MEANING OF LIFE, JOURNEY, TRAVELLING AND HAPPINESS

Sabtu, 16 Juni 2018

Macet Mudik yang Ber-Meaning #Alhamdulillah

Image result for macet mudik kartun

Macet. 

Apa yang kamu bayangin kalo denger kata itu? Bete, kesel, marah ngabisin waktu, panas, telat, rencana gagal dan lain-lain. Kali ini aku mau cerita pengalaman 'kena macet' saat mudik. Hari Lebaran pertama, seperti biasa aku dan keluarga (Ibu, Bapak Bogor) mudik ke Bandung. Nah sebelum berangkat, kita memilih akan lewat jalan mana menuju Bandung. Sukabumi apa Puncak? Lalu kita decide untuk lewat Puncak. Ternyata oh ternyata dalam perjalanan itu, jalanan dari Gadog-Puncak macetnya luar biasa. Aku pun menghabiskan waktu dengan bengong di jendela mobil dengan pikiran yang melayang kesana kemari sampe bertemu pemikiran ini "Eh macet tuh udah kaya hidup ya? Kaya menjalani hidup gitu, ketika lo udah decide lewat mana, terus ada hambatan (macet) sebelum mencapai tujuan. Reaksi lo mau gimana?" 

Hayooo respon kalian mau gimana? Marah atau kesel atau malah enjoy aja menikmati si macet karena ga mungkin itu mobil balik lagi, depan, belakang, samping sama macetnya. Hmm kesel udah pasti sih, marah juga iya. Tapi pas lagi didalem mobil terus tau jalanan didepan mata macet panjang ya mau gimana? mau marah marah ke pak polisi yang sedang bertugas sambil teriak-teriak juga ga menyelesaikan masalah. Atau mau memaki segala hal dengan tanpa objek alias marah marah sendiri? selain menghabiskan energi ya nantinya bakal cape sendiri. Mau gimana juga itu jalanan macet mesti dilewati. Dan ga ada yang berubah, mau kita marah marah sambil memaki bahkan teriak teriak di jalanan.

Nah sama kan kaya hidup? Ketika udah punya tujuan, lalu memutuskan lewat jalan mana ternyata ditengah jalan ada hambatan. Responnya ya gausah marah, toh tetep ga ada yang berubah karena Tuhan sedang berkuasa saat itu. Apalagi merespon sambil menyalahkan diri sendiri karena merasa salah ambil keputusan. Mau balik lagi? Inget buang buang waktu ga harus mulai lagi dari awal. Atau terus maju kedepan pelan pelan. Aktifkan panca indera lebih peka untuk lihat sekitar. Cari peluang/kesempatan jalan lain yang (mungkin) minim hambatan? semua bisa dipilih dan tidak ada jalan yang paling benar. Semua jalan atau keputusan yang diambil bisa jadi keputusan terbaik untuk diri masing masing. Tidak ada yang paling benar atau yang paling salah. Yang ada hanya kesempatan untuk belajar dan koreksi diri.

Ternyata hidup ini penuh dengan surprise tak terduga. Semua rencana manis yang ditulis dengan sangat detail selama bertahun tahun bisa saja tidak terwujud karena hal se-sederhana itu. Terus mau bagaimana? Hidup ini tidak bisa kita kontrol mesti berjalan seperti apa. Respon orang lain melihat kita pun tidak kuasa bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol, hanya diri ini. Iya, diri ini. Bahwa pikiran dan perasaan negatif yang ada bisa sangat mudah menghancurkan diri ini secara perlahan sebelum mencapai tujuan.

Hari itu aku belajar dari kemacetan di jalanan Gadog-Puncak. Diri ini tidak berhenti untuk berkotemplasi, menanyakan banyak hal, berargumen ini itu sambil tertulis lah postingan ini. Katanya hidup itu jalani, nikmati, syukuri. Tapi aku lebih suka ada kata berusaha diawalnya menjadi usaha, jalani (apapun hambatan yang ada), nikmati dan syukuri (apa yang sudah dan sedang terjadi). Well noted for my self. Terimakasih ya Allah, di Hari Raya Idul Fitri 1439 H ini aku belajar banyak. Bismillah memulai lembaran baru dengan semangat positif dan beryukur lebih banyak :)


Bandung, 16 Juni 2018


Read More

Senin, 04 Juni 2018

Ber-JEDA dari Instagram


Image result for Instagram

"Eh kamu sekarang udah jarang posting di Instagram ya?" - Henny

"Nung kemana aja? Kok sekarang jarang muncul di Instagram? 
Biasanya kalo gue buka home Instagram ada lo entah di Instagram story atau postingan foto" - Tami

"Apa kabar Nunga? Kemana aja?" - Ka Bangkit

"Nunga ga ada kabarnya deh, biasanya nongol di Instagram. Sekarang ga ada :(" - Kiki

"Nunga lagi sibuk travelling kali dia" - Teh Retno

Dan masih banyak lagi temen temen yang komen gitu disaat bertemu langsung atau japri chat atau bahkan di group. One thing sih, gila ada juga ya yang merhatiin ilang di social media hampir 3 bulan belakangan ini? Jadi ada 2 pemikiran, aku yang terlalu aktif di instagram sampe sampe sekalinya ilang ketauan banget atau mereka adalah tipe teman yang sangat 'peka'? Jawabannya : entah, hanya mereka dan Tuhan yang tau.

Di postingan ini aku mau bercerita awal mula aku decide untuk menghilang dari social media (instagram) selama hampir 3 bulan (iya baru 3 bulan doang sih, ah elah lebay si Nunga hehe). Bermula dari kejadian ekstrim yang menimpa saat itu, aku merasa terganggu melihat postingan beberapa orang yang menghadirkan rasa marah dan kecewa didalam diri muncul lagi. Padahal ada fitur hide ya tapi aku malah menghapus aplikasi instagram di handphone. 2 bulan setelahnya aku dowload aplikasinya kembali tapi sama sekali ga posting, hanya liat seperlunya dan dipastikan 'tidak kalap' alias menghabiskan waktu ber jam jam untuk itu (biasanya dulu gitu dan sangat unfaedah things). 

Nah apa sih yang buat aku ampe decide itu? Intinya dari semua alasan yang ada, aku belum bisa control my mind setelah liat postingan orang-orang atas achievement nya masing masing. Ada rasa membandingkan diri ini sama orang lain sehingga jadi orang yang sulit bersyukur atas apa yang sedang dan sudah terjadi. Misal : 

"kok enak ya dia udah sampe di posisi itu kariernya? Lah aku masih gini gini aja" 

"kok dia orangnya vision banget ya? aku aja masih gatau mau kemana" 

"Ih enak ya dia kerjaannya makan di resto mahal dan travelling ke luar negeri mulu, enak ya hidup jadi dia" 

"Duh cowoknya romantis gilaaaaa, bahagia kali ya jadi ceweknya"

Dan stupid think yang sama sekali ga bisa bikin pikiran aku jadi sehat dan positif. Yang sebenarnya setiap orang itu punya prosesnya masing masing dan belum tentu apa yang kita lihat (keberhasilan) diluar itu gak ada rasa pahit dan prosesnya. Every person has own process to be someone. Terus jadi buat diri ini merasa tersudut. Ditambah perasaan sedih yang sampe umur 25 tahun aja gatau mau kemana dan punya cita cita apa. Yang sedang merasakan itu siapa? Tenang, kamu ga sendirian. Dulu merasa malu mengakui bahwa diri ini gatau mau kemana. Sekarang dengan mengakui perasaan itu dan jujur pada diri sendiri, ya jadi gak merasa terbebani banget.

Balik lagi ke Instagram dan kegalauan didalam diri. Bisa menjadi orang yang selalu happy untuk coba hal baru tapi pasti ga konsisten ujungnya. Yang makin merasa deg deg an belum menentukan passion dikala orang orang sudah siap dan yakin masuk ke tahap hidup selanjutnya. Ah sedih deh kalo semua rasa khawatir, takut dan gelisah bertemu jadi satu :( Come on Nunga, it's just posting photo. Don't compare. Be grateful and appreciation what you have done even just a little things. Itu kalimat yang selalu jadi penyemangat disaat rasa dan energi negatif muncul setelah liat postingan temen di Ig.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghilang beberapa saat dari Instagram, mengambil JEDA lebih tepatnya. Sambil menyiapkan pikiran dan mental yang lebih positif nanti kedepannya. Tidak ada yang salah di Instagram, pikiran aku saja yang belum bisa positif :) 

Sekarang juga mulai 'bersih bersih' feed instagram sih, ingin hapus foto foto aku yang belum berkerudung. Dimulai dari hide, nanti nya akan delete permanen. Kenapa ga langsung delete? Duh belum siap, soalnya apa yang aku posting di instagram itu kaya hal hal bersejarah yang punya kesan tersendiri. Misal saat selesai yudisium dan dinyatakan lulus, wisudaan, firt time naik gunung, nekad ke kampung inggris Pare dan so many things. Kaya nya saat saat itu, masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan deh. Tanpa beban, tanpa bisikan dari kanan kiri atau rasa sempurna dalam melakukan sesuatu. Dan juga segala eskpetasi yang dibuat sendiri yang tanpa disadari lama kelamaan bisa membunuh secara perlahan.

Balik lagi tentang menghilang dari instagram. Modelnya kaya Path sih yang berhasil buat aku konsiten untuk tidak mendowload aplikasi Path kembali di handphone dari tahun 2015. Karena apa ya? Menurut ku Path adalah social media yang sangat menfasilitasi ajang untuk pamer sedang ada dimana, makan di tempat hits mana sambil ambil foto dengan angel terbaik. Yang malah ketika lagi travel ke satu tempat, hal pertama yang dilakukan ialah jadi kaum nunduk demi add new location di Path haha. Lucu ya? Kadang social media benar benar berhasil menjauhkan yang deket dan mendekatkan yang jauh. Esensi tempat dan pergi-sama-siapa menjadi gak ada artinya. Dan aku pernah menulis tentang kaum nunduk tahun 2014 dengan judul Mahasiswa Kaum Nunduk

Dari hasil obeservasiku, banyak orang melakukan sesuatu even mengunjungi tempat hanya untuk posting di instagram. Akhirnya kata 'instagramable' tanpa sadar menjadi patokan caffe atau tempat hits lainnya dibuat. Entah siapa yang buat hal tersebut terkesan lumrah. Dateng ke suatu tempat hanya untuk foto agar bisa posting di instagram. Bukan lagi untuk seharusnya tempat itu dikunjungi untuk apa. Jadi kaya kebalik ya? Contoh deh pas kemarin ada acara buka bersama, semua nya mengeluarkan hp dan live di instagram masing masing. Yang dimana moment untuk ngobrol bareng dan bonding nya jadi-agak-sedikit terganggu dengan komen dari followers di live instagram itu. Sudah sampe sebegitunya ya the power of instagram? hehe. 

Menurutku, jika hal ini terus berulang dilakukan maka tanpa sadar aku seperti memberi makan nafsu didalam diri untuk terlihat lebih dan lebih dari orang lain. Untuk terlihat hebat daripada orang lain. Untuk terlihat mengesankan didepan orang lain. Untuk mendapat pengakuan dan identitas dari lingkungan (mungkin). Akhirnya aku memilih untuk menguranginya sedikit demi sedikit. Walau sulit ya. Dan fokus pada esensi dasarnya. 

Tapi jangan salah, aku pecinta instagram dari awal mula doi masuk Indonesia loh. Nih buktinya aku pernah nulis  instagram di postingan blog tahun 2012 lalu. Menurutku instagram lebih ada meaning dan sisi art nya sih dalam sebuah postingan photo/video. Sampai saat ini aku tetap penggemar instagram!!

Nah itu sih alasan kenapa aku menghilang dari instagram akhir akhir ini. Bukan karena apa apa, tapi diri ini yang belum siap. Insyallah nanti muncul lagi dengan postingan yang lebih informatif dan meaningful ya, aamiin. Tapi meski menghilang di social media aku tetep aktif nulis blog kok, ada 4 postingan blog terbaru dan aku masih hidup normal. Gak ada yang berubah. Yang paling penting, alhamdulillah aku masih dalam keadaan sehat dan baik baik saja. Kali aja ada yang khawatir, kali aja yaaaaa. Selamat puasa Ramadhan yang tinggal 1 minggu lagi :)

Semoga menginspirasi.


Jakarta, 4 Juni 2018.

Read More

Rabu, 16 Mei 2018

Time to Challenge Yourself!

Hasil gambar untuk challenge your self

Siang ini, di depan laptop dengan green tea latte sambil memandang langit di Depok. Besok sudah mulai puasa, ah waktu tidak terasa. Aku memilih duduk di dekat jendela, bukan hanya karena bisa lihat pemandangannya tapi hanya disana yang ada colokan listrik untuk charge laptop. Tapi siapa sangka bengong sambil memandang jalanan di Depok, seru juga.

Jam menunjukkan pukul 14.30 WIB, menunggu seorang teman  untuk minta diajari hardware/jaringan dan hal lainnya yang mempermudahku dalam bekerja nantinya. Temanku ini memang hari ini ada visit di Bogor, jadi lah Depok ku anggap sebagai tempat bertemu di antara kami.

Ada yang tidak biasa mengenai aktivitasku harianku akhir akhir ini. Jam kerja ku tidak lagi seperti orang kantoran. Buktinya jam segini aku bisa ngopi di daerah Depok, dekat dengan kampus UI. Hal yang tidak bisa aku lakukan saat kemarin bekerja office hours. Aku baru bisa keluar kantor saat langit sudah gelap, aku selalu kehilangan momen senja saat itu. Sekarang aku bisa lebih leluasa melihat langit dan kawan kawannya. Rasanya aku seperti sedang menantang diriku keluar dari zona nyaman. Benar benar dunia baru dan penuh tantangan yang tidak bisa diprediksi setiap harinya.

Bersahabat dengan beragam transportasi umum di Jakarta, seperti busway, KRL, ojek online bahkan angkot. Lebih sering melihat google maps untuk melihat rute terbaik lewat mana. Yap, aku saat ini benar benar menjadi 99% orang lapangan!!!

Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan SaaS Point Of Sales (mesin kasir online yang digunakan untuk para pelaku bisnis) di Jakarta sebagai product trainer on site. Mengunjungi customer dan menjelaskan how to use this POS to help their bussiness. Target pasar nya yaitu pengusaha UMKM di Jabodetabek. Bertemu orang baru dari beragam jenis bisnis yang berbeda. Mendengarkan cerita tentang ide/konsep membangun usaha bagaimana. Bahkan ikut turut riweuh saat toko buka dimana banyak customer yang datang. Dunia baru, lingkungan baru dan tentunya ritme kerja baru. Bukan hanya itu, aku bisa lebih sering melihat aktivitas orang yang berbeda setiap harinya. Di kantoran, di jalanan bahkan didalam transportasi umum. Semua yang dilakukan orang orang diluar ini menunjukkan bahwa mereka sedang berusaha mengais rejeki dengan carayang beragam. Pemilik bisnis, kasir, supir busway, tukang pulung, tukang parkir, penjaga tiket kereta KRL dan siapapun yang aku temui di jalan. Ada yang sedang berusaha keras, ada juga yang santai santai saja. Ada yang kelelahan bekerja sampai tertidur lelap di busway sampai ada yang sedang berjuang mendpatkan pekerjaan di Ibukota. Beragam, sangat beranekaragam.

Aku sempat ingin menyerah awalnya, bagaimana mungkin aku satu satunya wanita di posisi ini. Baru sampai kosan malam, paginya harus sudah visit ke tempat baru lagi. Enaknya bekerja dengan waktu yang fleksible ini bisa aku pakai untuk menyalurkan hobi, seperti nulis blog ini misal :) Apa aku bisa bertahan atau tidak? Aku belum tau. Tapi yang saat ini aku tau ialah, I want challenge my self to next level. Enjoy in every moment dan happy inside. Belajar dari kesalahan di masa lalu, intinya aku tidak akan menyerah sebelum berjuang. Rasa rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk kasih tantangan ke diri sendiri. Welcome to new Nunga's journey! Ini cara aku challenge diri sendiri, bagaimana dengan mu? :)


Semoga menginspirasi!

Depok,
16 Mei 2018 di Yellow Truck Coffee, Margonda

Read More

Sabtu, 31 Maret 2018

Apresiasi - Pertarungan - Mereka

Hasil gambar untuk over thinking


Apresiasi
“Lalu apa yang sedang dicari? Mengapa sampai sebegitunya kau menyakiti diri sendiri. Untuk apa? Untuk terlihat hebat di mata orang lain?” Menurutku, pada dasarnya sifat alamiah manusia ingin merasa di hargai/di apresiasi oleh sekitar. Apalagi dengan maraknya media sosial saat ini. Media sosial dijadikan tempat untuk aktualisasi diri, platform menyombongkan diri pada dunia maya bahwa ‘ini gue bisa’ atau ‘ini loh gue udah kesini’ dan lainnya. Menurut Abraham Maslow pun tingkat kebutuhan dasar manusia ada 5, dan di tingkat ke 4 yaitu manusia ingin merasa dihargai/diapresiasi. Hanya takar nya itu jangan berlebihan. Coba deh kaji lebih dalam lagi, kamu hidup untuk apa? Atau untuk apa aku hidup? Seseorang pernah berkata “emang kenapa kamu ingin mendefinisikan hidup? Ilmuwan aja ga ada tuh yang mendefinisikan hidup itu apa?” pertanyaan sulit. Balik lagi ke sisi apresiasi. Jujur pada diri sendiri aja sulit, apalagi jujur sama sekitar. “Engga kok, aku ngelakuin inimurni karena sosial, tapi masih ku posting di media sosial karena ingin menginspirasi saja” inspirasi dijadikan alasan yang sangat pas bagi mereka dan mungkin aku? Haha. Jadi, masih adakah orang yang menjalani hidup tanpa ingin rasa dihargai/diapresiasi sedikitpun?


Pertarungan
Jeda ini membuatku bingung. Memilih jujur pada diri sendiri atau omongan negatif dari sekitar. Berani mengejar mimpi atau bersyukur atas realita yang ada. Melupakan masalah lewat senyuman atau menyelesaikan masalah meski berdarah darah. Idealis atau realistis. Berdiri di kaki sendiri atau support dari orang lain. Optimis dengan apa yang dimiliki atau bersahabat dengan rasa kecewa. Berani ambil resiko untuk hidup lebih baik atau menjadi budak atas drama hidup yang sedang terjadi. Ber-simpati atau ikut ber-empati. Dan masih banyak lagi. Untuk siapa diri ini bertarung habis habisan? Untuk apa diri ini memikirkan banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya Apa yang sedang di raih? Apa yang ingin dikejar? Siapa nantinya yang akan menjadi wasit atas pertarungan yang sedang diri ini mulai tanpa tau finishnya dimana. Bukan kah itu hal yang melelahkan, kawan?


Mereka
Kadang aku iri kepada mereka. Mereka yang dengan santainya menyikap setiap kondisi kehidupan dengan lelucon. Berpikir hidup untuk hari ini. Hanya hari ini. Tak perlu punya rasa khawatir berlebih untuk esok hari. Dulu, orang seperti itu ku maki habis habisan. Tidak punya masa depan. Tidak mau usaha. Pasrah saja sama takdir hidup yang ada. Bahwa sebenernya manusia berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, asalkan usaha! Itu prinsipku terdahulu. Disana aku lupa, bahwa usaha berdekatan dengan rasa gagal. Rasa kecewa. Makin tinggi ekpetasi dalam pikiranmu, makin tinggi kau akan merasa kecewa. Makin besar cintamu kepada seseorang, makin besar juga rasa sakit yang akan kau dapatkan. Itu hukum alam. Lalu, pada siapa diri ini menanyakan perihal eksistensi diri ini bagaimana. Lelah sekali terus berpikir hal yang tidak pasti. Banyak berpikir ternyata tidak buat kamu hebat. Tidak buat kamu ‘selesai’. Tidak buat kamu lebih baik. Aku ingin seperti mereka, mereka yang dulu sempat aku sindir habis habisan. Mereka yang tetap merasa damai dan tenang di hatinya meski  hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.


Read More

Selasa, 20 Maret 2018

Ikut Andil Mengapresiasi Pengrajin Lokal Bersama Qlapa :)

Hasil gambar untuk qlapa.com


INDONESIA. Ada 17 ribu pulau di Indonesia dengan lautan luas yang menakjubkan baik dilihat dari atas atau bawah sekalipun. Ada lebih dari 300 suku yang tersebar di Indonesia berikut dengan bahasa dan budaya yang beragam. Dan semua yang ada disana menjadikan Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimilki negara lain. Makannya tidak heran banyak turis mancanegara berlomba-lomba untuk datang ke Indonesia bahkan investasi dalam sektor pariwisata disini. Pariwisata di Indonesia memang saat ini ‘sedang diatas angin’ dan ini harusnya jadi peluang usaha dalam sektor apapun untuk memajukan Indonesia. Misalnya seperti ikut mempormosikan wisata di Indonesia (khususnya di daerah terpencil yang belum diketahui), membuka usaha resort atau restoran di daerah wisata dan memperkerjakan masyarakat lokal disana sehingga menekan angka pengangguran atau mengurangi urbanisasi. Atau ada yang paling mudah ialah memberikan apresiasi kepada pelaku usaha di Indonesia yang menjual barang barang handmade khas Indonesia. Bagaimana cara mengapresiasinya? Bukan hanya dengan memuji di media sosial masing masing, akan tetapi ikut membeli dan mempromosikan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki banyak pengrajin lokal berkualitas yang tidak kalah dengan negara lain.

Hal ini menjadi fokus utama mengingat sekarang ini banyak barang dari luar negri yang masuk ke Indonesia lalu dijual dengan harga miring. Semua seakan berlomba lomba untuk menjual barang yang sama dengan harga serendah mungkin dan hal ini berhasil menarik perhatian kebanyakan masyarakat Indonesia. Lalu seolah olah kita dibuat ‘lupa sejenak’ bahwa di Indonesia juga banyak barang barang berkualitas tinggi yang tidak kalah keren dengan merek luar. Bahwa dengan membeli produk lokal juga berarti turut memberikan ‘penghasilan’ bagi para pengrajin lokal. Bukan hanya dari sisi materi akan tetapi ikut support secara non materi kepada para pengrajin lokal untuk terus berkarya atas nama Indonesia melalui barang buatannya. Selain itu, dengan cara mempromoikan barang handmade Indonesia berarti kamu ikut andil dalam melestarikan kearifan lokal yang ada. Bukankah itu hal mudah untuk dilakukan, kawan? Apalagi di era digitalisasi seperti ini. Sudah terlalu banyak orang yang memamerkan barang merek luar harga selangit di media sosial dan bangga didalamnya. Sudah terlalu banyak juga orang yang tidak mengetahui bahwa Indonesia juga memiliki banyak pengrajin lokal kualitas tinggi yang tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Yuk, cintai produk lokal Indonesia. Apapun itu barangnya dan merasa bangga didalamnya.

Nah bagaimana sih cara menemukan barang barang handmade khas Indonesia? Misal jaket kulit khas Garut, batik khas Pekalongan atau kain tenun khas Sumba. Apa perlu kita kesana untuk membeli barang barang tersebut? Belum lagi jika sudah sampai sana, apa bisa kita segera bertemu dengan pengrajin lokal yang benar benar membuat barangnya sendiri? Jika memang seperti itu, rasa rasanya perlu cost tambahan hanya untuk membeli satu produk handmade khas Indonesia.  “Yaudah beli online aja, udah ga zaman kali sekarang beli sesuatu langsung ke lokasi. Lama dan ribet” Memang sih saat ini marak sekali marketplace yang menjual beragam barang secara online. Baik barang dari dalam bahkan luar negeri sekalipun. “Lalu apa ada marketplace khusus barang handmade?” Biasanya para pengrajin lokal di Indonesia memang masih sangat tradisional dalam memasarkan barangnya. Dan hal ini menjadi sangat wajar bagi kita (konsumen) yang merasa kesulitan dalam menemukan barang handmade asli pengrajin dengan kualitas terbaik di Indonesia. Sehingga akhirnya kembali membeli produk luar yang ada di banyak marketplace Indonesia.

Qlapa.com seolah menjadi solusi dan jawaban dari pertanyaan pertanyaan tersebut. Solusi bagi para pengrajin lokal yang bingung mempromosikan barang hasil buatannya kemana. Qlapa.com bisa dijadikan ‘wadah’ bagi para pengrajin lokal memajangkan hasil karya nya secara online yang dapat dilihat dunia. Qlapa.com juga bisa dijadikan jawaban dari banyak pertayaan orang orang yang ingin membeli barang handmade khas Indonesia dengan mudah dan nyaman. Bisa dibilang, rumahnya produk handmade Indonesia ya Qlapa.com. Ada ribuan produk handmade khas Indonesia yang sudah dipastikan berkualitas, karena pastinya tidak sembarangan bisa menjual produk disana. Ada beragam kategori yang dijual seperti aksesoris, pakaian, kecantikan hingga yang paling terbaru ialah makanan. Bukan hanya tentang mencari produk handmade, membeli, membayar dan selesai. Akan tetapi lebih dalam dari itu, yaitu ikut mengapresiasi para pengrajin lokal yang ada di Indonesia dan membawanya ke ranah Internasional.  Menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia memang keren sebagaimana seharusnya. Hanya belum banyak saja yang mengetahui dan menyadarinya. Tidak banyak pelaku usaha di Indonesia yang memberikan perhatiannya kepada para pengrajin lokal atau mengangkat kearifan lokal Indonesia. Terimakasih Qlapa.com sudah menginspirasi dan benar benar menjadi rumah produk handmade Indonesia. Mari cintai produk lokal bersama Qlapa.com :)



Bogor, 20 Maret 2018

Read More

Total Tayangan Halaman

NungaNungseu. Diberdayakan oleh Blogger.