MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Selasa, 21 November 2017

Cak Nun - "Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem"

Hasil gambar untuk cak nun buku hidup itu
foto : google


Emha Ainun Nadjib. Siapa dia? Aku tidak tahu atau mungkin tidak mencari tahu. Sosok beliau dan buku ini (mungkin buku-buku selanjutnya dari dia) hadir disaat memang aku sedang 'butuh'. Sedang break down kembali tentang tujuan hidup ini ke arah mana dan bagaimana mencapainya. Mungkin ini bisa disebut sebagai hidayah yang Allah kasih kepadaku? Bermula dari obrolan tidak sengaja dengan seorang teman yang berujung dia meminjamkan buku ini sampai akhirnya aku menulis di blog ini. Wallahu a'lam.

Dalam postingan kali ini aku tidak akan menulis resensi secara detail, karena memang setiap halaman dari buku ini penuh dengan makna. Buat mikir, mikir dan akhirnya diam. Diam untuk flash back, menyadari, mengakui dan akhirnya memohon maaf kepada Allah SWT. Bukan karena sudah berbuat dosa (aku ini pasti dosanya sudah banyak), karena yang tau apa yang sudah aku lakukan dosa atau tidak itu hanya kewenangan milik Allah SWT semata. Tapi memohon maaf karena sudut pandang aku dalam hidup ini yang masih saja berorientasi pada materi (takut gapunya uang), pada rasa ingin dihargai orang, pada rasa ingin diakui lingkungan, pada rasa ambisius mencapai sesuatu dan semuanya tentang dunia. 

Dalam buku ini, aku seperti 'diingatkan' kembali dengan tujuan aku hidup ini apa? kemana? Pasti bukan dunia, karena dunia hanya sementara. Dan kalaupun aku terus mengejar dunia, sudah pasti aku akan masuk dalam jurang kekecewaaan. Aku lupa, aku memiliki Tuhan yang Maha Hebat. Allah SWT yang hanya dengan kedipan mata saja bisa merubah apapun itu. Allah SWT yang mengatur semua langit, bumi dan segala isinya termasuk setiap kehidupan satu manusia sekalipun. Mengatur saat dia lahir, berasal dari keluarga mana, kerja dimana, siapa suami/istrinya, hidup tuanya bagaimana bahkan sampai nanti meninggal. Allah SWT sudah mengatur semuanya. Sebaik-baiknya yang bisa mengatur hanyalah Allh SWT. Lihat saja bagaimana alam semesta ini tercipta dengan peran nya masing-masing. Allah SWT yang mengaturnya dan semua yang terjadi atas izin dari-Nya bahkan sehelai daun yang jatuh dari pohon sekalipun. Kata Cak Nun, tadaburi-lah. Mencari manfaat yang ada di sekitar kita baik itu angin, pohon, manusia dan ‘masalah’ yang sedang dihadapi atau bahkan kotoran sapi sekalipun. Pasti ada manfaat yang tersimpan disana, cari tau dan ambil pelajarannya. Jika memang aku tidak bisa jadi pemenang, setidaknya ada yang bisa aku pelajari. ‘Belajar dari’ harus lebih besar daripada mempelajari. Kalu benar-benar mempelajari suatu hal kamu ndak akan pernah sampai. Sebaiknya kita tadaburan bersama.

Cak Nun juga bilang. Tidak perlu berusaha keras ingin berbuat baik kesana kemari kalau saat menjalani hidup saja masih banyak ngeluhnya dan tidak menerima (ini aku bangeeettt). Sempat ngobrol sama teman, ada 3 hal yang apabila bisa dilakukan maka hidupmu akan sangat nikmat dan enjoy. Yaitu berserah, ikhlas dan sabar. Apapun yang terjadi dalam hidupmu, bahkan ketika ada macan dihadapanmu, kamu akan santai menghadapinya. Aku sangat setuju. Namun 3 hal tersebut tidak gampang nan susah. Namun aku akan terus belajar untuk itu. Kenapa? Karena aku pernah mengalami fase kehidupan dimana aku memiliki banyak ketakutan, khawatir, resah, mikir kesana kesini (over thinking) dan sangat membuatku cape. Cape otak dan cape hati. Merasa hidup hampa. Semua itu terjadi mungkin karena iman-ku sedang goyah. Oleh sebab itu, imam perlu dipupuk terus menerus. Orang yang sudah mengucapkan 2 kalimat syahadat belum tentu akan menjadi orang ‘muslim’ (islam dan muslim berbeda ya dalam konteks ini) selamanya. Lah wong aku yang sudah pakai kerudung saja, pasti goyah iman-nya. Banyak ilmu agama yang belum aku ketahui. Banyak kurangnya. Maish harus terus belajar dan istiqomah. Pada zaman now ini, banyak sistem seperti internet, yang membuat kita melampiaskan diri (gas) tapi lupa untuk mengendalikan diri (rem). Makannya, kita perlu berdekatan dengan sahabat sahabat yang memban untuk mengendalikan diri. Karena islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem.

Yang paling aku suka, saat Cak Nun membahas tentang isu sosial. Beliau bilang, ada 2 hal yang harus kamu lindungi tentang manusia yaitu pertama nyawa dan yang kedua martabat (jangan dihina, dilecehkan atau dihalangi pilihannya). Nah tentang pilihan ini aku setuju banget. Identitas manusia, ya manusia itu yang tentukan. Ada hal hal yang memang sudah digariskan dimana manusia tidak bisa menentukan sebelumnya (personalitas) seperti nama, tanggal lahir, tinggi badan, agama dll. Namun ada hal hal yang memang manusia bisa menentukan sendiri (identitas) seperti kerja dimana, menjadi orang seperti apa atau memperdalam ilmu atau tidak. Islam itu agama yang benar benar memberikan kebebasan namun dinamis dan ada batasan. 

Selain tentang muslim, Cak Nun juga menggunakan pendekatan politik, budaya dan fenomena yang sedang terjadi secara rasional. Masuk akal dan aku menerima itu tanpa banyak mikir atau bertanya. Dalam buku itu, Cak Nun secara jelas mengatakan bahwa beliau belum tentu benar, orang berpeci dan bersorban sekalipun belum tentu benar. Yang menjadi kebenaran adalah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Makannya beliau tidak mau dipanggil ustadz atau kiai atau bahkan ulama. Karena memang zaman sekarang ini, manusia lebih banyak mengkotak-kotakkan sesuatu. Mengkafirkan suatu kaum, membenar-salahkan sesorang, menjadi penentu dosa atau tidaknya seseorang atau bahkan yang lebih sadis mengajak orang-orang untuk mengikutinya membenci seseorang atas dasar asumsi nya sendiri yang belum tentu benar. Balik lagi, kebenaran hanya milik Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Hidup ini memang sudah susah. Jadi jangan dibikin susah, semua menjadi nikmat dan rahmat jika kita mengizinkan itu terjadi. Percaya, bersama kesulitan maka disana ada kemudahan (ih ini suah loh di yakinin pas lagi ada masalahnya, aku ngerasanya susaaaah banget). Buku ini berhasil membantuku ‘mengingat kembali’ tujuan dalam hidup dan makin dekat dengan pencipta. Ada banyak hal yang dibahas dari buku ini seperi tasawuf, kenapa ar-rahman (meluas) dulu baru ar-rahim (mendalam) dalam bismillah, tentang menjadi manusia terlebih dahulu baru bisa menjadi muslim, tentang tadabur bersama, tafsir dan lain sebagainya. Kamu bisa baca semua di buku itu. Intinya buku ini benar-benar berhasil mengarahkan aku ke kehidupan yang on track (insyallah). Ada beberapa quote yang aku suka :

“Jangan terlalu menuntut orang lain. Jangan menunggu orang lain berbuat baik denganmu. Sibukkanlah dirimu untuk berbuat baik kepada orang lain, karena disitulah letak kemuliaan. Jangan gunakan hidupmu untuk menunggu dihormati orang lain, karena energi akan habis untuk menghormati orang”


“Agar kamu bisa ridha dengan segala ketentuannya, mulai sekarang kamu harus belajar menyiapkan ridha pada apa yang kamu sangat tidak setujui”


“Setiap saat kamu perlu mengingat bahwa lebih banyak hal yang tidak mau ketahui 
daripada yang kamu ketahui”


“Yang tertinggi adalah bila yang terjadi pada kamu, apa yang kamu alami, apa yang kamu putuskan, yang kamu langkahkan dalam hidupmu sama persis dengan perintah Allah SWT atas kehidupanmu. Bisa kecil, bisa besar dan bisa sedang”


“Jangan ada pengetahuan yang tidak kamu teteskan ilmu dan pemahamannya. 
Setiap peristiwa yang kamu alami harus memberi ilmu dan hikmah kepadamu”


Jadi gimana? Makin tertarik kah dengan buku ini atau sosok Cak Nun? Suatu hari nanti, ingin banget ikut pengajian Kiai Kanjeng dan bertatap langsung dengan beliau. Insyaallah. Semoga tulisan ini bermanfaat ya :)


Jakarta, 21 November 2017

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ditunggu kritik dan sarannya ya agan agan!

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.