MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Kamis, 17 Agustus 2017

Menerima, Memberi Lalu Bahagia? :)

foto : google

Tulisan ini dibuat dalam bentuk sharing atas pengalaman yang aku rasakan beberapa hari yang lalu. Saat itu sedang mesasa kondisi psikis sedang tidak stabil. Pernah kah kamu merasa ingin marah, kesel dan kecewa luar biasa? Emosi meluap-meluap. Baper nan sedih luar biasa. Peliknya pekerjaan yang terus aku bawa perasaannya sampai di kosan. Dan hanya karena masalah sepele saja bisa membuatku sampai memangis. Sangat dan sangat berlebihan.  Yang menjadi tempat aku menumpahkan segala rasa sudah pasti orang-orang terdekatku. Rasa egois pun muncul, merasa orang-orang tersebut memiliki kewajiban untuk menemaniku saat itu tanpa memperdulikan situasi dan kondisinya. Sungguh egois, bukan? Padahal kan aku tidak perlu menuntut dunia mengikuti apa mau aku? (ini salah satu feedback dari orang lain yang selalu aku ingat).

Sampai pada akhirnya, ketika mereka tidak 'memiliki waktu' untukku, rasa kecewa muncul. Padahal waktu yang mereka punya ya milik mereka, itu hak mereka untuk membagi waktu yang berharga kepada oarng lain atau tidak. Saat itu, aku merasa sangat sedih. Merasa sendiri. Teman berbagi pun tidak ada. Merasa paling banyak masalah dalam hidupnya. Otak mulai mikir yang aneh-aneh. Pokonya mah FULL OF DRAMA. Aku sangat sadar, saat itu aku ada dalam masa pra-menstruasi ku. Dimana memang emosi naik turun, meledak-ledak dan sangat lebay senstifnya. Hey kalian para wanita, apa kalian merasakan hal yang sama ketika sedang PMS?

Saat itu aku sedang asik-asiknya membaca buku "bahagia dalam jeda" dimana buku itu menjelaskan bahwa dengan cara 'menerima' segala rasa yang hadir bisa mendamaikan hati. Rasa amarah, rasa kecewa, rasa sedih. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menyadari, menerima dan berdamai dengan segala rasa saat itu. Sulit dan sungguh sangat sulit saat dipraktekkan. Perlu 2 hari untukku memahami segala rasa. Aku mulai merasa lelah. Pagi itu adalah pagi yang paling berharga. Sebelum berangkat kantor aku berkaca. Melihat wajah, mencoba untuk menguatkan diri. Ternyata, sok kuat didepan orang orang itu lelah ya? Aku mendapat feedback, bahwa aku adalah orang yang sok kuat depan orang-orang tetapi sangat rapuh di orang orang terdekat. Cukup menampar karena mengetahui kenyataannya itu benar.

Pagi itu aku coba ambil keputusan, memiliki tekad kuat untuk berhenti bersedih. Aku tidak ingin lagi, waktu ku terbuang sia-sia karena kesedihann yang bermula karena persoalan kecil. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu yang aku punya untuk bersedih. Maka saat aku keluar kamar, aku memandang langit biru yang cerah cukup lama, aku memperhatikan awan-awan kecil yang sedang bergerak, aku menghirup udara secara dalam dan menyadarinya. Lalu aku bilang "hai alam semesta, aku akan malu jika terus terusan bersedih sepanjang waktu. Padahal kau selalu menampakkan keindahan tanpa bosan setiap harinya". Entah kenapa aku merasa lebih lega. Hati yang asalnya terhimpit banyak kekecewaan dan kesedihan lambat laun menjadi lapang. Aku lupa, bahwa sudah sangat lama aku tidak berbicara dengan alam sekitar. Aku terlalu sibuk dengan rutinitas kerjaku. Aku terlalu sibuk ingin terlihat merasa lebih baik bahkan mengharapkan orang orang terkesan pada hidupku. Aku terlalu sibuk mengejar, merasa paling paham tentang ilmu kehidupan melalui buku-buku yang sudah ku baca. Padahal teori hanya teori jika tidak ada praktek nyata didalamnya. Aku ternyata lemah, ada batas minimumnya. Aku mencoba untuk menyadari dan menerimanya.

Saat itu aku mengambil keputusan untuk berhenti bersedih. Aku mulai tersenyum dan berjanji pada diri sendiri bahwa hari ini aku akan menyebarkan segala hal yang positif. Tidak lagi cemberut atau berpikir berlebihan. Aku merasa diingatkan untuk selalu peka akan alam semesta. Selalu respect dan menyadari keberadaannya. Hal sederhana ini sangat membuat mood aku lebih baik. Sungguh. Aku bayak berbicara pada diri sendiri. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyadari sekitar (langit, awan, pohon, udara, orang lain, burung dll).

Saat perjalanan menuju kantor, aku mulai melangkahkan kaki dengan banyak harapan dan doa yang baik-baik pagi itu. Aku sudah memiliki niatan, untuk tersenyum kepada siapapun orang pertama yang aku temui saat membuka pintu gerbang. Dan saat itu ada seorang kakek pemulung. Membawa karung besar di pundaknya, dengan penampilan yang jauh dari kata bersih. Aku tersenyum padanya lalu dia tersenyum dan menyapaku balik. Ini kali pertama (rasanya) kita berjumpa. Lalu aku (bukan maksud sombong/pamer) memberikan sedikit rejeki yang aku punya untuk beliau. Dengan harapan, aku percaya dengan memberi akan membuat aku bahagia. Dan itu merupakan aksi nyata aku untuk berhenti bersedih dan lebih peka terhadap sekitar. Lalu beliau pun mengucapkan terimakasih dengan mimik wajah yang sangat melegakan hati ini. Mimik wajah yang bahkan masih aku ingat saat tulisan ini dibuat. Aku berjalan lebih dulu dari si Kakek dengan langkah cepat karena memang sudah hampir terlambat datang ke kantor.

Anehnya, di setiap langkah aku sungguh merasa lega. Merasa bahagia. Merasa bebas. Dan menyesali kenapa 2 hari kemaren aku menghabiskan waktuku dengan bersedih dan bahkan berharap kebahagiaan pada orang lain. Aku lupa akan 3 hal penting dalam hidup ini. Satu, menerima bahwa saat itu aku sedang marah, sedang sedih dan sedang merasa sangat kecewa. Menerima juga perlu usaha yang kuat. Karena saat menerima, ada perasaan tidak boleh terlihat lemah atau sedih depan orang-orang. Memakai topeng terus terusan dan itu cukup membuat lelah.

Kedua, kebahagiaan terletak pada diri sendiri. Bukan dari orang lain, bahkan orang yang disayang sekalipun. Kebahagian adalah keputusan sendiri tanpa campur tangan orang lain. Siapapun dia. Karena tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan bertanggung jawab atas ketidakbahagiaan diri selain diri sendiri. Tidak perlu lagi mengharapkan apalagi memaksakan orang lain memiliki kewajiban untuk ada disaat aku sedang butuh. Tidak perlu lagi meminta bahkan mengemis kebahagiaan dari orang lain. Tidak perlu lagi menuntut dunia mengikuti apa yang di mau agar aku merasa bahagia. Dan tidakperlu lagi menjadikan orang lain sebagai penentu kebahagiaan diri sendiri.

Kedua, memberi bisa membuat bahagia. Melebihi rasa saat kamu menerima sesuatu dari orang. Saat memberi, ada perasaan yang berbeda dan membuatku ingin terus melakukannya lagi dan lagi. Saat memberi, tidak ada harapan untuk diberi balik dan hanya melihat mimik wajah ucapan terimakasih dari orang lain secara tulus bisa sangat mempengaruhi mood aku. Tidak bisa digantikan oleh apapun.

Hari itu, hanya karena keputusan keputusan kecil yang aku ambil di pagi hari, semua berjalan sangat baik. Bahkan sangat baik. Lalu aku berpikir, apakah ini reaksi dari alam semesta? Aku percaya, semua sudah Allah garsikan. Selama 3 hari aku berbicara pada diri sendiri, mencoba mencari solusi terbaik bagi diri sendiri, mengajak 'dia' berdiskusi dan self talk banyak hal lainnya. Menerima, memberi lalu bahagia. Itu yang aku pelajari.

Aku sangat belajar dari perasaan ku saat itu. Memang benar, Allah memberikan 'message' kepada umatnya melalui banyak cara. Ada yang lewat kesuksessan atau bahkan kecewa sekalipun. Mari belajar menerima, banyak memberi lalu berbahagia dengan sendiri :)




Semoga menginspirasi!


Jakarta, 17 Agustus 2017 jam 8.46 WIB
(ditulis si hari pertama menstruasi dengan rasa sakit sumbilangeun)



Read More

Selasa, 15 Agustus 2017

Quarter Of Life?

imgfave - amazing and inspiring images Imagen creada mediante  adición: se añade el confirmante al soporte y surge la imagen
foto : pinterest


Ada perasaan rindu ingin menjadi anak kecil kembali. Berani. Berani bermimpi besar dan memiliki niat besar untuk mencapainya. Mimpi itu perlu di deklarasikan, dijadikan kebiasaan dan dibuat menjadi nyata. Ini bukan seberapa besar mimpi yang kamu punya, ini persoalan sebuah niat yang sama besarnya dan keinginan secara continue untuk mewujudkannya.

Ada perasaan rindu ingin menjadi anak kecil. Sedikit khawatir dan banyak happynya. Semakin besar, otak manusia diisi semakin banyak problematika hidup sehingga sulit rasanya jika otak (untuk sementara) tidak digunakan. Saat menjadi anak kecil, tidak ada perasaan khawatir. Semua dilakukan apapun yang buat happy. Enjoy.

Ada perasaan takut mengejar mimpi, khawatir tidak akan tercapai dan pada akhirnya tidak happy akan setiap proses yang dijalaninya. Ada perasaan takut luar biasa. Dan ada perasaan bingung, terus berupaya mengejar mimpi atau menerima realita yang ada. Menerima kenyataan bahwa memang hidup seperti ini. Menerima bahwa tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan. Atau terus mengejar mimpi yang sempat di deklarasikan saat itu? Terus memiliki keyaninan yang kuat dan perasaan enjoy di setiap prosesnya.

Tapi jika memang perlu seperti itu, apakah itu tidak membuat menjadi manusia yang tidak bersyukur akan segala hal yang sudah ada? Ketika banyak diantara yang lain menginginkan apa yang sudah dimiliki? Apa manusia memang seperti itu? Tidak bersyukur dan terus merasa kurang? Atau ini adalah bagian dilema dari quarter of life?


Read More

Selasa, 01 Agustus 2017

Feels Like 'Home'

Hampir satu tahun resmi merantau di Ibukota, rasa-rasanya mulai merasa Kota Jakarta adalah bagian dari 'rumah' saya. Meskipun segala lingkungan dan budaya yang jauh berbeda. Selama di Jakarta jauh dari sanak sodara membuat saya menjadi anak kos. Di tuntut melakukan apapun serba sendiri dan ketika rindu dengan orang tua/keluarga hanya bisa telepon atau video call. Kamar kosan pada akhirnya menjadi satu-satunya tempat saya 'pulang', tempat istirahat dari segala rutinitas dan tempat melepas rindu dengan keluarga.

Awalnya berpikir, bahwa kamar kos hanya tempat saya tidur/melepas lelah. Namun makin lama, makin merasa 'rindu rumah dengan segala isinya' maka untuk bisa meminimalisir segala rasa itu, saya iseng menciptakan nuansa kamar yang membuat saya happy dan feels like home. Saya buat kamar saya senyaman mungkin, se-rileks mungkin dan seindah mungkin. Dimana ketika selesai kerja, ada 'sesuatu' yang menunggu saya pulang yaitu kamar. Beda halnya dulu ketika masih tinggal bersama orang tua, ada seseorang yang menunggu kedatangan saya di rumah, ada yang menyiapkan makanan atau bahkan pernah saat itu disediakan teh manis hangat oleh Mamah saat selesai siaran radio tengah malam. Sepele, sederhana namun memberikan kesan terdalam bagi saya.

Namun, saya tidak boleh kalah dengan keadaan. Daripada 'sibuk' merasa rindu, merasa sedih jauh dari keluarga lebih baik menerima dan memeluk semua rasa, sampai timbulnya rasa baru didalam diri yaitu 'nyaman'. Buat segala hal disekitar senyaman mungkin. Dimulai dari hal yang paling dekat dan sering dilihat, yaitu kamar. Maka dari itu, saya coba untuk mengekspresikan apa yang saya rasa untuk menghias kamar kosan. Mungkin tidak begitu bagus karena saya bukan seorang design interior. Mungkin tidak begitu keren karena bukan barang-barang mahal/merek. Tapi yang saya tuju adalah 'feels like home' nya. And I make it happen :) Well, semua yang ada di setiap sudut kamar saya memiliki filosopinya masing-masing dan saya yang mengatur semuanya sendiri. Karena hal yang dibuat sendiri rasanya lebih bangga dan bahagia.

Mau liat kaya gimana sudut kamar saya? ini saya kasih sedikit fotonya ya. Boleh coba ditiru buat kami yang lagi ingin ganti suasana kamar baru.

1. Rak Buku


Bukan berarti saya tidak di rumah lagi, kebiasaan saya membaca buku jadi hilang. Buat saya, membaca itu tidak pernah ada habisnya. Meskipun saya sudah memiliki rutinitas baru yang jauh lebih padat dibandingkan sebelumnya. Kenapa harus membaca? Karena kelak saya akan menjadi seorang Ibu, sekolah pertama untuk anak saya. Ilmu yang luas akan sangat membantu saya nantinya. Seperti kata Pak Jamil Azzaini "Dengan membaca kita tahu dunia, dengan menulis dunia tahu kita" :)



2. Peta Indonesia


Salah satu cita-cita saya yaitu berkeliling Indonesia. Maka, saya menempel peta Indonesia di kamar saya. Mindset saya, hal ini akan terwujud suatu hari nanti dan anehnya ada keyakinan kuat didalam diri bahwa hal itu akan terwujud. Setiap selesat shalat, saya memanjatkan keinginan saya kepada Allah SWT untuk bisa berkeliling Indonesia sambil melihat peta itu dan membayangkan saya sudah benar-benar kesana. Agak menggelikan ya? Tapi saya percaya, untuk hal hal yang benar-benar diinginkan, perlu latihan untuk sering dilihat, disadari dan dirasakan. Inget kalimat "Apa yang kamu pikirkan, itu yang akan terjadi". Abaikan antene yang menempel diatasnya, itu sangat membantu agar channel di TV saya bersih dan saya tidak perlu geser antene setiap mengganti stasiun TV hehe :p



3. Foto saat Wisuda dan Keluarga


'Moment' saat wisuda tidak bisa tergantikan. Saya taro foto itu, karena foto itu menunjukkan rasa bahagia dan sukacita dari wajah orang tua saya, adik saya dan saya sendiri. Keluarga menjadi salah satu alasan untuk apa saya berjuang dalam hidup ini. Dan rasa itu ingin terus saya pelihara didalam diri. Foto itu yang mampu menjadi obat rindu bagi saya.



4. Upgrade My Self!


Apa yang tertulis diatas, itu adalah point-point yang ingin terus aku kembangkan. Sebagai pengingat untuk upgrade diri sendiri. Sengaja dibuat warna warni, karena saya ingin hidup saya terus berwarna dengan sejuta rasa :) Tak peduli, meski disebut seperti anak kecil hehe



5. Foto dan Lampu


Ini sebenernya iseng yang paling menyenangkan. Saat itu, malam hari di jam 22.30 WIB, saya sibuk memasang lampu dan foto seorang diri. Menjadikan meja TV sebagai kursi untuk menaruh lampu diatas. Menurunkan dan menaikkan TV seorang diri dari mejanya. Entah, ada rasa bahagia saat itu. Berjoged-joged sendirian sambil mendengan playlist favorite. Rasanya sungguh bahagia. Motif lampunya pun ada 5 jenis, bisa berkelap-kelip, bisa terang, bisa sedikit redup dan lainnya. Semakin ga sabar menunggu waktu tidur dan tidur menjadi lebih nyenyak di kosan :)

Well itu semua point dari sudut kamar saya yang memiliki filosopi. Boleh diikut jika tertarik, dan tidak perlu nyinyir jika tidak suka hehe. Ini contoh sudut kamar saya yang lainnya. Semua dibuat dengan rasa happy dan berharap kamar kosan itu selalu menjadi 'rumah' buat saya.

 









Semoga Menginspirasi!



Jakarta, 1 Agustus 2017


Read More

Sabtu, 03 Juni 2017

Backpacker (ala Nunga) ke Karimunjawa

Bandara Ahmad Yani, 18 April 2017

Pesawat yang akan membawaku kembali ke Jakarta akhirnya berangkat  juga tepat pukul 19.00 WIB setelah sempat delay hampir 2 jam. Masih tidak habis pikir, apa yang terjadi selama 4 hari belakangan ini. Aku yang bercita-cita keliling Indonesia ini, tanpa ragu memutuskan mengambil cuti kerja selama 2 hari dan pergi melancong ke Karimunjawa dengan budget backpackeran. Ini pertamakali aku kesana. Tanpa pikir panjang, namun dengan persiapan yang cukup matang. Menurutku, backpakeran dan nekad liburan memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama membutuhkan nyali yang besar. Nyali untuk siap kekurangan duit/rubah rencana melihat kondisi keuangan (backpacker) dan nyali untuk siap kesasar (nekad liburan) yang dimana pasti ada 'rasa' dan kejutan berbeda didalamnya :)

Bermodalkan jari yang berkelana di dunia maya untuk mengetahui pengalaman orang lain berlibur ke Karimunjawa, segala rencana diawal berjalan cukup mulus. Tidak main, liburan kali ini aku benar-benar menyiapakan semuanya sendiri dari awal sampai akhir. Tanpa agen travel ataupun mengikuti open trip. Dimulai pesen tiket kereta api, tiket pesawat, travel jemput di Semarang-Jepara, cari penginapan low budget di 3 tempat berbeda, tiket kapal penyebarangan Jepara-Karimunjawa dan sebaliknya, atur itinerary selama 5 hari 4 malam, sampai budgeting makan, logistik, transport dan biaya tak terduga. Entah mengapa ada rasa bahagia saat membuat itu (meskipun bisa saja liburannya tak jadi, bukan?). Meskipun pada awalnya sempat tergoda mengikuti open trip, melihat hasil perhitungan budget sendiri dan open trip tidak jauh beda. Tapi tetap berfokus pada pendirian diawal, ingin liburan dimana semua diatur serba sendiri. Untuk liburan kali ini, ada 3 hal yang ingin aku kejar yaitu Hening, Sunset dan Snorkeling Maka dengan segala petimbangan, Karimunjawa adalah destinasi yang tepat untuk mewujudkan 3 hal itu.







Hari Pertama : Jumat, 14 April 2017
"Petualangan Dimulai..."

Stasiun Pasar Senen cukup ramai. Kereta api merupakan transportasi awal yang akan membawaku memulai petualangan selama 4 hari kedepan. Dengan harga tiket Rp 188.000,- (untuk kelas ekonomi) kereta Jayabaya ini berangkat pukul 13.00 WIB dan tiba di Stasiun Semarang Poncol pukul 19.27 WIB. Ketika sampai stasiun poncol, Travel Kencana sudah siap menjemputku dan akan mengantarkanku ke Jepara, ke daerah Pantai Kartini, dekat Pelabuhan Kartini. Sebenarnya bisa saja ke Jepara menaiki bis, namun bis terakhir menuju Jepara ialah jam 6 sore. Maka aku pun memutuskan menggunakan mobil travel. Sekitar pukul 11 malam aku tiba di penginapan. Harga tiket travel kencana Semarang -Jepara adalah Rp 50.000,-/orang. Perjalanan hari itu cukup melelahkan. Ini Nomor telepon Travel Kencana Semarang di 081228964588 fast response menggunakan whatsapp






Hari Kedua : Sabtu, 15 April 2017
"Welcome Karimunjawa"

Homestay Kota Baru jadi penginapan paling favorit di kalangan backpaker. Dengan harga Rp 150.000/malam. Faslitas kasur, lemari TV dan kipas angin bisa didapatkan. Ada kamar mandi yang bersih diluar. Mushola. Kopi, teh dan air galon panas disiapkan di ruang tengah serta pemandangan rooftop nya yang bisa liat langsung lautan lepas. Konsep penginapan ini seperti rumah sendiri dengan tema klasik, seperti berada di Bali kental dengan motif catur hitam putih. 

Penjaga home stay yang bernama Mas Amin ini asik sekali diajak obrol. Ternyata dia cukup lama kerja di Karimunjawa dan menanyakan kemana saja aku akan pergi nantinya. Dia sudah hatam  betul disana, maka ini adalah rejeki untukku menanyakan banyak hal ke dia sampai referensi orang dan tempat disana. Dan ternyata dia mengenal orang yang memiliki homestay yang akan aku tinggali 2 malam selama di Karimunjawa, namanya Wisma Apung. Dari Mas Amin juga, aku disarankan menyewa motor ke Mba Diah yang merupakan anak perempuan dari Ibu Nurul sang pemilik homestay Wisma Apung itu. Ah senang :) Jika ingin bermalam di Homestay ini, silahkan menghubungi Mas Amin di 0813-2617-9699.





Selain harga nya yang murah, penginapan ini dikatakan laris diakarenakan jarak yang cukup dekat dari pelabuhan Kartini. Salah satu pelabuhan untuk menyebrang ke pelabuhan Karimunjawa. Setelah puas berjalan-jalan di sekitar pantai Kartini dan ocean park (ada gedung berbentuk kura-kura besar) aku pun check out dan siap menyebrang ke Karimunjawa menggunakan Kapal Expres Bahari.


#sekilasinfo

1. Kalau hendak berlibur ke Karimunjawa, hendaknya mengetahui jadwal keberangkatan kapal. 
Ada 2 kapal untuk menybarang dari Jepara-Karimunjawa. KMP Singinjay (milik pemerintah, 5 jam perjalanan harga tiket Rp 87.000,-/orang) dan Kapal Express Bahari 
(2 jam perjalanan harga tiket Rp 150.000-/orang dan untuk kelas VIP Rp 200.000,-).
Memiliki jadwal yang berbeda baik di hari dan jamnya.

2. Pembelian tiket kapal KMP Singinjay bisa dibeli langsung alias on the spot. Namun kapal Ekpress Bahari harus pesan sebelumnya dengan memastikan nama di tiket sesuai dengan nama di KTP.

3. Jangan panik ketika ada banyak orang yang akan menyebrang di pelabuhan. Dan jangan terburu-buru ingin masuk kedalam, santai saja tidak akan ketinggalan kapal jika memang datang tepat waktu.












Kapal Express Bahari cukup keren. Bukan seperti kapal yang aku naiki saat menyebrang ke Kepulauan Seribu hehe. Semua tertata rapih. Duduk berdasarkan nomor tiket. Ada AC+kipas angin, TV besar yang memutarkan film selama perjalanan, kamar mandi dan kantin yang berada di luar. Dan ini menjadi spot favorit aku. Aku bisa melihat lautan lepas sambil berpapasan dengan angin laut. Ada perasaan seperti "kaya gimana ya Karimunjawa? sebagus gambar di internet kah? ah ya Allah, aku benar-benar ada di atas kapal menuju Karimunjawa. One of my destinastion's wish list come true"

Jam 12 siang aku sampai. Kakiku benar-benar menginjakkan kaki di Karimunjawa. Di kepulauan yang berada di tengah laut. Ada 2 hal yang aku lihat. Yang pertama, air di pelabuhan ini sungguh jernih. Dari atas kapal, aku bisa melihat pasir putih didalamnya. Tanpa sampah apalagi limbah. Dan yang kedua, ialah panas. Pastikan membawa topi dan kacamata hitam. Berdasarkan rekomendasi Mas Amin sebelumnya, aku langsung menghubungi Mba Diah untuk meminjam motor selama satu hari dengan biaya Rp 75.000,-/hari. Murah kan? Bermodalkan kenalan dan referensi :p

Tak lama, 2 orang datang dengan 2 motor menjemput aku di pelabuhan Karimunjawa. Namanya Mas Wahyu dan Mas Rizki. Pelayanan yang gesit, aku tak perlu menunggu lama disana. Lalu mereka menawarkan untuk membawakan ransel yang aku bawa ke penginapan. Siapa yang mau menolak? Bisa pergi jalan-jalan tanpa tas ransel di punggung hehe. Lagi lagi ini rejeki anak shaleh, bukan? Melaju lah aku menggunakan motor untuk jalan jalan di kepulauan yang katanya maldives Indonesian ini. Ada yang aneh disini. Setiap motor yang terparkir di pinggir jalan dalam keadaan kunci masih menggantung. Tanpa ada orang/pemiliknya disana. Kalau di Jakarta, pasti motornya langsung diambil orang hehe. Katanya, disini aman. Tidak ada yang maling. Lagian kalau ada yang maling pasti ketahuan dan sulit untuk kabur di tengah kepulauan yang dikelilingi lautan ini. Benar juga sih.

Selama satu hari itu aku explore Karimunjawa melalui darat menggunakan motor. Bukit love sampai spot terbaik sunset yaitu Pantai Ujung Gelam aku datangi. Di Bukit Love aku bisa melihat indahanya lautan lepas dari atas bukit. Dan di Pantai Ujung Gelam, spot terbaik sunset yang pernah aku datangi. Jalanan sepi. Udara bersih. Pemandangan Indah. Ah, aku mendapatkan 'hening' dan juga 'sunset' terbaik disini. Terimakasih Karimunjawa, ini baru hari pertama aku disini. Besok bagaimana ya? Tidak sabar :))


















Setelah puas seharian, malamnya aku makan di Alun-Alun Karimunjawa. Bentuknya seperti lapangan bola. Semua yang berjualan makanan menjajakan makanannya mengelilingi lapangan tersebut. Dan pengunjung bisa menikmati makanannya di tengah lapangan dengan lesehan. Makanan favorit yang wajib dicoba ialah Pindang Serani. Harga satu porsi Rp 50.000,- Banyak yang berjualan makanan disini dari mulai seafood, sosis bakar sampai nasi goreng. Jangan heran, kamu pasti akan leih banyak menemui turis asing disini. Setelah kenyang, aku menghubungi Mas Wahyu untuk menjemputku di pelabuhan kecil. Karena Wisma Apung adalah penginapan yang terapung diatas air, maka untuk kesana diperlukan menaiki perahu sekitar 10 menit. Bagaimana ya rasanya tidur di tengah lautan? Rasakan sensasinya sendiri menginap disini *iklan* Pukul 20.30 WIB mereka datang menjemputku. Malam itu langit Karimunjawa sangat cerah dihiasi bintang yang bertaburan. Sangat banyak dan indah. Selama perjalanan diatas perahu menuju Wisma Apung, aku seperti dibawa menju pusaran bintang yang ada disana. Hening. Damai. Indah. Bahagia.


#sekilasinfo

Wisma Apung merupakan salah satu penginapan diatas air yang ada di Karimunjawa. Karena setelah merasakan tidur beralaskan pasir pantai (lalu setelahnya aku masuk angin), aku pun ingin tidur diatas air laut hehe meskipun tidak langsung air laut sih. Harga penginapannya Rp 300.000/malam dengan fasilitas kasur, kipas angin dan kamar mandi dalam.
(range harga penginapan Rp 200.000 - Rp 500.000,-)
Jangan kaget, semua fasilitas disana 'cukup sederhana'.  Disana juga ada penakaran ikan hiu jinak.
Kamu bisa berfoto disana tanpa dikenakan biaya.
Karena menggunakan genset, listrik baru menyala pukul 6 sore sampai 6 pagi. 
Pastikan charge handphone, power bank dan kamera ya!
Ini kontak Mba Diah Wisma Apung 0877-4657-3717 baik banget dan
pelayanannya top markotop :))


















Hari Ketiga : Minggu, 16 April 2017
"Salam Rindu Dari Ikan-Ikan"

Salah satu fasilitas dari Wisma Apung adalah disediakan sarapan. Lumayan cukup menghemat budget :p Dan menu sarapannya parasmanan. Dikira hanya disediakan roti ataupun nasi goreng saja, tapi teman nasinya ada 4-5 lauk. Sarapan seperti makan besar haha. Hari ini rencananya akan explore Karimunjawa menggunakan perahu berbarengan dengan pengunjung Wisma Apung lain asal Jogjakarta. Makin banyak yang join, makin murah (baca: prinsip backpacker).








Cukup dengan biaya Rp 180.000/orang sudah termasuk dengan snorkeling di 2 tempat, barbeque di tengah pulau, penyewaan alat snorkeling, tour guide dan kapal selama satu hari. Murah kan? Aku memulai perjalanan dengan kapal tepat pukul 09.00 WIB. Ada dua tempat yang ditawarkan, barat atau timur kepulauan Karimunjawa. Menurut sang tour guide, snorkeling ke arah timur lebih bersih. Menuju spot pertama snorkeling membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam di atas kapal. Dan selama 1,5 jam ini aku disajikan pemandangan yang ciamik. Bagaimana menaiki perahu di tengah lautan yang di kelilingi bukit yang dipenuhi pepohonan. Sangat menyejukkan mata.

Meskipun biota laut nya tidak seindah Pahawang, Lampung namun keadaan dibawah cukup meluapkan rasa rindu kepada ikan-ikan cantik yang ada disana. Hal yang paling aku sukai saat snorkeling ialah bertemu dengan ikan-ikan cantik. Ada rasa bahagia disana ketika aku memberinya makan atau saat ikan-ikan mendekat dan mengenai tanganku. Geli tapi seneng. Ah, sangat membahagiakan meskipun aku snorkeling masih mengenakan pelampung :p 




















Bukan hanya keindahan bawah laut saja yang ada di Karimunjawa, aku terkesima dengan Pulau yang didatangi. Namanya Pulau Cilik. Pulau ini benar-benar cilik alias kecil. Hanya membutuhan waktu kurang dari 30 menit, aku sudah bisa mengelilinginya. Pasir putih dan air jernihnya menjadi perpaduan paling indah dan mencolok disana. Apalagi tidak banyak orang yang datang, maklum di tengah tengah lautan ini siapa juga yang mau tinggal? Tak berhenti hati ini berucap syukur atas keindahan yang Allah tawarkan di tempat ini. Banyak pepohonan sehingga memudahkan aku untuk memasang hammock sambil memandangi air laut yang bersih dan tenang. Dan ini menjadi point utama yang aku cari untuk berlibur. Refresh otak. Mengisi kembali energi dalam jiwa. Tempat yang sangat pas untuk 'rehat' ditengah rutinitas yang padat. Tempat untuk 'mengistirahatkan' pikiran sejenak. Dan tempat untuk 'jeda' dari roda kehidupan yang terus berputar.

Lagi-lagi surga indah ini berada di Indonesia. Selama 24 tahun saya tumbuh, besar dan makan dari tanah Indonesia. Rasa-rasanya tidak berlebihan jika hal ini makin membuat saya mencintai Indonesia. Umur yang Tuhan beri untuk saya, mungkin tidak akan cukup untuk menikmati setiap sudut keindahan Indonesia berikut dengan keanekaragaman budaya didalamnya. Dan hal tersebut yang membuat saya memiliki cita-cita untuk bisa keliling Indoensia :)















Sekitar pukul 16.00 WIB aku pun tiba kembali di Wisma Apung. Hari ini sangat melelahkan. Namun terbayar sudah, dengan pemandangan matahari terbenan tepat di belakang penginapan. Indah, indah dan sangat indah...



Hari Keempat : Senin, 17 April 2017
"Goodbye Karimunjawa :("

Masih lelah setelah kemaren seharian jelajah pulau. Maka hari ini akan dipakai malas-malasan di Wisama Apung sambil menunggu keberangakatan Kapal Ekspres Bahari jam 12.00 siang. Aku pun memasang hammock di depan kamar. Hari Senin ku bukan berada di depan laptop. Tapi ada disini, di tengah tengah kepulauan yang jauh dari Ibukota. Sambil memandang lautan yang tenang. Hembusan angin laut yang menyapa muka dengan hangat. Aroma air laut yang khas. Suara air laut yang menenangkan. Sesekali perahu nelayan lewat di depanku. Rasa-rasanya seluruh panca indra yang aku miliki menikmati setiap detik yang ada. Sambil mendengarkan lagu favorit, aku merasa hidup ini terlalu singkat jika aku lewatkan begitu saja. Dilewatkan tanpa benar-benar melakukan apa yang benar-benar diinginkan. Tak lama aku tertidur sebentar.

Aku pun siap-siap check out dan diantar Mas Wahyu sampai pelabuhan Karimunjawa. Setelah sempat berpamitan dengan Mba Diah, aku pun meminta izin untuk menyantumkan namanya serta nomor handphone nya di blog ini. Sesaat setelah sampai pelabuhan, tak lama Kapal Ekspres Bahari datang menjemputku. Ada rasa sedih di dalam hati, aku harus meninggalkan tempat ini. Tempat indah ini sangat jauh dari asalku. Tempat aku merasa tenang. Tempat aku belajar banyak hal. "Terimakasih Karimunjawa, kapan ya aku bisa kesini kembali?" batinku berkata demikian sesaaat kapal mulai melaju. 






Aku pun di jemput kembali oleh travel Kencana menuju Semarang. Sekitar pukul 19.00 WIB malam aku sampai di penginapan, Imam Bonjol Hostel namanya. Cukup terkenal di kalangan backpaker, tapi ya menurutku ini adalah penginapan paling mewah. Ada AC didalam kamar. Tidak seperti rumah, benar-benar hostel yang privat. Sangat pas dijadikan tampat untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta keesokan malamnya. Penginapan disini dimulai dari harga Rp 175.000,-/malam. Setelah membersihka diri, wishlish selanjutnya ialah Simpang Lima. Aku pun ingin menikmati Simpang Lima Semarang di malam hari sambil makan nasi pecel. 

Berbeda dengan Karimunjawa, melihat Semarang ini seperti kembali ke Jakarta. Banyak gedung tinggi yang mengelilingi kawasan Simpang Lima. Lampu menerangi setiap jalanan yang ada. Suara klakson mobil. Kota nya bersih. Dan (cukup) panas padahal itu malam hari. Menjadi pengalam baru menikmati malam di Kota Semarang. Kota yang sebelumnya tidak pernah ada di wish-list ku, tapi cukup memberikan kesan terdalam. Untuk informasi Iman Bonjol Hostel bisa menghubungi di Nomor (024) 3562223 atau 0823-2624-9429.










Hari Kelima : Selasa, 18 April 2017
"(Last day) Thankyou Semarang! "

Aku menginap di kawasan Jalan Imam Bonjol. Untuk ke Lawang Sewu hanya membutuhkan waktu 10-15 menit dengan berjalan kaki. Sebelumnya berpikir bahwa gedung peninggalan Kereta Api ini menyeramkan, padahal tidak sama sekali. Disini aku belajar mengenai perkembangan kereta api dan sejarahnya di Indonesia. Biaya masuk Rp 20.000/orang namun jika kesana lebih baik menyewa tour guide karena sambil dijelaskan cerita dan sejarah yang ada di setiap sudut ruangannya. Jasa tour guide ialah Rp 50.000,-/kunjungan. Seru juga ya travelling sambil belajar sejarah. Terimakasih atas kesempatan yang Allah beri, next kemana ya? Sabang dulu? atau Labuan Bajo? Atau ke Timur Indonesia? :D











Setelah itu, di hari yang sama aku melanjutkan perjalanan mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng yang bernuansa merah dan kuning ini adalah peninggalan dari Laksaman Cheng Ho. Spot buat fotonya bagus-bagus. Jangan lupa memakai topi dan kacamata hitamnya, karena disana sangat sedikit pohon. Harga tiket masuk terusan Rp 25.000,-/orang. Namun jika ada yang hendak beribadah, maka tidak perlu membayar tiket. Yang paling menarik dari Sam Poo Kong ialah Mie Kopyor yang berada didepannya. Makanan kaki lima ini memiliki rasa hotel bintang lima. Cukup dengan Rp 12.000,-/porsi kamu sudah bisa menikmati makanan khas Semarang yang sekarang sudah jarang ditemui. Setelah sempat membeli oleh-oleh khas Semarang yaitu Wingko Babad Cap Kereta Api. Maka itu pertanda perjalanan ini akan segera berakhir :(








Total budget yang aku keluarkan over all sekitar 2,3 juta tidak mencapai 2,5 juta. Sudah termasuk tiket pesawat, kereta api, makan, penginapan dan oleh-oleh (budget oleh-oleh sekitar Rp 150.000,- sampai Rp 200.000,-). Gak mahal kan? Karena ga perlu mengeluarkan uang banyak untuk melihat indahnya Indonesia. Itu sih ceritaku 5 hari 4 malam dengan low cost. Kalo ada yang mau tanya, bisa kontak aku ya! Siapa tau ada yang mau bekerjasama membuk agen travel dan menjadikan aku toir guide nya hehe. Atau sharing cost ke Raja Ampat, Labuan Bajo dan Toraja :)



#Tips Travelling Low Cost Ala Nunga


  1. Siapakan destinasi/tujuan dan cari informasi sebanyak-banyaknya
  2.  Siapkan dua sampai empat rencana berikut dengan budgetnya
  3. Pesan tiket berangkat dan pergi dari jauh-jauh hari (sesuai kan transpor yang digunakand dengan itinerary)
  4. Cari tampat penginapan murah tapi nyaman, lalu jangan lupa bayar DP 25-50%
  5. Siapkan list apa saja yang akan dibawa disesuaikan dengan itinerary yang telah dibuat sebelumnya
  6. Packing. Bawa seperlunya, tidak perlu membawa yang tidak akan terpakai
  7. Pisahkan uang untuk pelunanas penginapan, transport dan wisata serta uang makan
  8. Jika pergi dengan teman, kumpulkan uang dalam satu tempat sebelum memulai perjalanan,      sehingga untuk pengitungan biaya bisa lebih mudah
  9. Menulis setiap budget yang dikeluarkan untuk dibandingkan dengan buduget oerkiraan diawal
  10. Jangan lupa senyum bahagia dibawa saat kamu memulai petualanganmu. Having fun!


Menurutku travelling itu seperti aku menjalani hidup. Apalagi dengan konsep backpacker. Dimana semua di urus sendiri dari mulai yang pertama tujuan travelling (apa yang ingin di dapat setelah melakukan travelling) sama seperti "goals of you life". Yang kedua, menyiapkan rencana dan aku selalu menyiapkan lebih dari 2 rencana karena aku gak tau resiko yang akan dihadapi nanti seperti apa. Dalam hidup pun, rencana dan rencana cadangan memang diperlukan kan? Yang ketiga, budgeting biaya yang disesuaikan dengan 'kemampuan' isi dompet sama seperti menginginkan sesuatu dalam hidup yang dilihat dari kapasitas aku seperti apa. Yang keempat, siap ambil keputusan dengan cepat ketika situasi tidak sesuai dengan rencana/harapan baik saat melakukan perjalanan atau dalam kehidupan sendiri. Dan yang terakhir and most important is ENJOY! Meskipun anak backpackeran selalu terpacu dengan list, apalagi list biaya akan tetapi menikmati travelling itu sendiri adalah kewajiban. Jangan sampai ketika hari menyenangkan itu datang, eh malah sibuk mempersiapkan untuk besok kemana dengan pikiran jauh ke depan. Hal ini sama seperti menjalani hidup, bukan? Rasanya lelah jika hari ini dihabiskan untuk memikirkan esok hari, dan esok hari dipakai untuk memikirkan keesokan harinya. Lelah bukan?

Oleh sebab itu, aku sangat menyukai konsep travelling backpacker. Ada rasa bangga ketika berhasil menyusun rencana apalagi yang berakhir dengan moment manis dan cerita untuk anak cucu kelak. Dan hal yang tidak manis sekalipun tetap disyukuri karena bisa dijadikan pembelajaran untuk kemudian hari :) Bukankah hidup ini ada beragam rasa? Manis, pahit, bahagia, kecewa adalah saling berkaitan?




Semoga menginspirasi!

Di tulis di hari Sabtu, 3 Juni 2017
Hari ini adalah hari Ramdhan ke-8, aku begadang menulis ini sampai jam 4 dini hari. Maklum sedang berhalangan puasa. Menulis ini sambil ditemani lagu Kodaline - High Hopes dan Coldplay - Charlie Brown :)

Read More

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.