MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Sabtu, 27 Agustus 2016

Belajar Ikhlas


Setelah melakukan 'perenungan' beberapa bulan terakhir dan melakukan percakapan secara intim dengan diri sendiri, ternyata ada sesuatu yang aku pelajari tentang 'cara cara efektif' menjalani hidup. Berat banget kan ya kalimatnya? hehe karena proses untuk mengerti dan memahami itu juga ga gampang. Beneran!

Dulu, saat masih kuliah aku tipe orang sangat idealis. Idealis dalam arti merasa paling benar akan semua mimpi yang aku punya. Ber-ambisi untuk mendapatkan sesuatu tanpa melihat kesanggupan dari diri sanggup atau engga. Yang terus ber-ambisi akan tetapi belum menyiapkan mental untuk 'menerima' hal hal yang tidak sesuai, kecewa misalnya. Cape fisik bisa disembukan lewat istirahat. Tapi, kalo cape jiwa? Lain cara pemulihannya. Lalu sampailah aku berada pada titik lelah, lelah yang sangat lelah. Lalu aku berpikir, harus ada sesuatu yang aku rubah dalam mindset aku dalam achievement my dreams. Sebelumnya aku pernah menulis blog dengan judul Menerima Juga Se-Keren Memberi proses yang aku alami selanjutnya yaitu tentang IKHLAS.

Pencarian dan pemahaman tentang kata IKHLAS prosesnya sama kaya disaat aku mencari pemahaman tentang sukses ataupun bahagia. Bukan hanya baca di banyak teori, buku, artikel atau bahkan Al-Qur'an, tetapi bener bener dirasakan dan terus dicoba untuk dilakukan secara continuesly. Semua cara aku rubah satu persatu. Cara membuat mimpi, plan action, ubah perspective bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian akan tetapi tentang segala penerimaan hal-hal kecil disekitar yang perlu untuk disyukuri (Adjie Silarus) sampai cara aku berdo'a. Gilak gilak niat banget ya? Karena aku merasa ada sesuatu yang gak efektif yang aku lakukan selama ini dalam achieve my goal life. 

Dan ternyata, setelah aku merubah cara ku berdo'a dan terus mendekatkan diri untuk minta petunjuk ke Sang Maha Menciptakan, hasilnya luar biasa. Ketika kita berdo'a mengharapkan sesuatu, jangan lupa siapkan perasaan ikhlas didalamnya. Tuhan lebih mengetahui apa yang terbaik buat kita bahkan lebih mengenal kita, lebih dari diri kita sendiri. Jadi kemaren-kemaren cara aku menjalani hidup, dan ber-ambisi berlebihan untuk mencapai semua mimpi-mimpi aku ternyata sama sekali gak efektif. Memang ya, solusi terbaik akan suatu masalah/keadaan semua datangnya dari Tuhan. Karena memang Tuhan yang menciptakan kita, dan Tuhan pula lah yang akan mengatur semua yang terjadi dalam hidup kita. Sungguh sombongnya diriku saat itu, mempunyai banyak mimpi tanpa melibatkan Tuhan didalamnya.

Semoga yang aku share ini, yang baca bisa merasa terinspirasi dan jika memang sedang merasakan hal yang sama bisa dicoba cara efektif yang sudah dan sedang aku lakukan saat ini. Ada satu surat di Al-Qur'an yang selalu aku jadikan sebagai patokan dalam menjalani hidup yaitu Surat Al-An'am ayat 56 yang artinya "Sesungguhnya ibadahku, solatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah SWT semata". Semoga kita selalu berada dalam golongan yang Allah ridhoi setiap apa yang akan dan sedang kita lakukan. Aamiin. Wallahu A'lam Bishawab.



Jakarta,
27 Agustus 2016
Read More

Rabu, 03 Agustus 2016

Berdamai Dengan Masa Lalu


Bagiku rasa bingung teramat dalam ialah ketika kamu secara tidak pasti, tidak mengetahui letak kekurangan dan kesalahan kamu dimana. Untuk sesuatu yang menurut kamu sangat berharga. Untuk sesuatu yang benar benar kamu inginkan dalam hidup. Padahal kamu merasa seolah-olah kamu sudah melakukan yang terbaik. Berusaha sekuat tenaga. Namun hasil tidak sesuai harapan. Maka otak dengan cepat flashback lalu meng-observasi kejadian secara rinci. Mencari berbagai kemungkinan kesalahan yang tidak sengaja dilakukan. Atau kesalahan sepele yang menurut orang adalah sesuatu yang besar. Perlu persepektif dari segala penjuru untuk menemukannya. Lelah? Sudah pasti! Berusaha tidak dipikirkan, tetapi tetap saja otak masih terus mencari jawaban setidaknya untuk membuat si hati sedikit tenang. Apapun yang sudah kamu temukan, hasilnya baru sebatas 'asumsi' pribadi. Tidak ada bukti akurat. Point nya bukan tentang kesalahan atau kekurangannya, tetapi ketidakpastian ke-akuratan suatu asumsi sendiri. Bahasa anak gahulnya 'digantung'. Dan sudah terbukti, sangat tidak menyenangkan.

Hari ini, ada lagi yang aku pelajari lagi tentang diri sendiri. Tentang mengenal diri sendiri. 'Penasaran' ternyata bisa membuat hati terluka (bagi saya). Rasanya seperti perdebatan antara keyakinan didalam hati dengan panca indra yang menggambarkan realita. Bertolak belakang. Makin hari, makin menyiksa seperti luka yang terus ditetesi air garam. Perih. Sebenernya rasa perih dibuat oleh diri sendiri karena belum berani alias belum siap menerima realita/jawaban yang gak sesuai ekspetasi. Bergelut dengan diri sendiri sangat melelahkan. Dibawa setiap waktu selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Ekspetasi itu membunuh!

Mungkin ini yang dinamakan rantai gajah. Menjalani kehidupan tetapi masih terjebak terhadap perasaan masa lalu. Tau rasanya gimana? Kaya mayat hidup. Hidup tapi ga seutuhnya ada saat itu. Apa yang setiap aku lakukan si otak masih saja (tanpa komando) mempertanyakan masa lalu yang belum terjawab. Aku belum selesai dengan masa lalu. Dan saat aku belum selesai dengan masa lalu, aku belum siap menghadapi hidup saat ini. Hasilnya akan selalu nihil. Karena hati, pikiran dan perasaan masih tertinggal di belakang.

Ketika perdebatan dengan diri sendiri terus berlangsung, faktor eksternal menjadi satu satunya pengaruh dalam hidupmu kedepannya. Entah lingkungan, keluarga, teman, hobi atau bahkan agama. Semua dilakukan untuk bisa memperbaiki diri, untuk berdamai dengan masa lalu. Termasuk menggunakan rasa ikhlas yang katanya solusi paling mujarab. Tapi ikhlas tidak segampang teori. Butuh proses, ada rasa sakit didalamnya dan sudah pasti ada sesuatu yang kamu korbankan.

Namun, setelah mengetahui alias menemukan jawaban yang bukti ke-akuratannya hampir 90% (karena feedback datang dari orang lain yang sudah mengamati diri kita cukup lama), rasa lega mendadak muncul. Feedback yang datang secara bertubi, menusuk hati sampai meninggalkan rasa kecewa. Ternyata banyak hal yang perlu diperbaiki dari aku, sikap yang kurang efektif bahkan hal yang terlihat sepele namun akan berdampak besar nan luas terhadap lingkungan. Bukan hanya tentang pekerjaan, tapi semua feedback yang datang benar benar dijadikan pembelajaran dalam kehidupan sosialku. Sekarang lagi dalam proses penyembuhan hati. Meskipun rasanya sepertu habis dicambuk (karena hati dan pikiran menyetujui dan juga menerima akan semua feedback yang datang), beban yang selama berbulan-bulan menempel tanpa arah kini berkurang sedikit demi sedikit. Seperti terbebas dari rantai gajah. Lega. Bebas. Lepas. Dan siap menyambut hari ini, saat ini.

Perjalanan menjelajahi diri sendiri memang tiada batasnya. Selalu ada sesuatu baru yang bersumber dari dalam diri yang bisa di gali, di temukan, lalu dicari solusi nya. Untuk apa dicari? Untuk siap dijadikan pembelajaran jika hal tersebut terjadi di kemudian hari. Jadi gak kebingunagn lagi dan siap menerima dengan senang hati. Seperti buku yang pernah aku baca kalau 'Receiving is a part of happiness'. Sekarang aku sedang belajar dan mengatur otak (mindset) bahwa hidup adalah sebuah 'penerimaan' dengan sadar dan utuh. Bismillah. Btw, apa yang aku tulis dari atas sama sekali bukan membahas pria ya. Atau belum move dari yang dulu hehe. Hanya sebatas tulisan, mengekspresikan perasaan yang labil biar emosi bisa seimbang setelahnya. Terimakasih untuk teman, buku, artikel dan alam semesta yang telah mengingatkanku untuk berani menerima dan berdamai dengan masa lalu. Terlebih Allah SWT yang masih mengizinkanku untuk terus ber-tafakur dalam menjalani hidup ini. Sudahkah kamu makin mengenal terhadap diri sendiri?

Read More

Selasa, 02 Agustus 2016

Ber-proses


Proses.

Semua pasti akan melewati tahap proses. Sama seperti bangunan ini. Belum sampai setengahnya jadi alias masih dalam 'proses' pembangunan. Terbentuknya makhluk hidup baik manusia atau hewan pun pasti ada prosesnya. Sang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu melalui proses metamorfosa, proses senja yang cantik, makanan (meski mie instan, tetap ada proses pembuatannya), dan juga proses manjadi manusia. Setiap masing-masing proses tersebut memiliki tahapan yang berbeda. 

Bagiku, proses adalah hal yang selalu aku hargai. Setiap orang memiliki 'proses' nya masing-masing. Proses menjadi dewasa, proses menjadi seorang istri/suami, proses mendapatkan pekerjaan, proses menjadi seorang mukmin, proses mengenal diri sendiri, proses menjadi seorang ibu/ayah atau bahkan proses menjadi diri sendiri. Setiap orang bahkan di waktu, tempat, umur atau bahkan rahim yang sama belum tentu akan mengalami 'proses' yang sama pula. Banyak faktor yang mempengaruhi proses apa yang sedang/akan kamu jalani. Seperti penjelajahan dalam diri sendiri. Dimulai dengan sesuatu yang pasti berbeda dengan yang lain. Akan tetapi, tentu saja setiap orang berhak menciptakan proses seperti apa yang akan dijalani kedepannya.

Kadang aku suka merasa, kehidupan orang lain lebih baik dariku. Atau temanku mengatakan bahwa kehidupanku jauh lebih asik darinya. Lalu temanku yang lain mengatakan kehidupan artis lebih enak darinya. Padahal yang kita lihat hanya luarnya saja, kita tidak tahu proses didalamnya seperti apa. Yang mengetahui proses itu ya dirinya sendiri. Sedikit banyak pemikiran tersebut mempengaruhi aktivitas/kegiatan kita setiap hari. Emang gak gampang sih merubah paradigma 'rumput tetangga lebih hijau' itu, karena kita hidup dilingkungan sosial yang selalu saja ada hal hal yang sudah ditetapkan sebelumnya versi orang dulu.

Ada yang bilang, kalo proses itu adalah penghubung antara awal dan akhir (tujuan). Anehnya, aku malah lebih menyukai kata 'proses' dibandingkan 'akhir/tujuan'. Karena dalam setiap proses, pasti aku akan belajar sesuatu. Bahkan belajar bagaimana merasakan rasa sakit dan berkawan dengannya.

Dalam hidup ini, aku ingin terus berproses, berproses ke arah lebih baik pastinya. Bukan berarti aku tidak memiliki tujuan, akan tetapi biarlah aku sematkan tujuan akhir berada di kehidupan akherat sana (surga). Berambisi dalam hidup memang dibutuhkan, tetapi kesadaran bahwa hidup di dunia hanya sementara kadang suka terlewatkan. Semoga kita selalu menjadi manusia yang terus berproses di jalan Allah, aamiin.

Read More

Minggu, 17 Juli 2016

River Tubing di Santirah

Lebaran! Budaya di hari Lebaran selain silaturahmi dengan keluarga yaitu jalan-jalan. Hampir semua tempat wisata di Indonesia penuh seketika, baik wisata dengan budget kelas atas sampai kelas menengah.  Kali ini aku mau posting nge-trip bareng keluarga. Ga kalah seru kok daripada nge-trip sendiri atau sama teman-teman. Beneran!

Pangandaran. Destinasi yang kita tuju. Siapa sih yang gak tau? Daerah asal Menteri Kelautan kita sekarang. Menurut cerita warga asli sana, semenjak Pangandaran memisahkan diri alias menjadi kabupaten sendiri, wisata di daerah sana meningkat pesat. Otomatis membantu perekonomian warga disana. Salah satu nya yaitu SANTIRAH Water Tubing yang terletak di Desa Selasari, Kecamatan Parigi. Santirah diambil dari nama sungai itu sendiri. Letak Santirah berada setelah Citumang (Green Valley) yang merupakan salah satu wisata body rafting di Pangandaran yang sudah lebih dahulu terkenal. Sedangkan Santirah baru mula dijadikan objek wisata sekitar tahun 2014. Berbeda pula dengan Green Canyon yang merupakan muara di Batu Karas, Santirah menawarkan tubing yang lebih menantang. Ahey bukan kamu aja ternyata yang buat aku merasa tertantang :p

Akses menuju kesana cukup mudah tapi gak mulus kaya kehidupan. Jalan yang naik turun, beraspal dan sedikit rusak disana sini. 30 menit adalah waktu yang ditempuh dari Pantai Pangandaran menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan akan disuguhi hamparan sawah yang luas di kanan dan kiri jalan. Petunjuk arah menuju sana masih minim, jadi sangat dianjurkan menggunakan aplikasi google map atau banyak nanya ke orang yang ada disana. Setelah melewati sawah nan luas, mulai masuk ke rumah-rumah warga. Sungguh seperti sebuah desa pada umumnya, namun cukup terlihat asri dan pas banget untuk menghilangkan penat sesaat. Jangan kaget jika banyak pungutan liar atau plang pungli selama perjalanan. Total ada 4 plang yang saya lewati. Barulah di plang ketiga aku membayar karcis sebesar Rp 3.000,- dan di plang keempat sebesar Rp 2.000,- Sedikit saran, bayarlah uang pada mereka yang menggunakan seragam. Uang insyaallah jelas akan dipake untuk apa :)

Selfie, cekrek!

Hamparan sawah yang luas di perjalanan menuju Santirah

Sampai lah saya di Santirah River Tubing. Aliran sungai mulai terdengar. Sedikit ragu mengenai suara arusnya, karena semalaman di Pangandaran hujan deras. Namun guide disana mengatakan masih aman. Disana aku tidak melihat loket khusus untuk membeli tiket. Mungkin karena Santirnah ini masih dikelola oleh Karang Taruna alias para pemuda setempat. Benar benar masih sangat serba original. Rp 125.000,-/orang setelah hasil tawar menawar dan sudah termasuk makan siang. Pilihannya ada ayam bakar atau ikan bakar. Service yang cukup baik bagi wisata yang cukup dibilang baru ini.

Sebelum memulai, orang yang menyambut kami diawal tadi menjelaskan tentang river tubing itu seperti apa, simulasi menggunakan ban selama tubing dan diakhiri dengan doa. Ini merupakan hal yang perlu diperhatikan, kalo mau main bersama alam jangan lupa ikuti segala aturannya untuk keselamatan sendiri. Buat yang belum tau, tubing itu artinya kamu duduk hampir terlentang diatas ban besar (tube). Dan saya akan melewati sungai yang panjangnya 1,5 km hanya dengan ber-modalkan ban. Sungguh seru dan memacu adrenalin bukan? Jangan lupa pelampung nya dipakai dengan benar. Setiap orang bisa memilih ban sesuai dengan ukuran badan. Badan yang besar menggunakan ban yang besar pula, begitu pun sebaliknya. Sayangnya river tubing disana tidak dilengkapi dengan helm pengaman, sepatu air atau pengaman untuk lutut dan siku. Katanya, awal destinasi ini dibuka sempat menggunakan perlengkapan keamanan, namun banyak yang rusak. Semoga bisa menjadi catatan penting ya buat pemuda pemuda yang mengelola.

Bergaya sebelum tubing

Pake pelampung yang benar ya! Mantan atau gebetan yang bertepuk sebelah tangan
lupain dulu sesaat!

Kami ditemani oleh dua orang guide namanya Kang Buyung dan Kang Agus. Kami berjumlah 4 orang. Makin banyak jumlah orang dalam rombongan, guide pun akan semakin banyak. Kami pun bisa menitipkan barang-barang berharga seperti dompet, hp, gelang dll tapi paling gak bisa dititipin harapan palsu katanya. Para pemandu membawa tas anti air berikut tongsis dan waterproof untuk memotret kami selama tubing. Saran saya, jangan lupa pemanasan terlebih dahulu, hilangkan segala beban yang ada, apalagi beban perasaan duh berat, bro! Dan ber-siaplah untuk bersenang-senang! 

Setiba sampai di sungai, 4 orang berjajar secara vertikal dengan sikap seolah hampir terlentang diatas ban, namun posisi duduk maju sedikit kedepan. Kaki saya dijepit diketiak orang yang ada didepan saya dan kaki orang yang dibelakang saya dijepit oleh ketiak saya. Sehingga menjadi suatu rangkaian. Sangat memicu adrenalin. Menyusuri sungai 1,5 km tanpa perahu karet,tanpa tali apalagi sang kekasih #eyaa. Namun jangan takut, guide ada di depan dan di belakang untuk memastikan keamanan kami.

200 meter pertama adalah arus yang paling deras selama tubing (katanya). Kalo gak bisa jaga keseimbangan pasti akan jatuh dan terlepas dari ban. Jangan khawatir, bagi yang tidak bisa berenang ada pelampung yang menempel dibadan. Kami melewati goa yang sangat gelap dengan panjang (kalo tidak salah hitung, 20-30 meter). Sangat menarik melihat pahatan batu di dalam goa dengan air yang berjatuhan dari atas atau samping goa. Air langsung dari mata air! Setelah itu, kami disuruh meloncat dari air terjun kecil yang panjangnya 1-2 meter tanpa ban. Berenang di arus yang cukup tenang. Setelah itu siap siap memakai ban kembali.

Kedalaman sungai berkisar 3-7 meter. Arus saat itu cukup deras, karena baru saja turun hujan semalaman. Air tidak begitu jernih namun tidak menjadi alasan untuk kami tidak bersenang-senang. Selama tubing, kami bisa beristiharat sejenak. Naik ke daratan dan ada warung disana. Terdapat kudapan ringan seperti gorengan dan minuman sachet hangat. Dimasak langsung dari kayu bakar, tanpa kompor. Harga disana cukup terjangkau. Disana kami bisa melihat dari atas rombongan yang sedang tubing, makin panjang makin seru!




Semua tersenyum, kecuali Mamahku :p

Ada embun di kameranya jadi ga jelas :(

Makin panjang dan bisa jaga keseimbangan kelihatannya seru, bukan?

Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan tubing. Arus tetap menantang, lagi lagi aku jatuh lalu kepala saya kejedot batu. Sakitnya cuman sebentar karna ga sabar menunggu tantangan selanjutnya. Guide selalu mengingatkan kami untuk hati hati, dan memberi tahu dimana letak batu batu besar yang cukup membahayakan. Guide kami adalah pemuda asli sana yang sudah hatam akan sungai Santirah ini, jadi aman banget untuk mengikuti segala arahan dari mereka. Sebenernya ada beberapa spot ditengah perjalanan untuk loncat, namun karna arus cukup deras kami mengurungkan niat. Sesaat sebelum mencapai finish alias akhir tubing, kami bisa berenang cukup lama karena arus sedikit tenang dan cukup lebar pula. Setelah itu, kami naik ke daratan, berjalan menanjak. Perlu hati hati karena cukup licin untuk menuju kesana. Untuk mengakhiri tubing, aku memberanikan diri loncat dengan ketinggian 10 meter dari atas. Tanpa pikir panjang saat itu. Seruuuuu!

Selesai lah river tubing di Santirah. Namun perjalanan belum berakhir, kami harus berjalan sambil menenteng ban masing-masing selama 20 menit. Kurang lebih 2-3 jam waktu yang sudah dihabiskan selama river tubing. Setelah sampai dimana kami memulai tubing, kami membersihkan diri di tempat yang sudah disediakan. Ada mushola juga disana. Lalu makanan sudah disiapkan di saung. Nasi liwet, ayam dan ikan bakar, lalapan dan juga sambal. Sangat menggugah selera bukan? Sungguh pengalaman river tubing pertama aku yang menyenangkan. Next, berencana kesana lagi ketika sedang musim kemarau, melihat air yang jernih dan loncat di tempat yang lebih tinggi. Siapa yang mau nemenin? :)



Siap siap loncat

Perjalanan pulang pun diisi dengan cerita sana sini. Dan tanpa sadar aku dapet oleh-oleh berupa benjol di kepala. Oh iya, ada pesan moral nih. Jangan coba-coba mengajak Mamah mu untuk ikut river tubing. Kecuali jika Mamah mu menyukai hal hal yang menguji adrenalin, Selama tubing, muka Mamah aku terlihat stress, tegang nan panik dan gak berhenti mengucapkan istighfar. Dan sebagai anak yang baik, aku ga tega melihatnya selama 2 jam tubing. Serasa anak berdosa :(

Tapi selalu aku tertawa jika mengingat ekspresi mamah ku saat itu. Hiburan lain selain ke-asrian Santirah hehe (anak durhaka, jangan ditiru guys!). Bagi yang mau kesana, bisa hubungi tour guide saya yang kemarin namanya Kang Buyung, service nya juaraaaaa!! Bisa janjian sebelumnya. Berikut no hp nya 0822-1742-3792.

Menu menggugah selera


Mamah : "Pokoknya kalo diajak lagi, Mamah ga akan mau. 
Mau dibayar berapun juga. Pengalaman sekali seumur hidup. 
Kaya mimpi, gamau lagi!"

Satu minggu berlalu, namun obrolan Mamah ku dirumah adalah betapa kaget dan tubing merupakan pengalaman seumur hidupnya yang gak mau diulang kembali. Cerita nya terus di ulang-ulang. Oh ya, setelah tubing sempet whatsapp-an sama guide yang tadi. Aku mengucapkan terimakasih, eh si aa nya malah minta maaf dan bilang gini "Maaf ya teh, service nya kurang bagus. Harusnya selama tubing berhasil buat ceria dan teriak-teriak, tapi ini mamah Teteh stighfar terus, sayanya jadi tegang"    WHAT?!#%*^5#?!~ZZ?

Coba deh ajak Mamahmu, apakah Mamahmu akan bereaksi sama dengan Mamahku? Inget pesan moral yang diatas tadi ya, inget!

Terimakasih Tuhan, sudah mengizinkan aku menikmati alam nan indah ciptaan-Mu. Menyatu dengan alam membuat ku menjadi pribadi untuk terus ber-tafakur, bersyukur dan merasa dekat dengan Sang Pencipta. Semoga meng-inspirasi! Jangan buang sampah sembarangan dan selalu hati-hati bermain dengan alam. Apalagi bermain dengan perasaan wanita :p


Editan video amatir, mangga dilihat. 
Jelek sih, tapi lumayan-lah ada muka aku nya jadi kelihatan sedikit kece. 
Iya SEDIKIT KOK! 
Yang banyak kece mah kamu, dihati aku :) #eeyyaaaaa


Read More

Kamis, 14 Juli 2016

Pengagum Langit


Biru. Ya, mungkin aku memang menyukai warna biru. Tetapi biru nya langit selalu membuatku jatuh cinta setiap berjumpa. Aku suka dengan ketinggian. Gunung, bukit atau lautan yang luas sekalipun adalah tempat favorit ku untuk mengagumi langit. Mengagumi tanpa akhir, selalu terpesona di setiap waktunya. Ingin ku terbang ke langit, memandang biru nya langit dari dekat lalu memeluk awan yang terlihat sangat empuk dari bawah. Akan tetapi, mau setinggi apapun aku berada, langit tidak bisa dicapai, langit tanpa batas. Sama seperti keinginan dan kepuasan manusia yang tiada batasnya.

Bagiku, langit adalah tempat aku merasa 'teduh' atas segala persoalam hidup yang ada. Bagiku, langit adalah 'hiburan' paling tepat, selalu aku tersenyum dan merasa takjub dibuatnya. Bagiku, langit adalah tempat aku 'tersadar' bahwa aku sangat kecil dibanding alam semesta yang indah ini. Perpaduan gradasi biru nya langit, yang bahkan warna biru nya tidak sempat ku temui di crayon atau font warna sekalipun. Gumpalan awan dan kumpulan awan yang tipis juga memancarkan pesona tersendiri. Sempurna, satu kata dariku.

Aku juga suka langit di pagi hari. Biru nya langit selalu membuatku semangat mengawali hari. Setiap pagi selepas solat subuh, selalu ku sempatkan memandang langit sambil afirmasi dan semoga setiap langkah yang sudah, sedang dan akan aku lakukan mendapatkan ridho dari Allah. Langit di kala senja juga tak kalah menarik perhatian ku. Ketika aku sedang bersedih, aku selalu mencari spot terindah untuk memandangi langit. Lalu bilang "Sampai kapan kau akan bersedih Nunga? Lihat apapun yang terjadi dalam hidupmu, seburuk apapun itu nampaknya, tidak akan ada yang berubah, bumi tetap berputar, matahari tetap terbit dari timur, langit tetap biru dan alam akan terus memancarkan keindahannya. Tidak kah kau malu dengannya? Banyak yang perlu disyukuri daripada fokus meratapi sesuatu" Dan itu berhasil membuatku ceria kembali.

Sedikit cerita, aku mulai menyukai dan memandangi langit semenjak Nenekku meninggal tahun 2012 lalu. Saat rindu itu datang, aku pasti memandangi langit dan percaya bahwa Nenek sudah mendapat tempat terindah di atas sana. Kadang aku ber-fantasi dalam imajinasi ku. Di langit yang indah itu, Nenek sedang memandangi ku sambil tersenyum. Bagaimana mungkin aku tidak rindu dengannya? Aku dari kecil dijaga dan diurus oleh Nenek, bulak balik Bandung-Bogor adalah rutinitas. Nenekku adalah orang pertama yang selalu memberikan arahan dan selalu menyuruh ku untuk bersyukur, karena aku memiliki dua pasang orang tua. Bukan hal 'normal' bagi kebanyakan orang. Bayangkan saja, saat umur ku 7 tahun obrolan dengan Sang Nenek bukan hanya tentang mainan atau makanan favorit tetapi nasihat dan berbagai wejangan. Menghormati orang tua adalah kunci masuk surga, begitu katanya. Nenekku selalu mengarahkan bagaimana seharusnya aku bertindak dan mem-perlakukan mereka (orang tua) dengan adil. Nasihat dari Nenek yang selalu aku ingat sampai kapanpun. Itu awal pula aku menyukai langit dan berujung mengagumi nya setiap waktu. Bahkan sampai detik ini.

Awan selalu memiliki bentuk yang menarik. Selalu aku berimajinasi dengan bentuk awan yang sedang kulihat. Seperti terompet, kapal atau bentuk apapun tergantung imajinasi ku yang akan membawanya kemana. Awan selalu bergerak tertiup angin. Memang benar, dalam hidup ini kita memang harus terus bergerak seperti awan, move move and move.  Bentuk awan tidak pernah kekal. Memang benar, di hidup ini tidak ada yang abadi.

Langit juga mengajarkan aku banyak hal. Langit yang luas, seluas pemikiran kita dalam memandang sesuatu. Langit yang lebar, selebar manfaat yang kita berikan kepada sesama. Langit yang tinggi, setinggi mimpi-mimpi kita yang digantungkan diatas sana. Langit yang lapang, selapang hati untuk mau menerima segala yang sudah Allah tetapkan dan gariskan. Langit yang biru, sebiru hati kita yang melambangkan ketenangan dalam kondisi apapun. Langit yang indah, seindah Allah telah menciptakan setiap insan manusia dan isi nya untuk kita syukuri. Langit dengan bentuk awan yang beragam, seberagam perspektif kita dalam memandang sesuatu, dan mengingat bahwa setiap orang memiliki pola pikirnya masing-masing. Langit tanpa batas, seperti kesabaran dan keikhlasan yang tanpa batas.

Bagiku, tiada lukisan paling indah selain langit biru dan kumpulan awan-awannya. Lukisan langsung dari Sang Maha Kuasa, pemilik sekaligus pencipta alam semesta ini. Aku tidak pernah bosan memandangi langit setiap harinya. Tetapi jangan sampai terlena melihat ke atas. Kadang kita juga perlu melihat kebawah. Memiliki mimpi dan usaha memang harus setinggi mungkin, akan tetapi jangan lupa taruh hati mu serendah mungkin. 

Ini adalah caraku mengagumi langit, bagaimana denganmu?







Semoga meng-inspirasi :)


- Langit Pangandaran, Jawa Barat 13 Juli 2016 -

Read More

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.