilihat dari jumlah followers, jumlah likes dan komen (berupa pujian) yang didapat. Semua berlomba-lomba untuk menjadi influencer/ingin buat orang terkesan. Padahal kita melihat nilai seseorang bukan berdasarkan atribut yang dipakai, kan? Bukan dari seberapa kaya, popularitas, hebat, dan jumlah followers nya, kan? 

Kenapa kita harus lebih respect sama mereka yang lebih kaya? mereka yang kerja di perusahaan hebat dengan posisi manager? mereka yang penghasilan perbulan 3 digit? mereka yang selalu pakai barang branded? Bukankah saat sekolah kita diajarkan untuk respect kepada mereka yang lebih tua? Apalagi dalam agama. Gemerlap dunia memang betul-betul ujian dan sosial media menjadi platform untuk memuaskan hasrat tersebut. 



Gambar feed profil instagram @spreadpositive.id


Tahun 2020 akhirnya menjadi tahun dimana aku bener-bener muak sama instagram. Awal tahun terpikir bikin Podcast namanya PHD singkatan dari Podcast Halaman Depan sebagai cara aku dalam berkarya atau bikin konten. Ditambah bulan Februari 2020 lalu aku bekerja sebagai sosial media specialist, setiap hari mikirin ide konten untuk 4 brand klien berupa ide, caption, copy image, posting, kuis, engagement, dan teman-temannya yang membuat aku muak liat tampilan aplikasi instagram pribadi. Eh, tapi dari sana aku mulai merasa tenang dan santai saat seminggu gak buka instagram pribadi. Lanjut gak buka instagram sebulan, dua bulan sampai sekarang udah 9 bulan. 

Gambar feed profil instagram @halamandepan.id


And here's we go, apa aja alasan selama 2 tahun terakhir menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk quit from instagram baik stalking atau posting :


1. Ngerasa insecure, less self love, gak bersyukur sama hidup sendiri setelah stalking

Seperti yang udah dibilang diatas, isi beranda aku gak jauh dari pencapaian dari orang-orang yang aku kenal. Eh, bukan pencapaian aja deng, kaya apa yang dipunya, apa yang didapat, apa yang sedang dirasa yang padahal mungkin mereka niatnya bukan buat pamer ya. Tapi karena aku sadar, aku gak bisa kontrol orang lain mau posting apa jadi aku memutuskan untuk kontrol diri sendiri lewat stop stalking. Stalking berlebihan menurut aku, ini bukan hal baik untuk diri aku sendiri. I know me so well. Dan karena sudah tau, jadinya aku pilih melakukan sesuatu yang membuat aku lebih nyaman (secure), bahagia, dan menemukan ketenangan jiwa hehe. Mulai deh itu mensyukuri apa yang dipunya selama ini. Eh bukannya dasar bahagia itu bersyukur ya? Menikmati takdir yang ada. Lalu timbul rasa jadi lebih bangga aja akan pencapaian diri selama ini. Menerima diri apa adanya, dan makin erat aja hubungan sama diri sendiri.

Emang bener, katanya paling nyaman menggunakan sosial media dengan follow no body, terutama orang yang kita kenal :)


2.   Haus akan pujian atau pengakuan orang lain lewat likes & komen saat posting

Instagram kaya katalog hidup lo yang berbinar-binar - Marissa Anita. Nah ini buat aku si ekstrovert, rasanya jadi center of attention tuh udah kaya bagian dari hidup. Suka aja gitu kalo diliatin dan diperhatiin. Lewat instagram lah (saat itu) aku merasa dapat pengakuan dari orang-orang lewat jumlah likes, komen, reply DM dari story atau seberapa banyak orang yang share konten aku. Makin banyak yang likes/respon, makin merasa seneng luar biasa. Hidup diatas ekspetasi orang lain. Hidup untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Hidup untuk membuat dunia terkesan. Ya itu deh yang dirasa selama addict main instagram saat itu. 

             

3. Instagram mengandung dopamin (rasa senang) dan menimbulkan kecanduan

Setelah merasa haus akan pujian lewat postingan di instagram, aku merasa makin kecanduan untuk melakukan hal yang sama terus menerus. Setelah posting, setiap 5 menit cek notif siapa aja yang likes atau komen haha. Ternyata sosial media termasuk instagram mengandung dopamine (zat yang buat seneng) dan juga mengandung zat adiktif yang buat kecanduan. Deddy Corbuizer pun pernah bahas ini di channel youtubenya. Lalu aku juga nonton di youtube Bailey Parnell di TED Talks yang judulnya Is Social Media Hurting Your Mental Health?

Dari video diatas ternyata Co-Founder instagram mengakui bahwa aplikasi yang dibuatnya mengandung dopamine yang bisa membuat orang senang. Dan jika dilakukan terus menerus akan menimbulkan adiktif berupa rasa candu atau nagih untuk merasakan kesenangan tersebut secara berulang. Setelah riset panjang jauh kedepan, mereka (Co-Founder facebook dan instagram) membuat aplikasi dimana siapapun yang menggunakannya akan merasa senang dan ketagihan. Mereka yang ciptain aja udah tau dampak nya gimana. Wah gila sih ya! Gak percaya? Coba cek videonya dibawah ini :

Bailey Parnell di TED Talk, klin disini untuk cek video nya


4. Less quality time in real life & susah produktif

Kecanduan main instagram kadang buat diri ini lupa bahwa kehidupan nyata berikut dengan orang-orang didalamnya, berhak mendapatkan perhatian dari diri kita. Saat sedang kumpul bersama teman lama atau keluarga, eh semua sibuk mengeluarkan handphone untuk snapgram, status WhatsApp atau live instagram. Belum selesai sampai disitu, jari jemari sibuk bales komen atau DM yang masuk satu persatu. Quality time di dunia nyata tergantikan dengan mereka yang ada di dunia maya. 

Dari sisi produktifitas juga ngaruh banget, kadang aku bisa stalking sampe berjam-jam, semua aku kepoin baik selebgram, artis, atau temen sendiri. Udah deh mulai hitung-hitungan value seseorang lewat dunia maya. Nah tentang produktif aku sempat nonton channel youtube Greatmind yang bahas tentang Puasa Media Sosial.

Marisa Anita on Greatmind Youtube Channel, klik disini untuk cek video nya


5. Tidak membuat iri orang lain dengan apa yang diposting

Karena aku merasa insecure saat stalking, maka aku berpikir berkali-kali lipat sebelum posting sesuatu. Apa ada orang lain yang merasa sedih setelah liat postingan aku? Padahal jelas selama ini posting sesuatu gak ada niat untuk bikin orang lain iri. Belum lagi waktu itu sempet baca-baca tentang AIN dari sosial media. Wah jangan-jangan selama ini aku terkena AIN ya karena 'berlebihan' saat posting. Meski gak tau bener apa engga, tapi gak ada salahnya dong menghindari diri agar tidak terkena AIN atau secara gak langsung meminimaliasir membuat orang lain untuk tidak iri/dengki, yang bisa saja jadi mendoakan keburukan buat kita (amit-amit ya Allah). Jadi akhirnya memutuskan untuk bener-bener mikir buat posting.

Kira-kira itu sih beberapa alasan atau latar belakang aku memutuskan untuk quit dari instagram. Jadi inget Najwa Shihab pernah bilang setiap fase kehidupan itu selalu ada jeda. Aku pun akhirnya memutuskan berjeda setelah menjadi orang yang addict terhadap sosial media dari tahun 2012-2019 kurang lebih 7 tahun. Sekarang udah di bulan ke-9 aku gak main instagram, terhitung dari Januari 2020. Hasilnya? Sekarang aku jadi lebih bersyukur aja dalam hidup, gak kebawa emosi untuk compare hidup aku dengan orang lain, atau berusaha untuk dapat pengakuan/pujian dari orang lain. Ditambah jadi lebih intens deep talk sama suami, keluarga, dan sahabat. Meski memiliki banyak followers it doesn't mean mereka aware/care sama aku. If u know me atau mau tau kabar aku, silakan japri via WhatsApp, telepon atau DM. Secara gak sadar akhirnya aku tau mana temen yang beneran care di real life atau mereka yang care hanya di dunia maya :p


"Lo beneran gak main instagram lagi gara gara insecure Nung? Sama sekali gak buka dalam sehari? Gak pengen buka gitu?"

"Jadi kenapa ga main instagram lagi? Tapi masih suka nulis blog kan? Suka main internet?"

"Main instagram tuh hiburan Nung, terus lo sekarang hiburannya apa?"


Nah, kira-kira itu lah beberapa respon dari temen-temen yang sadar si addict instagram ini tiba-tiba gak nongol lagi di beranda mereka haha. Internet kan gak harus tentang sosial media apalagi instagram buuu. Hiburan aku sekarang youtube dan netflix. Ada banyak film, series yang aku tonton dari netflix. Dan sekarang kamu bisa cari apapun di youtube. Mulai dari mukbang, berita terkini sampai ceramah. Alhamdulillah aku masih merasa terhibu dan itu lebih cukup. Pikiran lebih fokus ke diri sendiri dan orang-orang terdekat. Gak banyak yang aku pikirkan atau informasi yang masuk ke dalam otak. Bener-bener filter informasi dan itu much better :D

Next kedepannya gimana Nung? Mungkin tetap akan main instagram, tapi sangat sangat dikontrol. Atau mungkin ganti akun pribadi jadi akun usaha dan berpromo ria disana. Yang paling ekstrem sih sampai delete akun hmm belum tau juga. Buat yang baca tulisan ini dan sadar aku menghilang dari instagram, kita masih bisa komunikasi by WhatsApp yaa. Kuy DM segera nanti aku lempar nomornya hihi :p

Ada yang sedang atau terpikirkan untuk quit instagram? Ya mulai dulu nih detoks nya sedikit demi sedikit. 


Atau buat kamu yang addict instagram tapi gak ngerasain insecure kaya aku, KALIAN LUAR BIASA. Serius!! Tetap pertahankan ya guys dan bukan berati yang kamu lakukan itu salah. Kalian udah bisa kontrol itu semua. Great Job! 

Yuk, share cerita kamu tentang detoks instagram di kolom komentar atau cara santai kamu hadapi toxic yang ada di sosial media ^_^



Semoga bermanfaat!

Bogor, 29 September 2020


Read More

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.