MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Kamis, 16 Juni 2016

"Titik Nol" Makna Sebuah Perjalanan

                                       
"Perjalanan adalah keberanian, penaklukan, impian, 
pergulatan, perayaan dan ekstasi" - Agustinus Wibowo

Titik Nol judul bukunya. Di sampulnya terdapat gambar seorang anak Uzbekistan sedang melayang indah di udara dengan latar belakang biru nya langit, setelah loncat dari atas pohon kering tanpa daun. Buku ini syarat akan makna, makna dalam setiap perjalanan yang dilakukan sang penulis dari satu negara ke negara lain di Asia Tengah. Tidaklah heran, cover buku bagian bawahnya terdapat kalimat "Titik Nol Makna Sebuah Perjalanan". Adalah Agustinus Wibowo pria asal Lumajang yang memulai perjalanan saat menginjak umur 22 tahun. 

Lalu apa yang menarik dari buku setebal 552 halaman ini? Bukan dari keberanian sang penulis yang melakukan perjalanan dari Beijing, Tibet, Nepal, India, Pakistan sampai Afghanistan. Tetapi 'perjalanan' didalam hatinya, kontemplasi-nya dan perjuangan-nya untuk bertahan hidup dari satu daerah ke daerah lain dengan status 'musafir'. Bukan sebagai backpacker atau bahkan turis. Membaca buku ini kembali mengingatkan ku bahwa hidup ini bagaikan sebuah perjalanan, dan setiap masing-masing orang adalah musafir untuk mencapai satu tujuan dengan cara yang berbeda-beda. Bahwa hidup adalah untuk berjuang, untuk melanjutkan nafas. Pegunungan Himalaya sampai Annapura di dakinya, sampai kematian hampir benar benar mendekatinya. Pendakian yang benar benar menguras fisik dan juga mental. Pencarian akan sebuah makna. Ada satu pernyataan yang saya suka perihal mendaki gunung :

"Perjalanan turun adalah proses melucuti ego. 
Jauh lebih mudah memupuk kekayaan sepanjang hidup, daripada melepaskan 
semua itu menjadi pertampa hampa. Ini kebalikan dari pendakian, 
yang sejalan dengan logika ambisi: berjuang untuk lebih tinggi dan tinggi" 
(halaman 205)

Bagi kamu yang suka mendaki gunung, kamu pasti tau bahwa turun gunung bukanlah perihal hal yang mudah, kawan! Berpacu dengan gravitasi, gerakan ingin cepat sampai bawah (yang mewakili ego pada diri manusia), tapi apa daya kelak kau akan jatuh jika turun gunung hanya ber-modalkan ego. Perlu tekhnis khusus alias 'melucuti ego' saat turun gunung agar seimbang dan tidak jatuh. Begitupun dalam hidup. Bersiapkah kau turun dengan kebanggaan, sampai pada titik nol?

"Lepaskanlah segala sesuatu justru pada saat kau masih menikmatinya, 
sebelum mencapai titik jenuh ketika kenikmatan itu malah berbalik arah 
menjadi kebosanan, penlakan, penyangkalan, kebencian." 
(halaman 270)

Makna perjalanan yang mendalam, ditambah bumbu 'spiritual' serta keindahan alam yang tersembunyi menjadi point penting dalam buku ini. Negara negara di Asia Tengah (yang bukan menjadi tujuan utama turis mancanegara) memiliki daya tariknya sendiri. Menjamu tamu asing dengan sangat luar biasa meski mereka hidup dalam keterbatasan. Salah satunya, di perbatasan antara India dan Nepal yaitu di Kashmir. Maka tak heran Kashmir disebut sebagai 'surga dunia yang merana'. Keindahan alam dan keramah-tamahan masyarakat Khasmir berhasil di gambarkan sang Agustinus Wibowo dengan cukup apik. Membuat saya penasaran sebenernya apa yang membuat masyarakat (yang mayoritas beragama islam) disana sangat baik di tengah banyak kekurangan yang mereka hadapi. "Berbagi dengan sesama memancarkan energi positif di dalam hati, lalu menumbuhkan kebahagiaan. Makin banyak energi positif yang terpancar, maka makin besar keinginan untuk berbagi dan makin merasa sangat bahagia". 

Perjalanan itu seperti menguji iman dan keyakinan kita. Akan selalu ada kerikil, jalan berlubang, tanjakan curam untuk mengetes seberapa kuat iman kita. Mengalirlah! Ya memang seperti ini hidup, bukan terus terusan memaksakan keinginan kita dalam bentuk takdir versi manusia.

"Hidup itu ajaib. Jalan ceritanya serba tak terduga. 
Lihatlah, takdir itu justru selalu mengincar orang yang menolaknya. 
Itu bukan takdir. Itu pilihan" 
(halaman 84-85)

Soal ketuhanan memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Dan ini menarik perhatian ku dalam buku ini. Sesuatu yang sangat fundamental dan keyakinan yang kuat bernama 'agama' mampu membawa seseorang untuk melakukan hal hal di luar batas kemampuannya. Seperti peziarah yang rela merangkak mengelilingi gunung suci Kailash (salah satu puncak gunung di Pegunungan Himalaya), dan dipercaya bahwa dosa seumur hidupnya akan dihapus. Di buku ini secara ekplisit membahas tentang berbagai ajaran agama. Sang penulis pun mengikuti ajaran dan budaya berbagai agama, seperti agama Budha di Tibet, agama Hindu di Nepal dan India sampai agama Islam di Pakistan dan Afghanistan. Bukan hanya perjalanan dari sang penulis, tetapi perjalanan 'spiritual' almarhum Ibunya ikut di gambarkan dengan jelas. 

"Kebahagiaan itu tidak pasti. Cuman kematian yang pasti. 
Ingatlah akan kematian, itu kunci kebahagiaan. 
Berterima kasihlah pada kematian. 
Karena kematian adalah guru terbesar dalam kehidupan." 

Ada tiga hal penting dalam setiap agama yaitu syariat (aturan), tarekat (jalan) dan hakikat (kebenaran). Dan diantara ketiga poin itu, hakikat alias kebenaran adalah yang paling penting. Jika setiap umat dalam setiap agama merasa agama mereka yang paling benar, maka untuk apa adanya perang antar umat ber-agama? Tidak akan ada akhirnya perkara tersebut. Seakan akan nyawa manusia tidak ada artinya. Agama adalah pilihan. Pilihan yang berdasarkan hati terdalam, bukan hanya topeng atau identitas semata. Agama yang paling benar adalah yang mengajarkan 'kemanusiaan'.

Agustinus Wibowo berhasil membawa saya melihat negara negara di Asia Tengah dari sisi yang beraneka ragam. Mengungkapkan sisi 'wisata' lain yang terasa sangat nyata, terus terang dan apa adanya. Terdapat banyak kebahagiaan dibalik kemiskinan, kelaparan, peperangan antar etnis dan agama serta berbagai bentuk politisasi yang tidak men-sejahterakan rakyat. Lalu rasanya, kita perlu sangat bersyukur terlahir di tanah Indonesia, dengan kebebasan memilih agama dan saling toleransi atar suku, agama dan budaya. Bhinneka Tunggal Ika!

Lalu kenapa judulnya Titik Nol? Setiap perjalanan pasti akan berujung pada akhir, pada kata 'pulang' dan pada kata 'rumah'. Titik Nol saat memulai perjalanan adalah Titik Nol pada saat akhir perjalanan. Bentuknya lingkaran, tanpa batas dan hanya memiliki satu titik.

"Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali. 
Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta tanpa bubar, 
tiada pertemuan tanpa perpisahan dan tiada perjalanan yang tanpa pulang"

Fakta nya saya terbuai dengan buku terbitan tahun 2013 ini yang juga merupakan buku ketiga dari Agustinus Wibowo. Sebelumnya ada buku berjudul "Garis Batas: Perjalanan di Negeri Negeri Asia Tengah" dan "Selimut Debu". Selamat membaca, semoga menginspirasi ya! Kalau ada yang mau pinjam  bukunya silahkan kabari saya. Sebelum ditutup, ada beberapa kalimat yang menggambarkan perjalanan buku ini :

"Dari sinilah sebuah perjalanan bermula. Fantasi tentang negeri awan, ambisi untuk menaklukan, liarnya alam, menggapai yang tinggi, pembuktian diri, menyibak negeri antah berantah. 
Semua manusia di tengah perjalanan, berbagai cara, berbagai tujuan, berbagai warna, 
berbagai cerita, berbagai keyakinan, berbagai perjuangan, berbagai fase. 
Perjalanan adalah keberanian, penaklukan, impian, pergulatan, perayaan dan ekstasi. 
Perjalanan adalah keheningan, perjalanan adalah saat teduh, perjalanan adalah meditasi, perjalanan adalah spiritualis, perjalanan adalah pencarian, 
perjalanan adalah penyucian, perjalanan adalah berserah. 
Perjalanan adalah perhentian, pembebasan, ratapan, pertahanan hidup, karma. 
Perjalanan adalah pencerahan, perjalanan adalah pulang, perjalanan adalah hidup, 
hidup adalah perjalanan. Dimanakah titik akhir itu?"







Read More

Minggu, 12 Juni 2016

Imajinasi Perasaan


"Logika membawa Anda dari A ke B. 
Imajinasi membawa Anda kemana saja" - Albert Einsten

Imajinasi selalu indah, imajinasi meng-asikkan, imajinasi selalu berakhir dengan ending bagaimana pelaku utama menginginkannya. Seperti kata Albert Einsten tadi, imajinasi membawa Anda kemana saja. Apa kamu pernah ber-imajinasi? Atau bahkan imajinasi adalah aktivitas rutin kamu? Bagiku, imajinasi bisa membawa aku menjadi siapapun dan apapun, bahkan menjadi seseorang yang terlihat 'ahli' dalam beberapa hal yang sama sekali aku tidak bisa.

Bagaimana dengan ber-imajinasi terhadap perasaan orang lain pada kamu? Bukan orang lain, akan tetapi orang yang kamu kagumi. Pernah kau merasakannya? Bagaimana rasanya? Menyenangkan kah? Hanya dalam imajinasi saja, rasa riang tak terkendali bisa begitu datang dengan mudahnya. Tapi terasa sulit menjadikan imajinasi sebuah kenyataan yang sungguhan. Apa alam semesta belum mengizinkannya? Lalu bolehkan aku terbelenggu dengan imajinasi yang sungguh menyenangkan hati (sesaat) selamanya?

Perasaan bisa timbul begitu saja. tanpa alasan dan tanpa tanda-tanda sebelumnya. Rasa itu muncul, tanpa menanyakan terlebih dahulu apakah orang itu sudah siap menerima nya atau belum. Ah kau wahai perasaan begitu egois! Lalu lambat laun, aku coba menerima perasaan itu. Menerima dan 'menikmatinya'. Tetapi hanya untuk menikmatinya saja, aku masih perlu melewati tahap perjuangan. Bagaimana bisa hal yang sudah kamu terima (dengan susah payah tanpa persetujuan sebelumnya) lalu kamu 'dipaksa' untuk menikmati, akan tetapi ada 'perjuangannya' didalamnya. Pelik memang atau aku sendiri yang membuatnya cukup pelik?

Katanya perasaan itu adalah sebuah anugerah. Tergantung kamu mau memilih menyatakannya atau memendamnya. Perasaan tidak bisa disalahkan. Karena perasaan datang tanpa berhak kamu putuskan kepada hati siapa dia akan berlabuh. Perasaan yang melebihi dari rasa suka dan kagum yang sudah terlalu overdosis, disertai dengan perasaan lainnya atau perilaku yang tak biasa. Seperti kata Boy Chandra dalam bukunya yang berjudul 'Catatan Pendek Untuk Cinta yang Panjang' berbunyi seperti ini :

"Karena aku percaya saat mencintai, 
kita hanya perlu memberi hati, 
tanpa perlu berharap lebih dari apa yang kita beri"


Kamu tau lagu Payung Teduh yang judulnya 'Mari Bercerita'? Seperti itulah kondisinya 'sesungguhnya berbicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita, selalu bisa membuat semua lebih bersahaja'. Iya benar sungguh sangat bersahaja. Kalimat bahkan segala pemikiranmu telah berhasil membuatku menyerah untuk mengendalikan perasaan aneh ini.

Lalu, bolehkah mulai hari ini aku memilih untuk menikmati perasaan melalui imajinasi? Karna nyatanya, aku tidak mampu membawa imajinasi pada logika apalagi kenyataan. Apa karna persoalan gender? Apa karna aku wanita sehingga ada 'batasan batasan' di dalamnya? Makin terus dipikirkan, di observasi, di rasakan dan berujung (pada akhirnya) di jalani ternyata cukup berhasil membuat aku kebingungan. Ketakutan melakukan kesalahan terhadap seseorang yang disuka. Pada akhirnya aku hanya bisa berjuang dalam 'diam'. Lalu berjuang dalam doa. Dan ber-pasrah...kalau jodoh tidak akan kemana dan akan segera dekat atau di dekatkan oleh Allah SWT. Aamiin.

Tulisan edisi hampir galau, tapi belum sampe batas limit ke-galau-an kok!

Read More

Jumat, 27 Mei 2016

Ber-'Hijrah' Apa Perlu Hidayah?


Kali ini, saya tidak akan membahas travelling atau trip saya ke tempat indah di Indonesia. Akan tetapi, tentang travelling terdalam pada diri saya sendiri. Perlu kau ketahui Bung, definisi travelling atau perjalanan itu sangat luas.

Hijab. Satu kata, berjuta makna. Di agamaku, hijab atau kerudung merupakan suatu kewajiban bagi seorang wanita. Fungsinya sudah jelas untuk menutupi aurat. Saya sungguh sudah tau hal tersebut dari dulu, dari SMA. Tetapi, mungkin saat itu hati saya belum tergerak mengenakan apa yang namanya kerudung. Saat itu, saya punya alasan tersendiri mengapa belum juga memakai kerudung. Bagiku, kerudung dan amal ibadah tidak ada korelasi nya. Ibadah seseorang tidak bisa hanya dilihat dari luarnya saja, nilai suatu ibadah hanya bisa Allah SWT yang menilai. Bukan manusia dengan mata nya, lewat kerudung yang dipakai. Stigma pemikiran tersebut terus berkembang sampai beberapa tahun terakhir.

Teman teman terdekat saya lambat laun sudah mulai memakai kerudung. Bahkan salah satu temanku yang sangat tomboy. Lalu, selalu ku tanyakan alasannya karena apa atau mendapatkan hidayah seperti apa. Karena sungguh menggelitik pikiran ku, "Masa untuk mengenakan kerudung harus mendapatkan hidayah terlebih dahulu? Sebenarnya hidayah tuh apa sih? Kira-kira hidayah yang akan datang kepada saya seperti apa ya?" Satu yang saya tau saat itu, hidayah itu seperti film film yang ada di televisi, azab yang didapat ketika seseorang akan dan sudah meninggal karena perilaku yang dilakukan selama hidupnya. Dikemas dengan begitu menakutkan. Banyaklah saya bertanya tentang kerudung dan hubungannya dengan ibadah, tentang hidayah, beradu argumen sambil membawa satu prinsip saya yang dulu itu, bahkan sampai kepada dosen pembimbing skripsi saya. Hal tersebut saya lakukan, karena saya penasaran dan belum mendapatkan jawaban yang saya inginkan. Lalu salah satu temanku mengatakan bahwa hidayah itu bukan ditunggu tetapi dicari.

Sekitar satu tahun yang lalu, saya belum juga menemukan jawaban yang pas untuk memakai kerudung. Pernah ku tanya pada Ibu ku dan Mamah ku kapan mereka mulai memakai kerudung, dan mereka kompak memakai kerudung setelah menikah. Mereka juga tidak pernah memaksa saya memakai kerudung. Bapak ku sempat menanyakan kapan aku memakai kerudung, katanya aku akan terlihat makin cantik setelah memakai kerudung. Lalu ku jawab pada Bapak ku, jawaban akbar bagi mereka yang belum memakai kerudung seperti saya yaitu "belum siap, lagi meng-hijabkan hati terlebih dahulu". Lagian, saya juga tidak mau memakai kerudung hanya ingin terlihat lebih cantik dan modis seperti para hijaber disana. Itu alasan yang cukup dangkal, bagiku kerudung atau hijab memiliki nilai spiritual tersendiri dengan Tuhan. Dan hanya ingin terlihat 'lebih cantik' belum cukup dijadikan alasan bagiku untuk segera memakai kerudung. Ketika someday, saya akhirnya memutuskan untuk memakai kerudung, itu karena keputusan yang saya buat sendiri dengan berbagai alasan yang cukup kuat. Dan yang pasti, saya sudah menemukan jawaban yang saya inginkan. Bukan karena suruhan, paksaan apalagi mengikuti trend. 

15 Februari 2016

Setelah solat dhuha, saya menghampiri kaca. Memandangi wajah sendiri sambil tersenyum manis dengan niat, saya ingin mengenakan kerudung dimulai dari hari ini sampai selamanya. Bismillah.....

Hari itu, hari pertama saya di dalam hidupku untuk memakai kerudung dengan niat karena Allah SWT dan dipakai selamanya, InsyaAllah. Cukup kerepotan, mungkin karena belum terbiasa dan kerudung saya selalu berantakan. Proses yang berhasil menggelitik perasaan sendiri hehe. Sebelumnya, saya menyampaikan niat saya untuk mengenakan kerudung kepada Ibu dan Mamah ku. Mereka tentunya senang dan sangat mendukung. Terutama Mamah ku, reaksi pertamanya ialah memeluk ku, katanya terharu. Mamahku lebay! :p

Sudah ku niatkan sejak lama, ingin mengenakan kerudung sebelum hari ulang tahun ku yang ke 23. Hari ulang tahunku tanggal 17 Februari. Saya ingin ada perubahan positif dalam diri saya, seiring bertambahnya umur saya. Banyak teman teman kampus yang kaget dan heboh atas keputusan saya ber-hijrah. Saat itu, saya masih dalam proses belajar bahasa inggris dan belajar kehidupan di Pare. Teman-temanku yang di Bandung mengatakan, bahwa Pare telah berhasil memberikan hidayah kepada saya. Bukan hanya mereka, teman teman baru ku di Pare tidak kalah kaget dengan perubahan penampilan saya.

Dan 1000% teman teman dan keluarga sangat setuju atas keputusan saya ber-hijrah. Mereka ikut senang dan mendukung. Bentuk dukungan mereka sangat lucu, teman teman camp saya di Pare langsung memberikan tutorial hijab gratis kepadaku bahkan sampai memberikan kerudung milik pribadinya tanpa ku minta. Tentu berbeda dengan reaksi teman temanku yang laki laki disana, "permanently or temporarily?" Itu adalah kalimat pertama yang dilontarkan salah satu temanku ketika untuk pertama kalinya melihat saya berkerudung. Cukup bikin kezel sih, masa saya mengenakan kerudung hanya untuk main main? Ada lagi nih yang saking pedulinya, dia selalu komen atas tidak rapih nya kerudung yang sedang saya pakai. Dikomen sama temen laki-laki rasanya.......

Bahkan sampai ada yang mengancam, katanya kalo nanti dia melihat saya upload foto tidak memakai kerudung, dia akan menjadi orang pertama yang mengingatkan saya untuk kembali ke jalan yang benar. Hahaha lucunya ya mereka semua? Intinya, orang orang di sekitar saya sangat mendukung salah satu aksi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Meskipun mereka menduga bahwa saya memakai kerudung hanya sementara. Apa mungkin saya seperti belum pantas mengenakan kerudung, ya? Sampai salah satu mentor ku di camp menanyakan, setelah saya pulang ke Bandung apakah kerudung ini masih akan saya pakai? Saya merasa tidak perlu menjawab semua pertanyaan pertanyaan itu, karena saya memakai kerudung bukan untuk menyenangkan orang-orang sekitar apalagi ingin terlihat alim, sungguh saya masih sangat belajar untuk menjadi seorang muslimah yang baik. Untuk masalah hijrah ini, biarlah menjadi urusan dan janji vertikal saya dengan Allah SWT. Dan saya juga tidak perlu mendapat persetujuan dari siapapun atas keputusan yang sudah saya ambil ini.

Asumsi dari mereka semua memang tidak patut disalahkan, karena setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya masing-masing. Tapi, apakah kamu tau apa jawaban yang akhirnya bisa merubah prinsip saya sebelumnya? Idealis saya yang tebal itu diruntuhkan oleh satu hal yang simpel. Jujur saja, setelah saya memutuskan memakai kerudung, saya belum mendapatkan 'hidayah' yang dimaksud orang-orang yang sudah hijrah terlebih dahulu. Hampir satu tahun saya mencari hidayah, dan cukup membingungkan. Setelah membaca beberapa artikel dan berbincang dengan beberapa orang, lalu muncul lah  perasaan dan pikiran yang  berbeda. Saya ingat sebuah kalimat, "memakai kerudung adalah kewajiban, sama seperti solat 5 waktu". Rasanya saya seperti orang takabur dan kufur nikmat. Sungguh malu rasanya, ketika menyadari begitu banyak nikmat, kebahagiaan, berkah dan segala kelancaran yang Allah kasih selama ini kepada saya. Dan untuk menjalankan satu kewajiban, HANYA SATU kewajiban yang jelas jelas sudah Allah SWT perintahkan saja, saya masih harus mencari-cari jawaban selama kurang lebih satu tahun. Masih harus mencari 'pembenaran yang lain' yang sebenarnya memang sudah benar dan ada suruhannya di Al-Qur'an. Seperti makhluk yang tidak tau diri, bukan? Sampai hari ini saya tidak tau, apa perasaan dan pikiran yang tiba-tiba muncul seperti itu bisa disebut sebagai 'hidayah' seperti kata orang orang?

Se-simpel itu yang akhirnya bisa menggugah hati saya untuk mengambil suatu keputusan terbesar dalam hidup saya. Dan satu lagi, saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Memantaskan diri untuk segala mimpi mimpi besar saya yang ada di depan mata, memantaskan diri untuk meminta kepada Allah SWT, bahkan memantaskan diri untuk calon Imam ku kelak. Sangatlah tidak mungkin, ketika saya menginginkan sesuatu yang baik tapi saya tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. Ketika saya menginginkan untuk keliling Indonesia, sangatlah tidak mungkin akan tercapai apabila saya hanya duduk manis sambil memandang peta Indonesia yang besar yang ada di kamar. Dan untuk mendapatkan Imam yang baik, saya juga perlu memantaskan diri untuk dia kelak :)

Saya sempat terlena, banyak meminta hal hal besar kepada Allah tanpa berpikir sebelumnya apakah saya sudah layak untuk mendapatkan itu semua? Makannya saya selalu ingin menjadi orang yang lebih baik dan memantaskan diri untuk mendapatkan segala anugerah luar biasa kelak. Yang baik selalu mendapatkan yang baik, InsyaAllah janji Allah tidak pernah ingkar.

Setelah mengenakan kerudung, saya merasa lebih dekat dengan Allah SWT, merasa lebih aman dan merasa lebih dihormati serta di segani. Dan yang pasti lebih mawas diri dalam bertindak. Rasanya kerudung seperti kaca yang berada di sebuah tikungan jalan, agar saya bisa lebih hati-hati dalam melangkah, jangan sampai salah langkah. Lebih semangat juga untuk belajar lebih dalam tentang agama.

Hari ini, sudah 3 bulan lebih saya memakai kerudung. Banyak yang saya pelajari. Terlebih dengan segala perdebatan dan perasaan yang ada pada diri sendiri. Belajar sabar dan ikhlas menunggu sesuatu yang sangat di inginkan. Belajar lebih tenang dalam bersikap atau mengatasi suatu masalah. Menyadari bahwa mencari uang itu tidak mudah. Belajar mengambil keputusan sendiri dengan cepat dan siap menerima segala resiko nya. Dan menyadari bahwa saya tidak akan pernah bisa menuntut dunia mengikuti apa mau saya. Temanku bilang "Percayalah bahwa hidup ini bukan hanya tentang TUJUAN yang ingin kita capai semata, selalu ada suatu hal besar yang bisa kamu ambil". Dan dalam proses 'hijrah' saya ini, sungguh saya sudah menerima banyak hal hal besar yang saya jadikan pembelajaran. Bagaimana dengan hijrah mu, kawan?

Ditulis pada hari Jum'at setelah membaca Surat Al Kahfi. Satu satu nya surat yang di turunkan di Makkah dan disaksikan oleh beribu malaikat di atas langit, berisikan tentang cerita ilmu, harta, tahta yang tidak akan lengkap tanpa dilengkapi oleh Iman. Barang siapa yang membacanya dimulai dari matahari terbenam pada hari Kamis, sampai matahari terbenam pada hari Jum'at, maka akan diampuni dosa sampai Jum'at berikutnya dan akan diberikan cahaya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jum'at berkah, doakan semoga saya selalu istiqomah begitu juga dengamu :)


Bandung, 27 Mei 2016

Read More

Selasa, 17 Mei 2016

Selamat Ulang Tahun, Pak!


Hari ini tanggal 17 Mei tepat hari ulang tahun Bapakku yang ke 60 tahun. Pria terhebat pertama yang ku kenal di dunia ini. Pria penyayang keluarga dan selalu memprioritaskan keluarga dalam kondisi apapun. Jadi flashback masa kecilku dulu, betapa aku sangat merepotkan beliau. Pernah dalam satu waktu, ketika aku sakit panas tinggi, aku digendong Bapakku sampai ke dokter. Anehnya momen itu masih sangat kuingat jelas. Pelukan hangat penuh kasih sayang masih bisa kurasakan. 

Bagiku, bapakku adalah pelindung terbaik sepanjang hidupku. Meski kadang terlalu posesif, tapi itu adalah bukti sayangnya padaku dan khawatir akan kemanan-ku. Tapi di sisi lain, bapakku selalu mengajarkan untuk menjadi wanita mandiri. Selagi bisa sendiri ya jangan sampai merepotkan orang lain. Saat SMA, setiap ada lelaki yang mengantarku sampai ke rumah karena sudah terlalu malam (apapun statusnya) selalu ku bilang mereka adalah teman baik. Dan Bapakku setuju. Katanya aku dilarang pacaran sampai aku selesai sekolah dan kuliah. Dan Bapakku ternyata pria yang memegang omongannya, buktinya setelah aku di wisuda, Bapakku langsung menanyakan "sudah punya pacar belum?" sontak aku kaget medengar pertanyaannya. Bapakku lucu ya?

Paling lucu lagi ketika aku akan wisuda. Bapak-ku dari jauh jauh hari sibuk memilih warna dasi yang pas untuk kemeja dan jas-nya. Katanya, wisuda adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh beliau. Menjadi kebanggaan tersendiri melihat anaknya sarjana. Dan akan segera dipamerkan ke teman temannya. Makannya foto profil di akun facebooknya yaitu foto denganku saat wisuda, yang belum juga diganti sampai saat ini.

Kalo boleh memilih, aku ingin berjodoh dengan pria seperti Bapakku. Sangat menyayangi Ibuku, perhatian dan selalu romantis meski usia mereka sudah lanjut. Kata Bapakku lagi lagi tentang suami katanya "Kalo kamu punya pacar harus dikenalin dulu sama Bapak, biar Bapak seleksi dulu orangnya baik atau engga" Bahkan sampai usia ku 23 tahun ini, Bapakku masih tetep kepo tentangku dan masih menganggap aku putri kecilnya yang dulu.

Siapapun di dunia ini, memang tidak bisa memilih kapan dia lahir dan dengan siapa atau keluarga mana dia dilahirkan. Aku pun sama. Garis kehidupan yang sudah ditakdirkan olehku. Mempunyai dua pasang orang tua yang sudah kusadari saat aku masih berusia 7 tahun. Tidak mudah ternyata. Dan tidak normal atau sulit dimengerti oleh teman teman sebayaku saat itu. Tetapi sungguh aku bersyukur atas segalanya, ya Tuhan. Aku sayang mereka ber-empat sama rata tanpa ada pengecualian. Aku sayang mereka ber-empat dan bercita-cita ingin membawa mereka ke Tanah Suci tanpa ada yang kurang sedikitpun. Dan hari ini, salah satu dari mereka ber-empat berulang tahun.

Selamat ulang tahun Pak! 60 tahun, umur-mu sudah tak lagi muda, sering kulihat kau sakit kepala karena penyakit kolesterol-mu sedang kambuh. Maka ya Tuhan, izinkan aku untuk segera menjadi anak yang selalu membanggakan orang tuanya, berikan waktu agar Bapakku bisa melihatku mandiri secara apapun, melihatku sukses meraih segala impiannya, melihatku berhasil membawa nya ke Tanah Suci, melihatku menikah dan melihatku punya anak serta bahagia dengan keluarga kecil-ku nanti. Aamiin Allahumma aamiin.

Selamat ulang tahun Bapakku tersayang. Maaf, aku masih belum bisa membanggakan-mu. Terimakasih, terimakasih dan terimakasih sudah berkorban, menjaga dan mendidik-ku serta terus memberikan kasih sayang yang tulus kepadaku bahkan sampai hari ini. Meski kita sama sama tau, bahwa itu semua sebenarnya bukan kewajiban dan tanggung jawabmu. Aku sayang Bapak dari hati terdalam. 


Salam dari anakmu yang belum sempat bertatap muka langsung.

Bandung, 17 Mei 2016

Read More

Senin, 09 Mei 2016

Sawarna, Sederhana Namun Mempesona!

 

Ketika angin laut menyapa lembut di wajah, deburan ombak yang bikin tenang di jiwa atau udara yang dihirup tidak seperti biasa karena ada sedikit kadar garam disana. Langit yang biru, laut yang bersih dan putihnya pasir selalu menjadi perpaduan yang manis. Sederhana namun mempesona. Semua ber-harmoni menjadi satu. Berujung pada satu kata, syukur! Aku tidak habis pikir, hal apa yang berhasil memberhentikanku untuk tidak jatuh cinta dengannya. Ah pantai, tetap selalu menggodaku untuk datang kesana, lagi dan lagi. 

Kali ini pantai yang aku datangi bernama SAWARNA. Surga tersembunyi di ujung selatan Banten yang berbatasan langsung dengan Sukabumi. Katanya, pantai ini pertama kali ditemukan oleh orang bule yang suka ber-selancar. Tidak heran, ombak disana cukup besar. Lalu pada tahun 2013 ditetapkan sebagai objek wisata. Masih cukup baru, pantai ini disebut sebagai destinasi wajib buat kamu yang pengen mengasingkan diri dari hiruk pikuk kota. Butuh perjuangan dalam perjalanan menuju sana, tapi hasilnya worth it dan tidak mengecewakan. Kira-kira 7-8 jam waktu perjalanan ditempuh dari Bogor menggunakan mobil. Di sepanjang perjalanan, kamu akan disuguhkan pemandangan laut yang cantik dari atas bukit. Kamu bisa datang dari Sukabumi atau langsung ke arah selatan Banten. Sawarna ini merupakan nama desa yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Jangan harap ada kendaraan umum menuju sana, swalayan pun jaraknya cukup jauh dan hanya terdapat dua.

Sederhana namun mempesona! Kalimat yang menggambarkan Sawarna. Belum ada home stay mewah, hotel bintang lima atau restoran mahal disana. Pasokan listrik pun masih harus didukung oleh jenset. Namun jangan khawatir, rumah warga bisa dijadikan pilihan. Ada pula, penyewaan rumah atau losmen yang harganya cukup ramah di kantong. Saranku, jika ingin ke Sawarna ada baiknya menginap satu malam. Mengingat akses dan jarak yang cukup jauh nan panjang. Kalau mau pesan makanan tidak bisa mendadak, karena perlu persiapan apalagi jarak ke Pasar cukup jauh. Kesederhanaan ini yang membuat Sawarna mempesona, menurutku.

Untuk yang bawa kendaraan pribadi, disana di sediakan lapangan yang cukup luas untuk parkir. Harga parkirnya Rp 25.000,- Kamu tidak bisa memarkirkan mobil tepat di depan home stay, karena kamu harus melewati jembatan yang panjangnya 20-30 meter dan hanya bisa dilalui satu motor. Cukup menegangkan, mengetahui jembatan ini masih cukup tradisional tanpa beton. Atau, kamu bisa memilih naik ojek menuju tempat wisata yang kamu ingin. Ada banyak destinasi disana, dan yang paling terkenal di Sawarna ialah Pantai Tanjung Layar dengan dua batu besar sebagai ikon-nya. Harga ojek di bandrol Rp 10.000,- per orang. Cukup murah kan?

Pantai indah nan cantik ini sangat disayangkan jika dihabiskan untuk main gadget, upload foto atau check in path. Setiap ke pantai atau travelling ke suatu tempat, aku selalu memberikan waktu sendiri untuk ber-kontemplasi sambil ber-mesraan dengan alam. Rasanya luar biasa! Setelah itu, kebiasaanku selanjutnya yaitu mendengarkan lagu favorit yang santai tanpa galau pake headset sambil ditemani secangkir kopi. Kali ini, lagu Payung Teduh - Cerita Tentang Gunung dan Laut ada di playlist.

Aku berharap, Sawarna tetap sederhanan dengan apa adanya disana. Namun yang aku takutkan, makin banyak orang berwisata kesana dan makin banyak pula sampah yang ditinggalkan. Semoga saja tidak. Selamat ber-kontemplasi di Sawarna yang sederhanan, namun mempesona :)


Pantai Pasir Putih


 Lagi belajar potret, fokus!


Tebak, sunrise atau sunset? :)

Pantai Tanjung Layar, paling hits di Sawarna


Destinasi cantik di Sawarna


Recommend buat nge-camp disana

Read More

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.