MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Senin, 09 Agustus 2021

Self Love adalah Proses Tanpa Akhir



sumber gambar : Fenesia.com


Proses mencintai diri sendiri adalah proses tanpa akhir. Proses yang terus menerus dilewati-dihadapi-dilakukan-disadari selama hidup, bahkan sampai tua. Hidup berdampingin dengan manusia -ya manusia adalah makhluk sosial- di dunia serba kompleks ini memang nggak mudah. Ada banyak manusia yang memiliki keresahan dan masalah -ya tiap orang pasti punya masalahnya masing masing kan ya- sehingga menjadi 'tidak sensi' terhadap situasi orang lain. Media sosial yang 'serba mudah' ini menjadi pemicunya. Jelas, semua orang merasa BERHAK mengeluarkan pendapat, judging, memberikan komentar -yang banyaknya sih tidak solutif-. Bahkan, sampai ada looohh yang lagi kena 'musibah' ditanyain banyak hal yang personal nan sensitif karna rasa ingin tahunya yang tinggi, tanpa sadar pertanyaan demi pertanyaannya itu mengiris hati bagi yang sedang kena musibah. Mungkin informasi yang didapat akan jadi 'bahan' obrolan dengan teman-teman lainnya saat update kehidupan si A lagi gini loh, si B udah itu loh atau si C -yang sebenernya aku juga nggak mau tau-. Tapi kok jadi nggak etis ya rasanya? Atau ada lagi, musibah dijadikan konten demi cuan dan cuan hihi :p 

Ngomong-ngomong soal media sosial, alhamdulillah aku sudah quit dan keluar dari addict bermain medsos. Aku sudah unfollow siapa-pun orang yang aku kenal, dan follow akun/orang yang memberikan dampak positif untuk mental aku. Rasanya overknowing membuatku jadi pribadi yang terus berlari tanpa istirahat, membandingkan diri dengan orang lain, menjadikanku orang yang jauh dari kata cukup dan jarang untuk bersyukur.

Lalu aku pun private akun instagram ku, dan sangat sangat membatasi untuk sharing perihal update hidup ku sendiri. Mengurangi oversharing asik juga, aku lebih merasa intimate sama diri sendiri saat sedang berbahagia atau berduka sekali pun. Menyelami diri lebih dalam, mengenal diri lebih serius akan respon terhadap ini atau itu. Cukup menyenangkan :-)

Beberapa teman mungkin kaget dengan pilihan aku seperti ini. Ada juga teman yang bilang katanya aku lebay, tidak jadi orang positif dalam melihat media sosial/kebahagiaan orang lain. Sejenak aku tertegun dengan omongan mereka dan berhari-hari evaluasi diri sambil bertanya "emang salah ya kita nggak jadi orang positif ketika sedang down? aku kok kayaknya jadi orang yang negatif ya sekarang? apa aku ini toxic?" dan segala pertanyaan yang intinya terus menyalahi dan tidak mengapresiasi diri sendiri.

Lalu akhirnya aku ambil keputusan untuk BODO AMAT orang mau bilang apa. Segala proses yang Allah SWT kasih dalam bentuk ujian -yang sebenernya Allah pengen kita deket terus dengan-Nya- ya aku sendiri yang merasakannya. Kenapa orang lain berhak judging, komen, atau bahkan mengatur segala keputusan yang aku ambil? Toh disaat kita sedang berada dibawah atau musibah, menjadi orang positif bukan kewajiban. Emang pas lagi berduka nggak boleh gitu untuk nangis atau sekedar ambil jeda dari hiruk-pikuk lingkungan sosial? Kenapa kita dituntut -atau bahkan dipaksa- untuk terus jadi orang positif kapanpun dengan situasi apapun? It's okay to be not okay, karna semua ada masanya. Kecuali aku motivator golden ways ya yang bisa bersikap positif setiap saat :p

Ignore rasa kecewa/sedih yang sedang dirasakan sampai akting terlihat 'bahagia' didepan orang lain, ya cukup melelahkan. Itu artinya kamu membohongi diri sendiri untuk terlihat hebat depan orang lain -lagi lagi validasi dari orang lain-. Beda halnya dengan orang yang memilih 'tidak pamer' saat sedang terkena musibah untuk 'sejenak ambil jeda' tanpa intrupsi dari orang lain.

I better lose friend, dibandingkan lose my self. Segala perjuangan, pengorbanan yang sudah aku lakukan untuk 'bangkit' akan terus aku apresiasi. Aku bangga sama diri sendiri sudah berjalan dan bertahan sejauh ini. Aku berterimakasih sama diri sendiri untuk selalu jujur apa yang sedang dirasakan. Ketika sedih ya sedih, ketika marah ya marah, ketika mau nangis ya nangis. Kelak, siapapun yang berbicara 'sok tau' tentang hidupku, jelas aku tidak akan peduli (lagi). Aku tidak perlu validasi dari siapapun, aku berjalan maju secara perlahan untuk kehidupan ku kelak. Aku tau kapan harus istirahat dan mengencangkan sabuk untuk berlari kencang. Fokus membahagiakan dan selalu memprioritaskan diri sendiri. Ya, daripada terus bersama 'orang lain' tapi malah bikin diri ini makin ciut, makin negatif, makin less bersyukur, makin blame my self, makin ngerasa kurang segalanya. I wanna choose be friend with my self daripada berteman dengan orang yang negatif vibes.

Eh ngomong-ngomong tentang teman, akhir akhir ini aku sedang merasa circle pertemanan kok makin kecil ya? Kok kayaknya susah ya nemu temen yang satu pemikiran? Terus aku baca salah satu artikel di tirto yang bahas "Makin Tua Teman Makin Sedikit? Kamu Tak Sendirian".

Di umur yang bertambah, 

orang akan cenderung lebih oportunis dalam memilih teman


Baca lebih lengkap disini ya https://tirto.id/dmZD :)

Selain itu aku juga menemukan artikel di kumparan yang bahas tentang "Circle Pertemanan Semakin Kecil Tanda Kamu Berada di Fase Kedewasaan" kamu bisa baca lebih lengkap disini :)

Aku merasa 2 artikel itu relate banget sama aku apalagi yang katanya wanita -berdasarkan penelitian- akan mencari teman seperti mencari pasangan hidup, cari yang tingkat kebermanfaat-annya lebih tinggi. Makin sedikit lingkaran pertemanan bukan berarti jadi tidak memiliki teman sama sekali. Malah makin sedikit teman, ya makin lebih intens dan ber-meaning dalam setiap obrolan. Deep talk, listen, no judging ya itulah definisi pertemanan sesungguhnya.

Proses mencintai diri sendiri rasanya tak akan lekang oleh waktu. Rasanya membagi waktu dengan diri sendiri atau orang terdekat -baca suami- jadi sesuatu momen yang dinikmati dibandingkan mesti upload instagram story atau whatsapp status. Lebih memiliki more quality dan tentunya makin sayang sama diri sendiri. Kalo udah sayang, ya ngerasa dikasih kekuatan aja untuk menjalani hari atau nggak peduli sama omongan para toxic people. Terus gak perlu juga untuk mengemis kebahagiaan dari orang lain. Tidak perlu juga pencapaian besar untuk merasa bahagia, kebahagiaan-kebahagiaan kecil setiap hari seperti dengerin lagu BTS dan Blackpink sudah cukup buatku semangat di pagi hari. Atau sarapan sehat dengan segelas susu aku jadikan bentuk self love terhadap badan sendiri. Rasanya, proses mencintai diri sendiri akan terus aku rawat sampai tua. Berteman dengan diri sendiri juga akan terus aku jaga. Bukankah saat nanti kita sakharatul maut, hanya aku dan diri sendiri yang menghadapinya, bukan?

Semoga bermanfaat!


Bogor, 9 Agustus 2021

Read More

Rabu, 04 Agustus 2021

Makin Tua, Teman Makin Sedikit. Sedang Merasakan?


Satu tahun terakhir, puncaknya pasca operasi Kehamilan Ektopik aku mulai merasa tidak memiliki 'teman'. Ditambah pandemi yang belum selesai juga sehingga mempersulit ruang untuk bertemu dengan orang-orang sekedar menghilangkan penat. Tapi rasanya bukan karena itu saja, umur ku yang makin bertambah menuju angka 30 tahun, membuat aku bersikap "opurtunis" dalam memilih teman. Jelas aku menginginkan teman yang memberikan banyak manfaat, bukan hanya sekedar nongkrong ngopi, ngobrol ngaur-ngidul sana sini. Pernah di suatu obrolan teman-teman lewat zoom, lalu aku melemparkan topik tentang bahasan "agak serius" lalu salah satu temanku respon "duh serius amat sih ngobrolnya.." ya habis itu yaudah deh aku diem aja dan let it flow basa-basi nanya kabar satu sama lain.

Sempet merasa insecure kok sekarang-sekarang aku kayak gak punya temen ya? Padahal saat berusia 25 tahun aku memiliki banyak teman dengan beragam usia, background, dan mereka mudah untuk dihubungi atau sekedar diajak ketemuan mendadak. Aku mulai tuh kontak temen-temen lama, dan atur schedule untuk video call. Hasilnya? Ada yang bisa dan engga, dan banyak juga yang jadi 'orang berbeda' dari yang aku kenal sebelumnya. Atau ada juga yang sibuk sambil urus anak, kan kan aku jadi gak enak ya ngajak ngobrol lama nya. Kesimpulan : Semakin dewasa tiap orang memiliki prioritas hidupnya masing-masing, dan jika kamu sudah tidak termasuk dalam bagian dari prioritas hidup mereka ya legowo jangan baper :D

Sebagian besar teman-temanku sudah menikah dan beberapa sudah memiliki anak, dimana dari sisi waktu dan prioritas jelas berubah. Namun aja juga teman yang selalu ada ketika dihubungi namun sudah tidak satu frekuensi lagi. Entah inginnya ngobrol haha-hihi atau kepo dengan kehidupan pribadi aku "udah isi belum?" yang rutin dilontarkan beberapa bulan sekali. Itu pertanyaan yang cukup sensitif secara personal, next aku tulis dengan judul terpisah ya :) 

Ada juga teman yang kalo diajak ngobrol lebih ke judging hidup aku dan reject ketika aku ajak obrolan dengan topik yang lebih serius. Atau yang lebih parah ngobrol sama orang yang selama obrolan itu aku merasa lebih rendah dari dia. Ada lagi yang kalo tiap ketemu aku jadi overknowing tentang kehidupan temen-temen lama katanya si A udah nikah, si B lagi hamil, si C udah punya anak dan lainnya, padahal ya sengaja aku kurangin overknowing kehidupan orang lain eh dalam 5 menit jadi tau semuanya, padahal sebisa mungkin aku sudah gak main medsos huhu.

Dipikir-pikir niat ingin menghilangkan penat eh malah jadi kena mental duluan. Akhirnya aku 'menarik diri' dari mereka. Seperti selalu ada alasan untuk menolak jika diajak ketemu. Habis gimana ya aku gak mau ngorbanin perasaan sendiri hanya untuk berteman dengan orang-orang tersebut. Aku pun sedang tahap memulihkan mental pasca operasi tahun lalu.

Sempat merasa apa aku salah ya menarik diri dari pertemanan yang sudah ada? Apa aku sendiri yang toxic gak bisa terima perubahan prioritas/pola pikir mereka yang dulu kayanya-asik-banget-kalo diajak ngobrol atau sekedar hang out. Tapi balik lagi, ketenangan mental hanya diri aku sendiri yang tau nyamannya bagaimana dan sama siapa. Sampai saat ini aku masih memiliki beberapa teman yang 'masih nyambung' kalo diajak ngobrol, no judging, no kepo. no camparing dan itu aku bersyukur banget berharap bisa bertahan lama. Aaamiin.

Akhirnya aku stop blaming my self dan stop anggap diriku toxic. Aku punya hak untuk berteman dengan siapa pun yang bisa buat aku jadi orang yang positif, more self love, always grateful dan tanpa tekanan atau merasa sirik dengan cerita kehidupan mereka. Apa itu termasuk egois nan opurtunis? Lalu ketemu lah aku salah satu artikel di tirto yang bahas "Makin Tua Teman Makin Sedikit? Kamu Tak Sendirian". Isi artikel nya relate banget sama aku dan ada quote begini :

Di umur yang bertambah, 

orang akan cenderung lebih oportunis dalam memilih teman


Baca lebih lengkap disini ya https://tirto.id/dmZD :)

Selain itu aku juga menemukan artikel di kumparan yang bahas tentang "Circle Pertemanan Semakin Kecil Tanda Kamu Berada di Fase Kedewasaan" kamu bisa baca lebih lengkap disini 

Ya seneng ya kalo aku merasa lingkar perteman makin sedikit berarti aku sudah berada di fase dewasa, haseeekkk :D

Well dibalik itu semua aku juga bersyukur jadi memiliki waktu lebih banyak dengan diri sendiri. Makin kenal diri sendiri, mencoba kontrol emosi/panik atau cemas berlebih akan satu hal. Jadi kaya solve perasaan sendiri, gak perlu minta bantuan teman untuk jadi pengalihan apa yang sedang aku pikirkan secara tidak wajar. Suami pun bilang katanya sekarang aku udah gak terlalu banyak ngeluh kaya dulu. Aku sekarang merasa mudah untuk mencari kebahagiaan sendiri misal dengan baca buku, meditasi, dengerin lagu kpop atau sekedar nonton mukbang di youtube. Oh iya mungkin quit dari social media juga salah satu kenapa aku merasa teman menghilang satu-persatu, tapi anehnya hati ini terasa lebih nyaman dan tenang :)

Itu aja paling keresahan aku, aku sama suami selalu ngobrol as a friend bahwa meski sudah menikah aku dan dia memiliki kehidupan sebagai diri sendiri sebelum menikah. Misal aku seorang Nunga yang punya teman sebelum kenal dengan dia, pun dia sebaliknya. Menikah bukan berarti hidup aku-untuk-kamu, tapi perihal menambah peran sebagai istri-suami dan kelak ayah-ibu (aamiin). Iya gak sih? Tapi disaat mulai mencari/kontak teman kok mereka jadi ga se-asik dulu sih? hehe ada yang merasa gitu juga sih? Sharing dong!!



Bogor,

Rabu, 4 Agustus 2021

(Sebelumnya ini tersimpan rapih di draf blog, selama 1 tahun lebih)

Read More

Rabu, 30 September 2020

Hello! I Quit Instagram.

Gambar : Pinterest

Hello! I quit instagram.

Pernah denger kalimat diatas? Ya selain dari konten Awkarin yang fenomenal itu haha. Dulu pertama denger atau baca, dalem hati bilang "elah sosial media tuh satu-satunya hiburan di zaman sekarang, masa gak main instagram lagi cuman karena hal sepele doang sih? Apa? Hari ini gak punya instagram? Heloowwww"

Saat itu semenjak ada instagram udah kaya punya temen sendiri yang melewati segala fase dalam hidup dari mulai anak kuliahan, belum berhijab, ngerasa paling tau banyak hal, berambisi akan sesuatu, pokoknya fase dimana sedang merasa semangat mengebu-ngebu dengan semua impian. Instagram sendiri udah kaya punya nyawa :p pernah gak sih kalian buat caption nya mikir nya ampe berjam-jam atau 'riset' dulu quote di google yang relate sama foto dan caption? pernah? itu aku (hampir) setiap mau posting!!!


 
Gambar highlight story @nunganungseu 1/3



Gambar highlight story @nunganungseu 2/3



Gambar highlight story @nunganungseu 3/3


Tahun 2012 udah mulai fall in love sama instagram, dari semua sosial media yang ada, instagram udah paling paket komplit menemani masa remaja-menuju dewasa hehe. Tahun 2012 sempet nulis tentang instagram di blog loh :p 


Tahun 2013-2017 saat itu sedang semangat-mangatnya meraih mimpi, maklum awal umur 20an. Rasanya dunia dalam genggaman. Semua di share dari mulai buku yang dibaca, film, pikiran, rambut baru, tempat wisata, keindahan alam, selfie, makanan, senja, langit, baju, dan semuanya bisa dijadikan konten baik posting atau story. Udah ngerasa paling bener lah. Sisi positifnya jadi semangat belajar edit video buat "showing who I am" di sosial media. Sibuk membuat orang terkesan, haus akan pujian via mata uang instagram berupa like, komen, share, save, seen stories, dan DM yang masuk. Ada suatu keharusan posting story minimal 1 kali setiap hari sebagai tanda bahwa "gue ada kok gaes" wkwkwk lagian followers siapa juga ya yang peduli? bener-bener kaya anggep instagram sesuatu yang hidup :p


Tahun 2018 terpikir untuk sejenak berjeda dari instagram lalu pikiran itu dituangkan dalam tulisan di blog! Sudah mulai ngerasa candu berlebih dan efeknya ternyata gak baik buat diri sendiri. 

Gambar feed profil instagram @nunganungseu 


Tahun 2019 aku harus cari pengalihan lain seperti rajin nulis blog, bikin konten #janganlupaselflove yaitu @spreadpositive.id baca disini untuk tau kenapa akun tersebut dibuat :)

Kegiatan kaya buka notif - uninstall aplikasi instagram di hp - turn off notification - install aplikasi instagram - menahan diri untuk gak cek story yang tampil di beranda - log out akun - kembali log in akun - stalking beranda cuman scrol doang - tahan diri stalking - cek DM udah jadi kegiatan rutin selama berusaha jeda dari toxic instagram. Ada yang sedang atau sudah merasa? Gimana? Gampang? Jelas susah banget!! Akhirnya sekarang aplikasi instagram masih terpasang dan udah gak ada rasa gatel pengen buka atau iseng untuk stalking. Lebih sering buka instagram akun @spreadpositive.id dan @halamandepan.id yang merasa lebih tenaaaaaaangg :) 

Ada rasa mulai 'normal' berteman dengan instagram. Makin lama aku merasa kok pengguna instagram isinya cuman buat pamer (in my perspectife ya, no hard feeling)? Punya ini itu, dikasih ini itu, yang esensi dari sisi angle foto, something inspire, positive vibes kayak udah gak ada. Sosial media jadi ajang menunjukan sisi berkilau, produk terbaik yang dipunya, kehidupan bahagia, dan topeng-topeng indah lainnya. Semua bergerak ke arah bisnis apalagi dengan adanya "influencer". Value seseorang dilihat dari jumlah followers, jumlah likes dan komen (berupa pujian) yang didapat. Semua berlomba-lomba untuk menjadi influencer/ingin buat orang terkesan. Padahal kita melihat nilai seseorang bukan berdasarkan atribut yang dipakai, kan? Bukan dari seberapa kaya, popularitas, hebat, dan jumlah followers nya, kan? 

Kenapa kita harus lebih respect sama mereka yang lebih kaya? mereka yang kerja di perusahaan hebat dengan posisi manager? mereka yang penghasilan perbulan 3 digit? mereka yang selalu pakai barang branded? Bukankah saat sekolah kita diajarkan untuk respect kepada mereka yang lebih tua? Apalagi dalam agama. Gemerlap dunia memang betul-betul ujian dan sosial media menjadi platform untuk memuaskan hasrat tersebut. 



Gambar feed profil instagram @spreadpositive.id


Tahun 2020 akhirnya menjadi tahun dimana aku bener-bener muak sama instagram. Awal tahun terpikir bikin Podcast namanya PHD singkatan dari Podcast Halaman Depan sebagai cara aku dalam berkarya atau bikin konten. Ditambah bulan Februari 2020 lalu aku bekerja sebagai sosial media specialist, setiap hari mikirin ide konten untuk 4 brand klien berupa ide, caption, copy image, posting, kuis, engagement, dan teman-temannya yang membuat aku muak liat tampilan aplikasi instagram pribadi. Eh, tapi dari sana aku mulai merasa tenang dan santai saat seminggu gak buka instagram pribadi. Lanjut gak buka instagram sebulan, dua bulan sampai sekarang udah 9 bulan. 

Gambar feed profil instagram @halamandepan.id


And here's we go, apa aja alasan selama 2 tahun terakhir menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk quit from instagram baik stalking atau posting :


1. Ngerasa insecure, less self love, gak bersyukur sama hidup sendiri setelah stalking

Seperti yang udah dibilang diatas, isi beranda aku gak jauh dari pencapaian dari orang-orang yang aku kenal. Eh, bukan pencapaian aja deng, kaya apa yang dipunya, apa yang didapat, apa yang sedang dirasa yang padahal mungkin mereka niatnya bukan buat pamer ya. Tapi karena aku sadar, aku gak bisa kontrol orang lain mau posting apa jadi aku memutuskan untuk kontrol diri sendiri lewat stop stalking. Stalking berlebihan menurut aku, ini bukan hal baik untuk diri aku sendiri. I know me so well. Dan karena sudah tau, jadinya aku pilih melakukan sesuatu yang membuat aku lebih nyaman (secure), bahagia, dan menemukan ketenangan jiwa hehe. Mulai deh itu mensyukuri apa yang dipunya selama ini. Eh bukannya dasar bahagia itu bersyukur ya? Menikmati takdir yang ada. Lalu timbul rasa jadi lebih bangga aja akan pencapaian diri selama ini. Menerima diri apa adanya, dan makin erat aja hubungan sama diri sendiri.

Emang bener, katanya paling nyaman menggunakan sosial media dengan follow no body, terutama orang yang kita kenal :)


2.   Haus akan pujian atau pengakuan orang lain lewat likes & komen saat posting

Instagram kaya katalog hidup lo yang berbinar-binar - Marissa Anita. Nah ini buat aku si ekstrovert, rasanya jadi center of attention tuh udah kaya bagian dari hidup. Suka aja gitu kalo diliatin dan diperhatiin. Lewat instagram lah (saat itu) aku merasa dapat pengakuan dari orang-orang lewat jumlah likes, komen, reply DM dari story atau seberapa banyak orang yang share konten aku. Makin banyak yang likes/respon, makin merasa seneng luar biasa. Hidup diatas ekspetasi orang lain. Hidup untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Hidup untuk membuat dunia terkesan. Ya itu deh yang dirasa selama addict main instagram saat itu. 

             

3. Instagram mengandung dopamin (rasa senang) dan menimbulkan kecanduan

Setelah merasa haus akan pujian lewat postingan di instagram, aku merasa makin kecanduan untuk melakukan hal yang sama terus menerus. Setelah posting, setiap 5 menit cek notif siapa aja yang likes atau komen haha. Ternyata sosial media termasuk instagram mengandung dopamine (zat yang buat seneng) dan juga mengandung zat adiktif yang buat kecanduan. Deddy Corbuizer pun pernah bahas ini di channel youtubenya. Lalu aku juga nonton di youtube Bailey Parnell di TED Talks yang judulnya Is Social Media Hurting Your Mental Health?

Dari video diatas ternyata Co-Founder instagram mengakui bahwa aplikasi yang dibuatnya mengandung dopamine yang bisa membuat orang senang. Dan jika dilakukan terus menerus akan menimbulkan adiktif berupa rasa candu atau nagih untuk merasakan kesenangan tersebut secara berulang. Setelah riset panjang jauh kedepan, mereka (Co-Founder facebook dan instagram) membuat aplikasi dimana siapapun yang menggunakannya akan merasa senang dan ketagihan. Mereka yang ciptain aja udah tau dampak nya gimana. Wah gila sih ya! Gak percaya? Coba cek videonya dibawah ini :

Bailey Parnell di TED Talk, klin disini untuk cek video nya


4. Less quality time in real life & susah produktif

Kecanduan main instagram kadang buat diri ini lupa bahwa kehidupan nyata berikut dengan orang-orang didalamnya, berhak mendapatkan perhatian dari diri kita. Saat sedang kumpul bersama teman lama atau keluarga, eh semua sibuk mengeluarkan handphone untuk snapgram, status WhatsApp atau live instagram. Belum selesai sampai disitu, jari jemari sibuk bales komen atau DM yang masuk satu persatu. Quality time di dunia nyata tergantikan dengan mereka yang ada di dunia maya. 

Dari sisi produktifitas juga ngaruh banget, kadang aku bisa stalking sampe berjam-jam, semua aku kepoin baik selebgram, artis, atau temen sendiri. Udah deh mulai hitung-hitungan value seseorang lewat dunia maya. Nah tentang produktif aku sempat nonton channel youtube Greatmind yang bahas tentang Puasa Media Sosial.

Marisa Anita on Greatmind Youtube Channel, klik disini untuk cek video nya


5. Tidak membuat iri orang lain dengan apa yang diposting

Karena aku merasa insecure saat stalking, maka aku berpikir berkali-kali lipat sebelum posting sesuatu. Apa ada orang lain yang merasa sedih setelah liat postingan aku? Padahal jelas selama ini posting sesuatu gak ada niat untuk bikin orang lain iri. Belum lagi waktu itu sempet baca-baca tentang AIN dari sosial media. Wah jangan-jangan selama ini aku terkena AIN ya karena 'berlebihan' saat posting. Meski gak tau bener apa engga, tapi gak ada salahnya dong menghindari diri agar tidak terkena AIN atau secara gak langsung meminimaliasir membuat orang lain untuk tidak iri/dengki, yang bisa saja jadi mendoakan keburukan buat kita (amit-amit ya Allah). Jadi akhirnya memutuskan untuk bener-bener mikir buat posting.

Kira-kira itu sih beberapa alasan atau latar belakang aku memutuskan untuk quit dari instagram. Jadi inget Najwa Shihab pernah bilang setiap fase kehidupan itu selalu ada jeda. Aku pun akhirnya memutuskan berjeda setelah menjadi orang yang addict terhadap sosial media dari tahun 2012-2019 kurang lebih 7 tahun. Sekarang udah di bulan ke-9 aku gak main instagram, terhitung dari Januari 2020. Hasilnya? Sekarang aku jadi lebih bersyukur aja dalam hidup, gak kebawa emosi untuk compare hidup aku dengan orang lain, atau berusaha untuk dapat pengakuan/pujian dari orang lain. Ditambah jadi lebih intens deep talk sama suami, keluarga, dan sahabat. Meski memiliki banyak followers it doesn't mean mereka aware/care sama aku. If u know me atau mau tau kabar aku, silakan japri via WhatsApp, telepon atau DM. Secara gak sadar akhirnya aku tau mana temen yang beneran care di real life atau mereka yang care hanya di dunia maya :p


"Lo beneran gak main instagram lagi gara gara insecure Nung? Sama sekali gak buka dalam sehari? Gak pengen buka gitu?"

"Jadi kenapa ga main instagram lagi? Tapi masih suka nulis blog kan? Suka main internet?"

"Main instagram tuh hiburan Nung, terus lo sekarang hiburannya apa?"


Nah, kira-kira itu lah beberapa respon dari temen-temen yang sadar si addict instagram ini tiba-tiba gak nongol lagi di beranda mereka haha. Internet kan gak harus tentang sosial media apalagi instagram buuu. Hiburan aku sekarang youtube dan netflix. Ada banyak film, series yang aku tonton dari netflix. Dan sekarang kamu bisa cari apapun di youtube. Mulai dari mukbang, berita terkini sampai ceramah. Alhamdulillah aku masih merasa terhibu dan itu lebih cukup. Pikiran lebih fokus ke diri sendiri dan orang-orang terdekat. Gak banyak yang aku pikirkan atau informasi yang masuk ke dalam otak. Bener-bener filter informasi dan itu much better :D

Next kedepannya gimana Nung? Mungkin tetap akan main instagram, tapi sangat sangat dikontrol. Atau mungkin ganti akun pribadi jadi akun usaha dan berpromo ria disana. Yang paling ekstrem sih sampai delete akun hmm belum tau juga. Buat yang baca tulisan ini dan sadar aku menghilang dari instagram, kita masih bisa komunikasi by WhatsApp yaa. Kuy DM segera nanti aku lempar nomornya hihi :p

Ada yang sedang atau terpikirkan untuk quit instagram? Ya mulai dulu nih detoks nya sedikit demi sedikit. 


Atau buat kamu yang addict instagram tapi gak ngerasain insecure kaya aku, KALIAN LUAR BIASA. Serius!! Tetap pertahankan ya guys dan bukan berati yang kamu lakukan itu salah. Kalian udah bisa kontrol itu semua. Great Job! 

Yuk, share cerita kamu tentang detoks instagram di kolom komentar atau cara santai kamu hadapi toxic yang ada di sosial media ^_^



Semoga bermanfaat!

Bogor, 29 September 2020


Read More

Rabu, 03 Juni 2020

27 Tahun dan Teman-Temannya

image : pinterest


Semakin bertambah usia, semakin tidak terlalu peduli dengan ucapan, perayaan atau bahkan media sosial. Semakin bertambah usia, rasanya sulit untuk bisa berbahagia dengan cara yang sederhana. Semakin bertambah usia, semakin bingung tujuan entah kapan datangnya dan berbagai hal yang dirasa makin pelik. Atau diri ini saja yang membuatnya terlihat rumit?

Kadang, aku rindu ketika usia ku 20 sampai 23 tahun, saat itu belum bekerja. Bisa dengan mudah menjadi diri sendiri dan bahagia dengan cara yang sederhana. Selalu penuh semangat dan positif dalam bertindak. Saat itu, aku sangat berani untuk memiliki cita-cita tinggi. Kalaupun tidak tercapai, minimal aku sudah berusaha. Bertemu dengan yang namanya kegagalan sudah jadi hal biasa. Terlebih saat itu aku bisa melakukan apa yang aku mau, memulai usaha gelang sendiri, ke Kampung Inggris sendiri, waktu terasa sangat cukup. Uang yang dipunya meski sedikit terasa cukup dan berhasil membuatku bahagia.

Setelah mengetahui dunia kerja. Tekanan di kantor, teman-teman kantor yang tidak satu frekuensi, lingkungan toxic, pekerjaan yang harus selesai sempurna, weekend menjadi admin media sosial orang lain, rutinitas berangkat kerja lewat jalanan macet setiap hari, pulang dengan transportasi umum Jakarta, ditemani puluhan orang yang berjuang demi cuan untuk penuhi gaya hidup atau kebahagiaan orang orang yang di cinta.

Menuju 4 tahun tinggal di Ibukota untuk mencari nafkah, membuat tujuan hidup aku lambat laun berubah. Mengikuti arus pergerakan cepat Ibukota. Jalan, antri, menyebrang, bawa kendaraan, suara klakson, udara panas, banjir dan teman temannya buat aku merasa muak. Berkali kali bilang ke suami untuk pindah ke daerah dan menjauh dari Jakarta. Tinggal di desa, sederhana dan apa adanya rasanya cukup menggoda.

Tapi kebutuhan finansial juga ngga boleh dihilangkan begitu aja. Ada mimpi ingin punya rumah sendiri. Tabungan yang cukup untuk masa depan. Tapi rasanya lelah sekali menjalani rutinitas itu itu saja. Jadi serba salah.

Umur 27 tahun, umur pertama kali berperan sebagai istri. Ada tantangan baru, prioritas baru, masalah baru dan pastinya tekanan baru.

Ada beberapa prinsip yang selama ini dipakai ternyata tidak sesuai dan aku salah mengartikan selama ini. Misal, seperti menjadi lebih baik : do my best untuk menyentuh sempurna yang sebenernya tidak akan pernah ada. Juga rasa ingin tahu yang tinggi karena banyak hal di dunia ini yang baru aku ketahui kemarin kemarin. Sayangnya tidak ada kontrol disana sehingga aku terus memaksakan diri dan merespon setiap kondisi dengan terus berusaha dan berjuang sampai tidak tau lagi titik batasnya dimana. Bahkan bisa juga mengabaikan rasa lelah, tak istirahat dan sibuk dengan pencapaian didalam otak sendiri. Ada yang paling sedih ialah tanpa merasa bahagia dalam menjalani prosesnya.

Umur 27 tahun ini jadi titik dewasa (mungkin) untuk melihat bahkan menilai sesuatu. Rasanya perlu waktu 5-7 tahun untuk menjadi diri sendiri yang berbeda dari yang dulu. Ah, rasanya aneh.



Note : Tulisan ini mungkin dibuat saat 17 Februari lalu, tetap hari kelahiranku. Mungkin saat itu kurang percaya diri akhirnya hanya ada di draft. Hari ini aku berani untuk share, karena keresahan dan rasa khawatir bukan lagi suatu aib untuk dibagikan. Semoga tetap kuat ya buat kalian yang merasa juga.


Jakarta, 3 Juni 2020
Read More

Zona Waktu Kesuksesan & Kapasitasnya

Image : iphincow.com


Ternyata makin dewasa, makin bertambahnya usia menjalani hidup rasanya makin susah. Makin banyak orang yang dikenal, lingkungan yang makin luas, gaya hidup yang sedikit bergeser, makin sulit mempertahan visi hidup. Ya, selalu tergoda dengan rumput tetangga. Belum lagi efek media sosial, tetangga jauh saja harumnya sudah bisa kita hirup dari sini...

Sebuah kesimpulan bahwa "yang kita lihat dari luar belum tentu kita tau dalemnya seperti apa" memang selalu ditanamkan sebelum membuka aplikasi instagram, facebook atau bahkan WA status. Tapi sesaat setelah tenggelam dalam update-an nya, rasa insecure, gagal, ngga berguna, hidup ngga adil, selalu sengsara terus bergelantungan dalam pikiran yang kadang susah juga di stop nya. Padahal status yang terpasang tidak lebih dari 10 detik, ya itu hanya sekedar status, kan? Tapi pikiran ini beranjak seolah-olah menjadi masalah besar, membahas keadilan kepada Yang Maha Kuasa. Padahal definisi adil itu jelas subjektif dan masing-masing punya pandangan yang berbeda. Dan pastinya yang di atas jelas lebih tau kadar kebutuhan manusia nya. Dia melihat dari atas, kita yang ada dibawah hanya bisa lihat kedepan, tanpa tau masa depan seperti apa. Lucu ya?

Belum lagi less self love and appreciate with our self. Merasa segala yang sudah dan sedang diperjuangkan tidak berguna, disalip orang lain yang kita kira less effort dibandingkan diri sendiri. Tenyata status orang lain yang hanya sekedar status bisa berefek cukup panjang ya?

Berbicara tentang kesukssesan aku punya filosopi bahwa "bunga akan berkembang pada waktunya" kalo diibaratkan dengan lebih mudah dan hasil obrolan dengan suami akhirnya aku tarik kesimpulan bahwa kesuksesan memiliki zona waktunya masing-masing. Seperti waktu, mungkin disini sedang siang dan di belahan dunia lain sedang malam. Karena bumi ini berputar sama seperti roda kehidupan yang juga terus berputar. Mungkin saja dia sedang sukses sekarang, siapa tau besok bagian kita, kan? Zona waktu akan terus berputar sesuai arahnya, meski kita berusaha sangat keras luar biasa untuk merubah arahnya hal itu tak akan terjadi. Mustahil bisa berubah. Kalo kata Gitasav, untuk sesuatu yang sudah Tuhan gariskan nanti kenapa kita harus membuang waktu, usaha, emosi untuk sekarang? Jelas akan didapatnya nanti. Gitu katanya.

Bukan hanya tentang zona waktu kesuksessan, ternyata semakin aku menganalisa orang-orang dengan definisi sukses yang beragam, kesuksesan juga memiliki aturannya sendiri. Ada kapasitas nya, akan dijatuhkan di titik mana lebih tepatnya. Apakah mungkin di semua titik? Kalo kita pernah bertemu orang yang sempurna dari sisi materi, memiliki anak yang sehat nan lucu, pekerjaan/usaha yang stabil, agamis dan baik hati akan tetapi kita tidak tau didalem hati orang tersebut bagaimana, apakah bahagia, apakah selalu khawatir hartanya akan berkurang, apa lebih worry karena punya anak-anak yang lucu dan hal lainnya yang tak terlihat oleh mata.

Pun sama kapasitas kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Ada yang lancar urusan keluarga, harmonis, memiliki anak, keluarga hangat namun sulit di materi alias pas-pasan. Ada yang sukses di karir, menjadi wanita mandiri, baik hati, agamis namun sulit bertemu jodohnya. Ada yang hebat secara materi, pintar, inspiratif tapi belum juga mendapat momongan. Ya, meskipun zona waktu akan menghampiri suatu saat nanti kepada kita akan tetapi kapasitas yang Tuhan beri pun  mugkin saja berbeda-beda.

Apa yang sudah diberi oleh-Nya selama ini mungkin terasa kurang, tapi bagi-Nya ini sudah lebih dari cukup untuk kita syukuri. Pernah kah merasa seperti itu?

Ah sudahlah! Lewat tulisan ini aku sedang mencoba memotivasi diri sendiri. Jika memang yang kita inginkan (sesuai definisi sukses sendiri) tidak sesuai kapasitas sukses menurut-Nya semoga kita tidak pernah lelah untuk bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. 3 Magic word : ikhlas, sabar, syukur.

Suatu tulisan mendadak ketika akan memulai kerja di rumah pagi ini. Semoga bermanfaat.



Jakarta,
3 Juni 2020






Read More

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.